Bagaimana Rasanya Menikah di Umur 19 Tahun? (Catatan setelah 10 tahun menikah!)

00:37:00

Beberapa waktu yang lalu, jagat sosial media dihebohkan dengan kisah yang diceritakan oleh seorang pria usia 25 tahun di channel youtube pribadinya sendiri, tentang proses pernikahannyaa dengan seorang perempuan usia 17 tahun. Bok, masih SMA loh! 

Pasangan ini tidak berasal dari keluarga kaum menengah kebawah, tapi berasal dari keluarga yang strata sosialnya tinggi, SES-nya tipe A. Pernikahannya bahkan diselenggarakan secara mewah dan megah. Dream wedding jaman sekarang banget deh pokoknya!

FYI, sejak September 2019 kemarin DPR telah mengukuhkan bahwa usia minimal perempuan untuk menikah adalah 19 tahun. Udah ada undang-undangnya nih, pernikahan dibawah usia 19 tahun saat ini disebut dengan 'Pernikahan anak', bukan nikah muda lagi sebutannya.

Dan kebetulan banget pasangan yang viral diatas menikah beberapa minggu sebelum UU batas minimal usia menikah ini disahkan. Beruntung sekali~

Dan sekarang pasangan ini tengah menanti kelahiran anak pertamanya. Menikah di umur 17 tahun dan hamil di umur 18 tahun. Semoga ibu dan bayi sehat sehat dan melalui proses melahirkan dengan lancar dan selamat ya.. Aamiin.

Yaudah sih biarin aja, mereka nikah juga nggak ganggu dan nyusahin hidup orang lain kan?

Iyap bener banget, akupun manusia biasa yang juga nggak sempurna. Yang sesungguhnya memang nggak punya hak untuk mengomentari hidup orang lain.

Tapiiii ada satu hal yang ngebuat aku ngerasa berhubungan dengan kisah diatas adalah, karena aku juga menikah di umur 19 tahun, tepatnya 10 tahun yang lalu.

Bedanya dengan pasangan yang viral ini, aku dan suami cuma terpaut usia 1 tahun. Saat itu, kita berdua mahasiswa sekampus-sekelas yang udah berpacaran selama 1,5 tahun dan akhirnya memutuskan untuk menikah di tahun kedua kuliah.

Kita berdua bener-bener memulai dari dibawah 0 banget rasanya. Dan tahun ini alhamdulillah nggak berasa udah memasuki tahun pernikahan yang ke-10. *Elap keringet, elap air mata*



Postingan ini juga sepertinya terinspirasi dari postingan lama di blog ini. Cerita dari Dian di usia 21 tahun, tentang perasaannya menikah muda dan memiliki anak 2 di usia muda. Postingan ini juga jadi salah satu postingan dengan view dan komen organik terbanyak, dan ngebuat aku terus semangat ngeblog sampe sekarang.


Dian di masa-masa itu sungguh manis dan masih polos banget kayanya. Bukan polos yang mudah dibego-begoin, tapi belom cukup makan asam garam pahit-nya kehidupan😂😂😂

Kayanya Dian 10 tahun dari sekarang juga bakal berpikir yang sama ya pas baca postingan ini?😅

8 tahun sejak postingan itu ditulis, tepatnya saat ini di usia 10 tahun pernikahan aku berharap semoga pembaca postingan itu hanya wanita yang sudah 'terlanjur' menikah muda dan sedang mencari seseorang untuk berbagi pengalaman yang sama. Bukan seorang wanita muda yang tengah galau memutuskan untuk menikah muda atau tidak. Karena setelah menjalani 10 tahun pernikahan usia muda, aku benar-benar tidak merekomendasikan pernikahan di bawah usia 21 tahun :')

Jadi udah berubah pikiran nih dari postingan yang pernah ditulis 8 tahun lalu?

Nggak. Sama sekali nggak. Baca postingan itu setelah 10 tahun pernikahan ngebuat aku flashback ke masa-masa pahit-manis di awal menikah. Aku inget banget menuliskan postingan itu dengan jujur dan dengan suasana hati yang bahagia di masa-masa yang membahagiakan. Kalo nggak salah postingan itu ditulis saat suami udah punya kerjaan tetap pertamanya, dan kondisi keuangan kita udah lumayan stabil dibandingkan sebelumnya. Semua yang ada di postingan berasal dari perasaan yang paling tulus dan jujur. 

