Me-Time Review : Film Breakfast at Tiffany's

10.32.00

Assalamu'alaikum :)

Me Time Review: Film Breakfast at Tiffany's. It's Mama Dian's me time! Sebagai ibu rumah tangga beranak dua dengan waktu me-time yang nggak banyak, me time aku masih seputaran nulis, nonton film, baca buku, gegoleran main hp, dan nonton drama korea. Dan di postingan kali ini, aku mau mereview tentang film yang aku tonton di me-time kemarin.


Breakfast at Tiffany's (1961)

Seorang sosialita muda New York tertarik dengan seorang pria muda yang baru saja pindah ke gedung apartemennya.

Diangkat dari novel karya Truman Capote. Film yang berdurasi 1 jam 55 menit ini bergenre drama komedi romantis. Dengan dua pemeran utamanya, Audrey Hepburn sebagai Holly Golightly dan George Peppard sebagai Paul Varjak.  Film ini memenangkan dua penghargaan Oscar untuk kategori Best Music-Original Song dan Best Music-Scoring of a Dramatic ar Romantic Picture. Dan tiga nominasi dalam kategori Best Actress in Leading Role, Best Writing dan Best Art Direction.

***

Poster filmnya yang super jadul, nggak menghalangi niat aku untuk nonton film yang melambungkan nama Audrey Hepburn ini. Awalnya sih agak ragu ya pas mau mulai nonton film ini. Kualitas gambarnya jauh dari kualitas gambar drama korea yang biasa aku tonton. *yaiyalah, kan beda jamaaaannn* Tapi adegan awal di film ini, jadi magnet tersendiri untuk aku nerusin nonton film ini.

Breakfast at Tiffany's, awalnya aku kira film ini bercerita tentang kehidupan seorang gadis yang bernama Tifffany dan kehidupan mewahnya. Tapi ternyata, awal cerita dibuka dengan adegan sebuah taksi yang menurunkan seorang wanita muda yang terlihat sangat berkelas. Audrey Hepburn turun dari taksi itu dengan gaun dan perhiasan mewahnya. Turun dimana?  


Tiffany and Co.


Iya. Tiffany and Co yang jualan perhiasan itu! Dengan perlahan Audrey Hepburn (yang saat itu aku belom tau siapa nama karakternya di film ini) jalan secara anggun dengan dress lengkap beserta high heels, kacamata hitam dan segala aksesoris pendukungnya ke depan salah satu etalase kaca Tiffany and Co ini. Dengan lembut dan anggun ia mengeluarkan isi dari kantong kertas yang dia bawa. Yang ternyata isinya adalaaaah roti (Danish pastries ternyata) dan kopi. Ia pun mulai makan dengan tenang sembari melihat-lihat perhiasan di depan etalase itu. Yak, inilah dia Sarapan di depan Tiffany...



Can you guess what happen next?

Cerita pun kemudian disambung oleh poin penting dimana Holly Golightly bertemu dengan Paul Varjak di apartemennya. Paul Varjak, seorang laki-laki muda yang berwajah tampan dan berpenampilan baik-baik ini adalah penghuni baru, yang baru pindah ke lantai atas apartemen Holly. Paul adalah seorang penulis yang telah menerbitkan sebuah buku, dan telah vakum menulis selama 5 tahun. Meskipun telah vakum menulis selama 5 tahun, Paul tetap bisa hidup nyaman di sebuah apartemen full furnished berinterior mewah, karena profesi sampingan Paul adalah 'berondong'  seorang wanita kaya yang telah berkeluarga.

Paul Varjak
Dan Holly, kepikiran nggak sih apa pekerjaan cewek cantik anggun berkelas dan eksentrik yang ternyata hobinya adalah sarapan-di-depan-etalase-toko-perhiasan-sambil-memandangi-perhiasan-perhiasan-mewah-yang-ada-disana? Karena penasaran, aku pun nerusin nonton film jadul ini.

Holly di awal pertemuannya dengan Paul, bercerita banyak tentang dirinya. I love this part. Padahal awalnya Paul cuma mau pinjem telepon di apartemennya Holly. Tapi kemudian Holly malah bercerita panjang lebar tentang dirinya. Nggak cuma penonton aja ya yang dibuat penasaran, tapi dari sini, keliatan kalo Paul mulai penasaran sama Holly.

