Mari Sebarkan Cinta Untuk Semua Ibu Menyusui!

22.14.00


"Anaknya ASI nggak nih?"
"Anaknya masih ASI?"
"Anaknya ASI sampe umur berapa?"

Mari Sebarkan Cinta Untuk Semua Ibu Menyusui! - Bu-ibu yang sudah memiliki anak, apakah kalian sudah kenyang dengan pertanyaan diatas? Kalo aku sendiri, sebagai ibu dengan dua anak, sesungguhnya udah cukup kenyang banget sama pertanyaan-pertanyaan diatas. Pertanyaan ini sesungguhnya akan memunculkan perdebatan panjang kalo ditanyakan di jaman sekarang, khususnya kalo jawabannya si anak minum sufor.

Baca juga tulisan Kak Istiana Sutanti tentang ASI: ASI dan Perkembangan Media Sosial

My Confession about ASI

Sesungguhnya dengan berat hati dan takut di-bully, disini aku mau mengatakan bahwa Una, anak pertama aku nggak lulus ASIX dan minum sufor di usia 3 bulan. 

Sebelum ada yang mau nge-judge, mari dengarkan dulu apa penyebabnya. Waktu itu aku melahirkan Una saat masih kuliah semester 4 di kampus tercinta. Dan karena kampus sistem SKSnya paketan, jadi aku memutuskan untuk nggak ambil cuti melahirkan, cuma ijin nggak masuk selama 4 kali pertemuan aja, alias 1 bulan aja. 2 minggu aku ambil sebelum melahirkan, dan 2 minggu aku ambil setelah melahirkan. 

Dengan masalah puting rata, sesungguhmya masa-masa awal menyusui Una memaang cukup 'berdarah-darah', tapi i'm not a quitter! Alhamdulillah suami dan keluarga mendukung banget untuk ASIX, jadinya alasan sulit menyusui karena puting rata bukan penyebab aku ngasih sufor ke Una.

Jadi waktu itu, setelah aku kembali ngampus di umur Una 2 minggu, aku menyadari bahwa, kamar mandi kampus nggak mendukung sebagai tempat pumping ASI. Waktu itu di kampus cuma ada dua bilik kamar mandi, satu untuk laki-laki dan satu perempuan. Kampus aku memang kampus kecil, satu angkatan kurang lebih 100 orang, dan sebagai kampus Diploma III, yang berarti ada 3 angkatan dalam 1 kampus, jumlah mahasiswanya kurang lebih 300 orang. Dan kampus kecil itu memang cuma punya dua bilik kamar mandi. (FYI: Itu tahun 2010 ya, kalo sekarang mah gedung kampusnya udah pindah ke gedung besar depan stasiun TVnya, dengan kamar mandi yang luas, bersih dan banyak biliknya. Hihi.)

Dan apakah aku menyalahkan kampus aku karena itu? Ya nggak dong ya, waktu itu aku jadi mahasisiwi pertama yang udah memiliki anak di kampus. Jadi aku maklum banget kalo kampus nggak memperhatikan aspek-aspek pentingnya tempat untuk pumping ASI.

Sesungguhnya kamar mandi kampus cukup bersih walaupun nggak luas, tapi tetep aku nggak tega ngebayangin bakal mompa ASI yang akan diminumkan ke Una di dalam kamar mandi itu. :') Belom lagi kalo ada yang ngetok-ngetok kamar mandi pas aku didalem, mompa ASI kan ngga bisa sebentar. Akhirnya, akupun cuma mompa ASI sebelum berangkat dan setelah pulang kuliah.

Dan itu nggak cukup, hingga akhirnya dengan berat hati akupun beli susu formula untuk Una diusianya 3 bulan. Sedih nggak sih nggak bisa ASIX untuk Una? Sedih bangeeet! Tapi aku bakal lebih sedih lagi kalo sepanjang aku kuliah Una nangis dan rewel karena laper dan ngga ada persediaan ASI di rumah. 