Sama sekali nggak ada yang ingin aku rubah dari postingan tersebut. Dan postingan ini ada hanya untuk menambahkan beberapa fakta-fakta yang belum aku rasakan tentang pernikahan muda, saat aku menulis postingan tersebut.

Terus kenapa? Emangnya apa aja yang terjadi selama tahun ke-3 hingga tahun ke-10 tahun pernikahan?

BANYAK. BANGET. *mulai horor*

Sekarang aku bakal sharing tentang minus-minusnya menikah muda. CATATAN PENTING: Apa yang aku sharing disini, sepertinya nggak akan bisa disamakan dengan pernikahan-pernikahan muda yang lainnya. Karena setiap pasangan punya keadaan, masalah, dan kelebihannya masing-masing. Jadi masalah yang aku tuliskan disini nggak bisa dipukul rata dengan pernikahan muda yang lain, ya.

1. Pengorbanan

Semua baik-baik aja, semua terasa membahagiakan, tapi tetep rasanya rumput tetangga memang selalu lebih hijau. Dengan jadi satu-satunya mahasiswi yang menikah saat sedang kuliah. Aku juga jadi satu-satunya ibu muda di angkatan, di ruang lingkup pertemanan. 

Di masa-masa itu kalo buka sosmed pasti ngeliat kesibukan temen-temen yang mulai ngelamar kerja disana-sini. Pamer tempat kerja dan kesibukan pekerjaannya. Kehidupan yang berbanding 180 derajat dengan aku yang sibuk di rumah ngurus anak-anak.Dan kebetulan, suami emang lebih menginginkan aku jadi ibu rumah tangga aja. Jadi memang nggak pernah ada opsi jadi working mom sejak awal. 

Sayang banget kan kuliahnya dan gelarnya kalo nggak kerja? Yha gapapah, lumayan lah kuliah dan gelarnya untuk ngisi kolom 'Pendidikan Terakhir Ibu' di formulir daftar sekolah. huehehehehheheeee.

Nikah muda berarti, dateng ke nikahan temen seangkatan dengan bawa anak-anak. Ada masanya cuma aku doang yang bawa anak. Ada juga masa-masa anak-anak aku jadi anak paling besar diantara anak-anak teman seangkatan. *emang udah pasti jadi anak yang paling besar sih ya😅

Ada masa-masa gabisa ikutan kumpul karena mesti jagain anak-anak. Dan pas yang lain udah punya anak juga, kemungkinan nggak akan bisa playdate bareng karena jarak umur anak-anak yang jauh diatas anak-anak temen seangkatan. Saat anak-anak aku udah bisa ditinggal karena udah pada besar dan mandiri, temen-temen lain masih sibuk ngurus anak-anaknya yang masih kecil-kecil jadi susah buat ngumpul lagi.

Saat ini Una Abang udah pada SD, sementara temen-temen seangkatan rata-rata anaknya masih usia balita. Kalo playdate dapat dibayangkan, anak aku ga akan bisa 'main-main bareng' anak-anak temen.  Kebetulan juga Una Abang bukan tipe yang ngemong anak kecil. Huhu. Pasti Una Abang bakal sibuk sendiri berdua kalo bikin playdate bareng temen-temen seangkatan mama Dian😅

Sungguhlah sesungguhnya umur aku termasuk yang paling muda diantara temen seangkatan, tapi sekarang setelah 10 tahun menikah muda, aku jadi yang berasa paling 'tua' diantara yang lainnya. Ehe ehe ehe ehe.

Ngerasa jadi yang 'paling tua' diantara teman-teman seangkatan, tapi tetep jadi yang paling muda diantara buibu temen sekolah anak-anak. Samapi saat ini udah gabung di 2 circle pertemanan buibu yaitu buibu TK dan buibu SD. Daaaaaaan, aku tetap jadi yang paling muda diantara semuanya.

Ini agak PR banget jaman pertama kali nyemplung ke circle pertemanan buibu TK. Karena rata-rata mereka lahir minimal tahun 80-an, dan aku lahir tahun 91. Kebanyang nggak sih, harus bergaul dan berusaha mengakrabkan diri dengan buibu yang usianya rata-rata 5 tahun diatas aku?