Pertemuan pertama Paul dan Holly

Holly bercerita tentang kunjungan mingguannya ke Sing Sing, nama yang lucu ya untuk penjara. Iya, setiap minggu tepatnya hari kamis, Holly harus pergi ke penjara mengunjungi Sally Tomato, seorang bos mafia, untuk menyampaikan 'pesan cuaca' dari pengacaranya. Dan ia dibayar 100 dollar untuk setiap pesan yang ia sampaikan. Walaupun menurut Holly jumlah itu masih terbilang kecil karena setiap ia pergi dengan seorang laki-laki, laki-laki itu akan membayarnya 50 dollar untuk ruang rias dan 50 dollar untuk uang taksi. Apa yang Holly lakukan di ruang rias sehingga ia dibayar 50 dollar? Semacam gadis panggilan kah? Aku pun masih bingung ya tentang ini. Yang jelas, fansnya Holly itu bejibunn. Dan semuanya memang rata-rata laki-laki tua kaya. Karena memang Holly hanya mengincar laki-laki kaya. Impian Holly adalah memiliki tempat seperti Tiffany, tempat yang membuat hatinya tenang walaupun di hari-hari terburuknya. 

 Holly juga memiliki seorang Agen (semacam manager artis mungkin ya?). Agen itulah yang telah menemukan Holly, ia menyadari pesona serta kecantikannya yang belum terasah dan kemudian melatih gaya bicaranya selama setahun. Namun sayangnya, menurutnya Holly tidak tertarik untuk menjadi seorang artis. Agen itupun hanya bertugas memperkenalkan Holly ke orang-orang penting untuk memperluas relasi Holly. (Relasi untuk mencari pria-pria kaya ya sepertinya?)

Bagian selanjutnya yang semakin ngebuat aku susah berenti nonton film ini adalah saat dimana datang seseorang dari masa lalu Holly yang meminta bantuan Paul agar bisa membantunya bicara kepada Holly. Ternyata Holly juga punya masa lalu yang suram loh.

Terus gimana kelanjutan ceritanya? Bisa ketebak dong ya pasti kisah selanjutnya tentu tentang romansa antara Holly dan Paul. Cukup bisa dibilang tarik ulur ya. Di satu sisi Paul mencintai Holly hingga ia meninggalkan wanita kayanya, namun di sisi lain Holly (walaupun ia juga tertarik kepada Paul) tentu saja menolak Paul karena ia bukan pria kaya yang bisa memberikan Holly tempat seperti Tiffany.

Cukup sampai sini aja ya review tentang ceritanya, karena aku  nggak mau ngasih spoiler disini. Tapiiiiii..... Endingnya bahagia kok! :)

***

6 Fakta Unik Tentang Breakfast at Tiffany's

Sebenarnya sang penulis novel, Truman Capote mengharapkan Marylin Monroe yang memerankan tokoh Holly (Marylin Monroe sempat tertarik dengan tawaran ini, namun kemudian menolaknya karena khawatir karakter Holly Golightly akan merusak citra dirinya), yang membuat Audrey Hepburn dikabarkan sangat sadar diri tentang hal ini, sehingga dia merasa kurang nyaman saat Truman Capote mengawasi proses syuting. Tapi memang sepertinya karakter Holly ini memang ditakdirkan untuk Audrey Hepburn ya. She's just perfect fit!



Salut juga untuk pencipta tokoh Holly Golightly ini, yaitu Truman Capote, pengarang novelnya. Semua kebiasaan Holly, keseharian Holly, gaya hidup Holly dan kemisteriusan Holly selalu jadi magnet untuk aku sendiri. Walaupun kabarnya, terjadi perubahan yang cukup signifikan antara karakter Paul Varjak di novel dan filmnya (Paul Varjak lebih 'bandel' di novelnya). Filmnya tetap oke kok, tapi agak berasa juga sih kok berondong tante-tante agak kalem ya x).  Kabarnya pun mengatakan bahwa sebenarnya awalnya directornya nggak setuju loh kalo George Peppard yang memerankan Paul Varjak. Walaupun sempat dipandang sebelah mata, setelah film ini George Peppard malah semakin sukses loh.

George Peppard as Paul Varjak

Pssst, kabar lainnya nih karakter Holly di filmnya dibuat lebih kalem juga loh. Karena karakter Holly di novelnya lebih menyerupai wanita panggilan yang liar, peminum, penggoda dan tidak mudah jatuh cinta dengan pria. Walaupun Truman Capote kemudian menjelaskan bahwa Holly bukan wanita panggilan. Holly memang tidak mempunyai pekerjaan tetap. Yang dilakukan Holly untuk mandapatkan uang adalah menemani laki-laki kaya minum dan berpesta. Semacam American Geisha katanya. Nah loh bingung yah? Sama! x)

Ending novel dan filmnya pun beda loh. Ending novelnya lebih ambigu katanya. Duh, jadi penasaran sama novelnya niiihhh. Ada versi terjemahannya ngga ya? 