Dan aku tau betapa pentingnya bonding yang terbentuk antara ibu dan bayinya di masa-masa menyusui, dan betapa besarnya pengaruh bonding itu untuk masa depan si anak. oleh karena itu, sepulang kuliah aku tetep minumin Una ASI langsung dari aku  sampe umurnya 1 tahun. 

Beda dengan anak pertama, anak kedua aku Rizqi, lahir tepat 3 hari sebelum aku diwisuda. Dan setelah lulus kuliah, akupun memutuskan menjadi ibu rumah tangga dengan dua anak bayi yang beda umurnya cuma 1 tahun aja. Dengan 100% waktu dirumah, akupun sukses memberi ASIX ke Rizqi selama 6 bulan pertama dan lanjut sampe umurnya 4 tahun!

ASI, MomWar dan Social Media

Perkembangan sosial media khususnya facebook di jamannya anak-anak aku baru lahir sama sekarang-sekarang ini juga jauh beda. Jaman sekarang, tombol share di facebook itu udah jadi primadona banget. Ada resep makanan enak klik share. Ada ide-ide unik nan lucu, klik share. Ada berita atau hosip terkini, klik share. Ada info-info terbaru, klik share. Ada meme-memean yang bisa buat nyinyirin orang, klik share. Ada artikel yang cocok untuk nyentil pasangan, klik share.

Dan nggak jarang, ketika ada artikel tentang ASI yang di share disana juga lah ada aja perdebatan alias momwar yang terjadi.

Kaya beberapa saat yang lalu, aku liat seorang rekan blogger yang share tantang acara memperingati pekan ASI yang disponsori oleh produsen botol bayi. Ada aja gitu yang komen kira-kira garis besarnya gini nih, "Wah salah banget nih produsen botol bayi ngadain acara tentang ASI. Dia aja produksi botol dan dot, berarti dia nggak pro ASI dong?" Dan saat itu aku langsung, seriously? Ni orang komen tanpa basa-basi dulu. Dengan bahasa yang menurut aku langsung memancarkan kesinisannya kepada blogger yang sharing acara tersebut.

Memberi ASI setau aku memang paling baik adalah langsung dari si ibu. Paling bagus juga, kalo memang mau memberi ASIP (ASI Perah) adalah dengan sendok yang langsung disuapi ke si bayi, biar nggak bingung puting. Tapi memberi ASI dengan botol menurut aku bisa jadi salah satu opsi juga kok, apalagi kalo si ibu bekerja dan yang ditugasi untuk menjaga si bayi saat si ibu bekerja, orangnya nggak telaten.

Haruskah, sahabat pro ASI tersebut berkomentar dengan sinisnya kepada blogger yang share acara tersebut?

Mari Sebarkan Cinta Untuk Semua Ibu Menyusui!Sesungguhnya, akupun pernah mengalami sebuah pengalaman nggak enak sama seorang bu-ibu yang lagi pumping ASI. Diumur Una 7 bulan, aku sempet magang di salah satu kantor bareng suami. Waktu itu kebetulan suami aku sendiri ya yang ngalamin langsung, ada salah seorang karyawati disana yang lagi bersihin pompa ASInya setelah memompa ASI di kamar mandi. Dengan polosnya suami akupun negur karyawati tersebut dan menyatakan kekagumannya tentang si mbak yang masih mompa ASI ditengah kerjaannya, yang disusul dengan cerita tentang aku yang enggan mompa ASI di kamar mandi dan memilih memberi sufor ke Una saat aku nggak dirumah.

Tanpa diduga-duga, si mbak tersebut langsung ngomel sama suami *untung aku nggak ada disana, udah balik duluan*, di tengah-tengah kantor dan ceramah tentang pentingnya ASI serta payahnya aku jadi ibu yang ngasi sufor ke anaknya. *pukpuk pak suami*

Padahal si mbaknya nggak tau loh alasan kenapa aku ngasih sufor ke Una. Dan dia juga nggak tau kalo aku tetap ngasi Una ASI langsung dari aku kalo aku dirumah. Sejak saat itu aku memilih untuk nggak mendekati kubikel tempat mbak itu bekerja, bukannya apa, aku takut aja dia ngenalin aku sebagai si-ibu-yang-payah-karena-ngasi-sufor dan nyemprot aku disana. Bisa nangis kejer ntar gue :'(

Saat itu aku juga langsung berpikir, haruskah ibu itu menyatakan pendapatnya tentang aku dengan begitu kasar dan sinisnya? Apakah aku ibu yang nista banget karena gagal memberi ASIX ke Una?