Buibu TK waktu itu alhamdulillah welcome-welcome banget. Baik-baik semuanyaaa💗 Permasalahannya ada di dalam diri aku sendiri yang kadang suka bertanya-tanya "Bisakah aku ikrib dengan buibu ini?"

Alhamdulillah akhirnya bisa! Dengan cara termudah yaitu, 'meng-ibu-ibu-kan' diri sendiri. Perlahan-lahan aku mulai membiasakan diri dengan obrolan tentang masakan, rumah tangga, urusan ranjang (yang ini masih belom kebiasa sampe sekarang) (karena buibu ini kadang sudah sangat ekspert dan dalam sekali obrolannya, dan kupingku belom terbiasa😅), KB dan lain lain, dan lain-lainnya. 

Begitu juga dengan circle pertemanan buibu SD. Aku mengulangi pola yang sama. So far sejauh ini mama mama teman sekelas Una dan Abang baik baik sekali. Dan aku selalu nemu beberapa orang yang klop banget untuk diajak ngobrol hal-hal receh. 

Inget inget aja pokoknya, kalo mau nikah muda, persiapkan diri untuk lebih banyak bergaul dengan buibu yang umurnya mungkin agak jauh diatas kita di ruang lingkup pertemanan sekolah anak-anak yaaa~


2. Ekonomi yang belum stabil

Aku dan suami bener-bener mulai dari dibawah 0. Karena kita nikah pas masih sama-sama kuliah. Suami dapat kerjaan tetap pertamanya setelah anak kedua kita lahir tepat beberapa bulan setelah kita lulus kuliah. 

Beruntungnya aku punya suami yang berjuang banget untuk aku dan anak-anak. Sebagai lulusan anak broadcast kerjaan kita ga bakal jauh-jauh dari TV atau production house (PH). 

Suami pertama kali kerja sebagai editor dan kameramen di PH-PH untuk dokumentasi wedding, kemudian jadi editor termuda di sebuah PH besar untuk stasiun TV. Sempet ke Brunei juga, kerja sebagai editor di PH TV disana. 


Balik ke Indo karena nggak bisa ajak aku dan anak-anak kesana, kemudian lanjut freelance di PH-PH dokumentasi wedding. Kemudian gabung ke sebuah perusahaan sebagai desain grafis, dan sekarang alhamdulillah udah jadi manajer desain di perusahaan tersebut. Lagi-lagi, manajer dengan usia paling muda😅

Suami pasti juga punya strugglingnya sendiri di dunia kerjaan yang nggak aku tau dengan pasti. Tapi saat ini kita udah ada di fase kondisi keuangan yang jauh lebih baik dari sebelum-sebelumnya. Semua juga nggak terlepas dari bantuan keluarga kami berdua.

Saat ini aku masih tinggal di rumah orangtua. Kenapa nggak ngontrak rumah sendiri dari awal nikah? Saat itu aku ngerasa nggak cukup PD untuk ngurusin anak sendiri. Saat itu juga aku masih nitipin anak ke mama saat aku kuliah dan PKL. Agak repot ya kalo ngontrak rumah sendiri.

Keinginan buat tinggal mandiri pun selalu ada. Bukannya aku nggak pernah nyoba loh. Aku pernah tinggal di Apartemen pas anak-anak batita. Sungguh nikmat sekali ngurus anak dua sendirian tanpa nanny tanpa ART. Rasanya 24 jam nggak cukup sehari ya, mesti ngurus anak-anak, masak, nyuci baju, beres-beres unit. Benar-benar nikmat yang nggak akan pernah terlupakan seumur hidup!😅

Alhamdulillahnya aku bisa ngehandle semua dengan cukup baik, cuma stress aja pas anak dua rewelnya barengan dan aku sendirian di unit karena suami kerja. Huhuhuhu. 

Saat itu aku dan suami kaya udah mencapai satu goals yang kita idam-idamkan dari awal menikah yaitu tinggal mandiri. Tapi semua berubah saat akhir bulan dan kita menyadari bahwa nggak ada sisa penghasilan suami untuk ditabung. Jadi saat itu penghasilan suami udah ngepas aja untuk biaya sewa Apart dan biaya hidup sehari-hari. Nggak ada tabungan padahal saat itu kita mesti siap-siap juga untuk biaya sekolah Una yang mau masuk Playgroup. 