Lagu Moon River yang dinyanyikan oleh Holly di salah satu adegan dalam film ini, sempat mau di hilangkan oleh  pihak Paramount, rumah produksinya. Tapi kemudian ada tentangan keras entah dari Hepburn atau produsernya. Untung nggak jadi dihilangkan ya, karena ternyata lagu Moon river inilah yang membawa pulang piala Oscar untuk film Breakfast at Tiffany's ini.

Audrey Hepburn dan Givenchy bekerja sama untuk membuat kostum Holly Golightly dalam film ini. Dan Little Black Dress yang menjadi style Holly di film ini, menjadi salah satu fashion icon favorit sepanjang masa sejak saat itu. Pada tahun 2006 gaun iconic ini dilelang dengan harga tertinggi sepanjang sejarah lelang barang-barang memorilibia suatu film. Dan uangnya disumbangkan untuk pembangunan sekolah di Calcutta.

Audrey Hepburn and her little black dress


***

Sebenernya film ini cuma semacam film cheesy romance biasa. Tapi penampilan Audrey Hepburn sebagai Holly Golightly ngebuat film ini jadi luar biasa. Mulai dari cara bicaranya, tutur katanya yang cerdas dan penampilannya yang nggak bisa dipungkiri lagi kalo Holly Golightly ini keren pake bangeeeeeettttt. Paket lengkap pokoknya. Cantik, unik, classy, anggun, cerdas, lucu, dan punya style yang tetep ngebuat aku kagum, walaupun aku berada di jaman yang beda. 

Film ini cukup ringan dan memberikan efek bahagia setelah menontonnya. Cocok lah kalo ditonton unuk pengisi waktu me-time. Audrey Hepburn bener-bener cantik yaaaaahhh. Padahal filmnya dibuat 3 bulan setelah dia melahirkan anak pertamanya loh. Bok, gue 3 bulan abis melahirkan anak pertama masih bulet gilak. Audey Hepburn kok bisa tirus gini ya? x)

Dan sebenernya setelah aku googling lebih dalam lagi, ternyata drama dibalik filmnya seru banget loh! Mihihiii.

Oke deh, segini dulu ya Me Time Review: Film Breakfast at Tiffany's. Kalo mungkin ada tulisan aku yang salah, boleh loh koreksi di kolom comment. Setelah aku sadari, ternyata tahun film ini release sama kaya tahun lahirnya mama. Mama juga belom pernah nonton mungkin ya? Jadi kepikiran nih, apa nggak ada ya produser yang mau ngebuat versi barunya? Bakal kaya apa ya Holly Golightly yang ada di tahun 2016? Just wondering :)

Thank you for walking here :)
Wassalamu'alaikum

You Might Also Like

7 komentar

  1. Baru tau kalau ini ada filmnya. Hehe. Bukunya juga belum baca sih. Mau cari filmnya dulu, aah. :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Langsung googling aja Mak. Ihihi

      Hapus
  2. Aku sering denger tentang penjara Sing Sing. Perjara paling sadis sepanjang masa ya hihihihi. Suka sekali liat Audrey, tapi belum pernah sekalipun nntn filmnya. Ahhh aku ketinggalannnn

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya Maaak, aku juga karena penasaran sama Audrey Hepburn makanya nonton film ini. Cantiknya emang beneran luar biasa yaaaaa

      Hapus
  3. Udah lama penasaran sama Audrey Hepburn ini tapi belum pernah sekalipun nonton filmnya. Habis baca review ini jadi pengen nonton juga deh. Untung aja mak ngga ngasih spoiler, jadi tetep penasaran dan semangat kalo nontonnya ntar nih :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya Mak, bagus filmnya.. Apalagi Audrey Hepburn nya, badaaaaiiii. Hihihihi

      Hapus

Terima kasih sudah membaca Adriana Dian's Blog dan meninggalkan komentar disini. Silakan tinggalkan link blog lewat pilihan name/URL ya, jadi bisa aku kunjungi balik. Link hidup yang ada pada komentar akan langsung dihapus. Makaciiii❤︎❤︎❤︎