Dan sekarang kalo pertanyaan ini muncul, "Anak pertamanya dulu ASI sampe umur berapa tahun?"
Mama Dian pun akan menjawab "Satu tahun"  dengan senyum manis terlebar nan keibuan. Itu fakta kok. Walaupun di umur 3 bulan, Una sempe minum sufor juga. Aku bener-bener enggan memicu momwar dan enggan merelakan diri untuk disemprot secara langsung.

Emang setiap kaum ProASI sinis ya menyampaikan pendapatnya, mama Dian? Ya nggaklah, aku kenal banyak kok kaum-kaum ProASI yang supportif dan super komunikatif banget  dalam menyampaikan pendapatnya tentang ASI kepada bu-ibu yang tampaknya kesulitan memberikan ASI untuk anaknya.

Semua ibu pasti setuju kalo ASI adalah yang terbaik untuk anaknya. Aku pun SETUJU itu. Namun setiap ibu tentunya punya keadaan yang berbeda-beda dan kesulitan yang nggak sama dalam memberi ASI untuk anaknya. Dan yang mereka butuhkan adalah dorongan dan support yang baik, bukannya dorongan dalam bentuk bully-an. 

"You cant really understand another person's experience until you've walk a mile in their shoes"

Memberi ASI sesungguhnya adalah sebuah proses dan perjalanan yang nggak mudah untuk semua ibu menyusui. Kita nggak bisa menjudge seseorang tanpa tau gimana keadaan orang tersebut. Mari mommies, kita sama-sama bergandengan tangan untuk memberikan dorongan yang positif untuk para ibu yang menyusui. Because their need our support not a bully!

You Might Also Like

46 komentar

  1. Nggak kebayang ya ekspresi si Mbak yang marah-marah itu. Kalo aku jadi Mbak Dian mungkin bakal menghindar juga hehe. Males juga diomelin. Soal ASI, aku slalu kampanye ke temen-temenku yang juga lagi menyusui. Tapi kalau memang ada alasan ga bisa menyusui karena ada suatu hal, ya aku ga bisa maksa juga. Thats choice :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya setuju banget Maaaak. Kalo ngasih saran tentunya mesti dengan cara baik-baik lah yaaa. Kalo ngomel gitu yang dikasih saran malah males dengerinnya :(

      Aku pun gitu kalo nanaya temen masalah asi, nanyanya pelan-pelan, kalo emang dia bilang pake sufor, aku pasti menelaah dulu apa alasan dibaliknya. Baru ngobrolin pelan-pelan dan ngasi semangat dia untuk ASI yaaa

      Hapus
  2. Ya itu, kadang seseorang merasa yang paling tau atas urusan orang lain. Merasa paling berhak ngotbahin orang lain, tanpa paham masalahnya. Lagian kalau menurut saya, menyusui anak itu bukan untuk hebat2an dengan ibu lain.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Setuju mbak, entah kenapa bukannya ngasih semangat malah marah-marahin :( Entahlah, rasa-rasanya parenting itu memang never ending competition ya :(

      Hapus
  3. Memang sering sekali kita di intonasi atau di intimidasi orang lain prihal masalah pribadi..tapi biasanya karakter akan muncul dari situ hehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bisa jadi lebih kuat ya mas abis dimarah-marahin.. Hehe

      Hapus
  4. sama kok mba, anakku yang pertama minum ASI nggak sampe 6 bulan, yang kedua lumayan lama, yang ketiga lagi2 nggak sampe 6 bulan. Aku pendukung ASI sejati, namun kalo karena satu dan lain hal nggak bisa kasih ASI yang pilihan terbaik tentu aja sufor kalo menurutku :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yess, setuju mbak. Setiap ibu pasti banget mau yang terbaik untuk anak-anaknya ya.. :)