Akhirnya dengan berat hati ditambah kelegaan yang luar biasa, kita balik lagi ke rumah orantua aku dengan pertimbangan menghemat pengeluaran dan akses yang lebih dekat untuk playgroup Una.


Dibandingkan beli rumah setahun kemudian kita malah memutuskan untuk membeli mobil terlebih dahulu. Tentu saja bukan untuk gaya-gayaan, tapi lebih ke kebutuhan karena saat itu anak dua udah nggak bisa lagi dibawa naik motor. Dan waktu itu ibu mertua juga mesti bolak-balik RS karena harus operasi pengangkatan kista di rahimnya. Jadi untuk lebih memudahkan mobilitas kita berempat dan memudahkan ibu mertua untuk berobat ke RS, akhirnya saat itu kita memutuskan untuk membeli mobil. 

Dan alhamdulillah tahun ini tepat sebelum pandemi, cicilan mobil udah LUNAS! Huhuhuhuhuhuhuu. Bahagia. Banget. Setelah ini tentunya aku dan suami kepikiran untuk beli rumah. Tapi kita berdua sepakat untuk punya rumah di Jakarta, biar nggak jauh-jauh dari sekolah dan tempat kerja suami. Tapi tau kan rumah di Jakarta ngga ada yang murah, sampe sekarang pun kita nggak tau gimana caranya bisa beli rumah di Jakarta. Huahaahahhahahahahahahaaaaa. Niat, doa dan ikhtiar dulu aja ya pokoknya!

Lagi dan lagi rumput tetangga memang selalu terlihat lebih hijau, ya. Begitupun aku melihat kehidupan teman-teman seangkatan di sosial media. Rata-rata udah pada punya rumah sendiri, keren keren sekaliiiii. 

Dari situ aku mengambil kesimpulan, kayanya memang beda ya menikah muda dan menikah di usia matang. Untuk pasangan yang menikah di usia yang matang, sepertinya punya kondisi keuangan yang lebih stabil dibandingkan aku dan suami yang memulai dari dibawah 0. 

3. Godaan dari luar dan dalam

5 tahun pertama katanya merupakan masa-masa pernikahan yang terberat. Lalu apakah tahun ke-6 dan seterusnya masalah-masalah yang menimpa akan lebih ringan? TENTU SAJA TIDAK! Bahkan masalah-masalahnya bisa lebih berat dari 5 tahun pertama. Tapi masalah di tahun ke 6 dan seterusnya akan terasa lebih mudah dihadapi karena kita sudah melewati uji kekompakan dan kasih sayang di 5 tahun pertama. Jadi semua masalah yang kita hadapi di 5 tahun pertama, akan jadi 'bekal' kekuatan untuk menghadapi masalah ditahun ke 6 dan seterusnya. *tsailah, sok bijak amat😅

Untuk pasangan yang nikah muda, pasti cobaan di 5 tahun pertama bakal terasa berat karena ego di usia muda masih berapi-api banget. Butuh banyak kewarasan, kesabaran, pengorbanan, air mata dan kekuatan cinta kayanya untuk melewati semua masalah di 5 tahun pertama. Pengalaman menghadapi masalah di 5 tahun pertama pernikahan di usia muda  kayanya aku tulis terpisah aja ya, bakal super panjang kalo ditulis disini😅

Oh iya, permasalahan lain tentang rumput tetangga. Ada kalanya rumput tetangga mati dan keadannya jauh lebih buruh dari rumput kita sendiri. Kadang selain ngebuat aku jadi bersyukur (atas rumput sendiri yang masih cukup hijau), juga ngebuat aku insecure.

Beberapa sepupu yang usianya sepantaran aku dan suami juga, memutuskan juga untuk menikah muda di bawah usia 20 tahun. Semuanya keliatan baik-baik aja sampe akhirnya mereka mengumumkan perceraian mereka. Dan perceraian mereka jadi suatu pertanyaan besar di kepala aku. Kenapa? Ada Apa? Nggak bisakah mereka bertahan? Apa aku akan berakhir seperti itu juga?

Sebenarnya hal ini sih cuma ketakutan aku sendiri, yang ngebuat aku ngerasa berjalan di atas lantai kaca. Sekuat apa kaca ini bertahan, apa kaca ini bakal hancur tiba-tiba?