      Hapus
  5. Jadi mba ini melahirkan waktu masih kuliah yah dan harus gagal ASI karena kamar mandi kampus nya yang hanya 2 bilik jadi gak bisa pumping ASI ? Yang jadi pertanyaan Pumping ASI itu maksudnya Pompa ASI bukan mba ?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mas, karena ngga ada tempat pompa ASI yang mendukung, akhirnya jadi nggak bisa mompa ASI seharian dan stok ASI perah jadi menipis :(

      Hapus
  6. iya banyak yang judge dan sinis kepada ibu yang memberikan sufor, jadi begini mungkin ASI lebih baik karena asi memiliki DHA yang banyak sedangkan sufor tidak mengandung DHA, yang di iklan-iklan tv itu banyak dramatisir menyebutkan Sufor memiliki DHA nyatanya saya pernah baca berita di situs ternyata sufor memang benar-benar tidak mengandung DHA.

    tapi memng tidak semua ibu bisa memberikan ASI, banyak sekali alasan kuat nya ada yang putingnya rata ada juga yang ga keluar asi nya, anak saya juga kadang dikasih asi kadang sufor tergantung situasi aja sih. Meskipun sufor bukan yang terbaik tapi adanya sufor tentu sangat membantu juga, ocehan ibu-ibu yang suka menjudge sufor jangan didengerin aja sih biarkan aja mungkin sifatnya kayak gitu wataknya gitu hehehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Setuju bangeeeeet. Bijak sekali nih mas Hendri. Makasi sudah mampir ya Maaaas :D

      Hapus
  7. Sedih baca perjuangan mbak Dian yang coba konsisten kasih ASI padahal waktu itu sibuk-sibuknya kuliah dan tempat untuk kasih ASI super nggak nyaman. Aku memang belum punya anak mbak, tapi aku mesti kesentuh setiap lihat ibu-ibu yang berjuang untuk kasih ASI.

    Aku setuju dengan keputusan mbak Dian untuk menghindari momwar soal ASI atau Sufor ini. :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yup, momwar itu sama sekali nggak penting ya Maaaak. Senengnya kalo semua calon ibu berpikirnya kaya Mak Riska :)

      Hapus
  8. Jujur yaaa mba. Saya juga gagal memberikan ASI untuk anak mba. Bahkan juga minum sufor. Tapi saya pikir, anak saya sebaiknya meminum ASI. Itu pula yang kemudian saya upayakan :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya bener mba, biar bagaimanapun semua ibu mau yang terbaik untuk anaknya yaa :)

      Hapus
  9. Dian aku blum bisa komen banyak, karena blum mngalami tahapan inih, tapi dari baca ini aku jadi tau ada kondisi puting rata ya,?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mbul, putingnya belum keluar gitu, jadi anaknya susah ngisep ASInya.. Biasanya sama bidan dibantu ngeluarin pake alat penghisap gitu.. Duh rasanyaaaaa, perih-perih ngiluuuu :')

      Hapus
  10. aku sempet di judge juga karena memberikan ASI pake media botol. sudah dicoba pake cup feeder anakku gak bisa dan ASIP malah tumpah2 secara ASIku kmrn ga begitu banyak sampe penuh satu kulkas jadi aku memilih media dot untuk ASIPnya dan sambil berdoa anakku gak bingung puting, alhamdulillah dia gak bingput. Yaaah namanya hidup kita yg jalanin orang lain yg komentarin kadang suka gemesssh sendiri :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iyaaaaaa, padahal belum tentu semua bayi bingung puting yaaa. Akupun melewati masa-masa ituuu. :')

      Hapus
  11. suami kali bilang, nyesel gw muji emba2 itu ya mak. perjuangan panjang ya, setuju banget sama pandangannya, apapun itu jelas ibu mau yang terbaik buat anaknya,cuma banyak orang mungkin merasa lebih dan pentes untuk ngejudge orang lain. dalem nihhh tulisannya, proud of you mama una

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahahaahhaaa. Iya mak, niatnya mau ramah-ramah sama karyawan sono malah digituin. Hihii. Maaci sudah mampir kesini ya Mak Dew <3

      Hapus
  12. ketinggalan maaak, baru lagi nih desain blognya, suka :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. MAsih yang lama mak Dew, masih kembaran sama mak Dew, beda poto sama header aja kali yaaaaa. Wehehehehee

      Hapus
  13. Balasan
    1. Terima kasih sudah mampir kesini mas :D

      Hapus
  14. Entah suka bingung kenapa bisa ada momwar segala yak ����

    BalasHapus
  15. Bahagianya yang sudah merasakan menyusui anak, aku belum mak :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Semoga lekas diberikan kesempatan ya Maaaaak. Aaaaaamiinn *peluk mak Tuty*

      Hapus
  16. Alhamdulillah aku lulus asix mbak walopun belum sampe 2 tahun, saya memilih untuk tidak judge sana sini karena mungkin masing2 ibu punya alasan tersendiri mengapa tidak bisa dan yakin kalau mereka juga pastinya sudah berusaha

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iyesss, setujuuu. Semua ibu pikirannya mesti kaya mak Ev nih biar nggak ada lagi momwar-momwar nggak penting!

      Hapus
  17. Wah nikah muda ya Mak.. Nikah sambil kuliah. Biasanya anak pertama emang sedikit ASI nya karena ibu baru belajar jadi ibu, jadi masih banyak salah2. Anak pertamaku juga ga ASI ex.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Waaaaah emang gitu kayanya ya Mak, ibu baru jadi masih kagok-kagok gitu yaaa. Tapi biar gimanapun pasti semua ibu mau yang terbaik untuk anaknya kan maaaakkk. Tapi masih ada ajaaa, diluar sana yang hobbynya ngebully bukannya ngesupport :')

      Hapus
  18. Dulu anakku yang pertama ya sufor ya asi sampe 2 tahun. Anak yang ke dua ini masih asi aja.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mak Anis mah memang luar biasaaaa. Semangat ngASInya ya Maaaaak

      Hapus
  19. semuanya berkembang sesuai jamannya ya mba menurutku, termasuk dlm hal pengasuhan anak. mgk dulu jama Rasul mudah mencari biu susu, sekarang gabisa sembarangan karena harus memikirkan nasab, lingkungan dsb. Jadi sufor memang bisa menjadi solusi :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, setuju maaaaak. Tapi tetep ASI yang utama yaaaaa

      Hapus
  20. Bagaimanapun proses dan hasilnya, seorang ibu pasti mengusahakan yang terbaik buat anaknya. Termasuk asupan makanannya. Mau ASIX ataupun nggak, tentulah sudah dipikirkan matang-matang oleh sang orang tua. Semangat terus ya, Mbak.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya Mak, setuju! Semangat terus juga ya Maaaak :D

      Hapus
  21. Baru tau deh, ternyata ada juga yah orang yang sinis dan blak-blakan nyinggung perasaan kayak gitu..

    Dunia per-ibu-an memang penuh intrik hehe.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Memang, dunia bu-ibu memang kejam! Weheheheee

      Hapus
  22. Aduh-aduh... gak kebayang "kejamnya" omongan orang disaat saya nikah dan punya anak nanti.. Tapi bener.. orang mah gampang banget komentar, gak mau tau apa alasannya, yang penting komen dulu.. Bad habit..Pfftt..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hooh. Denger alesannya aja nggak :') Makasi sudah mampir kesini ya Maaaaak

      Hapus
  23. NgASI itu butuh niat besar dan support dari keluarga. Saya bersyukur bisa NgASI hingga 1,5 thn kedua anak saya, walaupun saya memerah ditoilet kantor.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aku selalu kagum sama working mom yeng selalu semangat memberikan ASI untuk anak-anaknya. Aku tau perjuangannya nggak mudah :') Semangat terus ya Maaaaaak

      Hapus

Terima kasih sudah membaca Adriana Dian's Blog dan meninggalkan komentar disini. Silakan tinggalkan link blog lewat pilihan name/URL ya, jadi bisa aku kunjungi balik. Link hidup yang ada pada komentar akan langsung dihapus. Makaciiii❤︎❤︎❤︎