Aku juga nggak ngerti kenapa sampai sekarang masih sering dihinggapi ketakutan-ketakutan seperti itu saat melihat orang-orang di usia sepantaran aku bercerai. Mungkin cuma ketakutan dan ke-over-thingking-an aku ajah. Tapi semoga lantai kaca ini tetap kuat bertahan dan kelak akan jadi lantai marmer yang lebih kuat untuk aku injak, ya.

Kemudian, godaan perselingkuhan. Ini sih ya, nggak cuma mengancam pasangan yang menikah dari usia muda aja, tapi juga pernikahan di segala usia. Godaan-godaan ini udah pasti bakal ada. Lebih perkuat 'benteng' hati dan jiwa aja ya kalo menghadapi masalah ini. Role model aku seandainya menghadapi masalah seperti ini tentu saja Gigi-nya Raffi Ahmad, beberapa tahun yang lalu kabar perselingkuhan suaminya tersebar hingga ke seluruh negeri, tapi dia masih tetap kuat dan bertahan sampai sekarang. Keren sekaliiii~

[Baca juga: Selingkuh]

Semoga kamu, yang saat ini sedang menghadapi masalah ini, tetap kuat ya. Aku nggak memaksakan kamu untuk bertahan, tapi semua masalah selalu punya jalan keluar dan semoga kamu diberikan jalan keluar yang terbaik untukmu dan untuk keluargamu ya.. Aamiin!

Yang terkhir dari poin godaan ini adalah masalah yang sumbernya dari keluarga besar. Ini yang kadang nggak bisa kita perkirakan ya. Aku dan suami kayanya sepakat untuk fokus ke keluarga kecil kami aja saat menghadapi masalah ini. Karena masalah dari keluarga besar biasanya ada diluar kendali kita berdua. Lebih baik fokus ke dalam hal yang bisa kita kendalikan aja, seperti pikiran-pikiran kita sendiri. It works lah, karena pada akhirnya yang bisa mengendalikan jalan pernikahan kita ya cuma aku dan suami aja, kan?

Baiklah, untuk saat ini, kayanya cukup 3 poin diatas aja yang aku tuliskan, ya. Mungkin aku bakal bikin tulisan semacam ini lagi di tahun ke 20 pernikahan? Aamiin.. Doakan saja yaaa~

Semoga yang berniat nikah muda juga dan udah mampir ke tulisan aku sebelumnya, menjadikan tulisan ini sebagai bekal dalam menjalani pernikahan muda-nya nanti. Untuk yang sudah menikah muda, ketahuilah bahwa aku juga merasakan semua yang kamu rasakan, kamu pasti bisa melewati semuanya dengan baik! Aamiin.. *peluk jauh*


Dibalik semua cobaan-cobaan diatas, aku bersyukur sekali mampu melewati 10 tahun pernikahan dan sampai ditahun ke 10 ini dengan baik :') Alhamdulillah.. Jadi kalo ada yang iri liat 'rumput di pekaranganku', percayalah sesungguhnya warnanya nggak sehijau yang kamu lihat kok😉

Sampai disini dulu deh, semoga tulisan ini bermanfaat untuk pembacanya yaaaaaaa. Aamiin.. Untuk yang mau sharing-sharing tentang pengalaman menikah muda, atau mau tanya-tanya tentang hal-hal seputar menikah muda, boleh langsung aja komen di bawah ini yaaaa. InsyaaAllah akan aku balas secepatnya! 

1 comment on "Bagaimana Rasanya Menikah di Umur 19 Tahun? (Catatan setelah 10 tahun menikah!) "
  1. tos sesama nikah muda.. aku nikah umur 25 lebih 1 bulan dan istri 23 kurang 1 bulan,, ya gak muda-muda amat sih :D

    -traveler paruh waktu

    ReplyDelete

Terima kasih sudah membaca Adriana Dian's Blog dan meninggalkan komentar disini. Silakan tinggalkan link blog lewat pilihan name/URL ya, jadi bisa aku kunjungi balik. Link hidup yang ada pada komentar akan langsung dihapus. Makaciiii❤︎❤︎❤︎

Custom Post Signature

Custom Post  Signature