Showing posts with label #Pernikahan. Show all posts
Showing posts with label #Pernikahan. Show all posts

Beberapa waktu yang lalu, jagat sosial media dihebohkan dengan kisah yang diceritakan oleh seorang pria usia 25 tahun di channel youtube pribadinya sendiri, tentang proses pernikahannyaa dengan seorang perempuan usia 17 tahun. Bok, masih SMA loh! 

Pasangan ini tidak berasal dari keluarga kaum menengah kebawah, tapi berasal dari keluarga yang strata sosialnya tinggi, SES-nya tipe A. Pernikahannya bahkan diselenggarakan secara mewah dan megah. Dream wedding jaman sekarang banget deh pokoknya!

FYI, sejak September 2019 kemarin DPR telah mengukuhkan bahwa usia minimal perempuan untuk menikah adalah 19 tahun. Udah ada undang-undangnya nih, pernikahan dibawah usia 19 tahun saat ini disebut dengan 'Pernikahan anak', bukan nikah muda lagi sebutannya.

Dan kebetulan banget pasangan yang viral diatas menikah beberapa minggu sebelum UU batas minimal usia menikah ini disahkan. Beruntung sekali~

Dan sekarang pasangan ini tengah menanti kelahiran anak pertamanya. Menikah di umur 17 tahun dan hamil di umur 18 tahun. Semoga ibu dan bayi sehat sehat dan melalui proses melahirkan dengan lancar dan selamat ya.. Aamiin.

Yaudah sih biarin aja, mereka nikah juga nggak ganggu dan nyusahin hidup orang lain kan?

Iyap bener banget, akupun manusia biasa yang juga nggak sempurna. Yang sesungguhnya memang nggak punya hak untuk mengomentari hidup orang lain.

Tapiiii ada satu hal yang ngebuat aku ngerasa berhubungan dengan kisah diatas adalah, karena aku juga menikah di umur 19 tahun, tepatnya 10 tahun yang lalu.

Bedanya dengan pasangan yang viral ini, aku dan suami cuma terpaut usia 1 tahun. Saat itu, kita berdua mahasiswa sekampus-sekelas yang udah berpacaran selama 1,5 tahun dan akhirnya memutuskan untuk menikah di tahun kedua kuliah.

Kita berdua bener-bener memulai dari dibawah 0 banget rasanya. Dan tahun ini alhamdulillah nggak berasa udah memasuki tahun pernikahan yang ke-10. *Elap keringet, elap air mata*



Postingan ini juga sepertinya terinspirasi dari postingan lama di blog ini. Cerita dari Dian di usia 21 tahun, tentang perasaannya menikah muda dan memiliki anak 2 di usia muda. Postingan ini juga jadi salah satu postingan dengan view dan komen organik terbanyak, dan ngebuat aku terus semangat ngeblog sampe sekarang.


Dian di masa-masa itu sungguh manis dan masih polos banget kayanya. Bukan polos yang mudah dibego-begoin, tapi belom cukup makan asam garam pahit-nya kehidupan😂😂😂

Kayanya Dian 10 tahun dari sekarang juga bakal berpikir yang sama ya pas baca postingan ini?😅

8 tahun sejak postingan itu ditulis, tepatnya saat ini di usia 10 tahun pernikahan aku berharap semoga pembaca postingan itu hanya wanita yang sudah 'terlanjur' menikah muda dan sedang mencari seseorang untuk berbagi pengalaman yang sama. Bukan seorang wanita muda yang tengah galau memutuskan untuk menikah muda atau tidak. Karena setelah menjalani 10 tahun pernikahan usia muda, aku benar-benar tidak merekomendasikan pernikahan di bawah usia 21 tahun :')

Jadi udah berubah pikiran nih dari postingan yang pernah ditulis 8 tahun lalu?

Nggak. Sama sekali nggak. Baca postingan itu setelah 10 tahun pernikahan ngebuat aku flashback ke masa-masa pahit-manis di awal menikah. Aku inget banget menuliskan postingan itu dengan jujur dan dengan suasana hati yang bahagia di masa-masa yang membahagiakan. Kalo nggak salah postingan itu ditulis saat suami udah punya kerjaan tetap pertamanya, dan kondisi keuangan kita udah lumayan stabil dibandingkan sebelumnya. Semua yang ada di postingan berasal dari perasaan yang paling tulus dan jujur. 

Sama sekali nggak ada yang ingin aku rubah dari postingan tersebut. Dan postingan ini ada hanya untuk menambahkan beberapa fakta-fakta yang belum aku rasakan tentang pernikahan muda, saat aku menulis postingan tersebut.

Terus kenapa? Emangnya apa aja yang terjadi selama tahun ke-3 hingga tahun ke-10 tahun pernikahan?

BANYAK. BANGET. *mulai horor*

Sekarang aku bakal sharing tentang minus-minusnya menikah muda. CATATAN PENTING: Apa yang aku sharing disini, sepertinya nggak akan bisa disamakan dengan pernikahan-pernikahan muda yang lainnya. Karena setiap pasangan punya keadaan, masalah, dan kelebihannya masing-masing. Jadi masalah yang aku tuliskan disini nggak bisa dipukul rata dengan pernikahan muda yang lain, ya.

1. Pengorbanan

Semua baik-baik aja, semua terasa membahagiakan, tapi tetep rasanya rumput tetangga memang selalu lebih hijau. Dengan jadi satu-satunya mahasiswi yang menikah saat sedang kuliah. Aku juga jadi satu-satunya ibu muda di angkatan, di ruang lingkup pertemanan. 

Di masa-masa itu kalo buka sosmed pasti ngeliat kesibukan temen-temen yang mulai ngelamar kerja disana-sini. Pamer tempat kerja dan kesibukan pekerjaannya. Kehidupan yang berbanding 180 derajat dengan aku yang sibuk di rumah ngurus anak-anak.Dan kebetulan, suami emang lebih menginginkan aku jadi ibu rumah tangga aja. Jadi memang nggak pernah ada opsi jadi working mom sejak awal. 

Sayang banget kan kuliahnya dan gelarnya kalo nggak kerja? Yha gapapah, lumayan lah kuliah dan gelarnya untuk ngisi kolom 'Pendidikan Terakhir Ibu' di formulir daftar sekolah. huehehehehheheeee.

Nikah muda berarti, dateng ke nikahan temen seangkatan dengan bawa anak-anak. Ada masanya cuma aku doang yang bawa anak. Ada juga masa-masa anak-anak aku jadi anak paling besar diantara anak-anak teman seangkatan. *emang udah pasti jadi anak yang paling besar sih ya😅

Ada masa-masa gabisa ikutan kumpul karena mesti jagain anak-anak. Dan pas yang lain udah punya anak juga, kemungkinan nggak akan bisa playdate bareng karena jarak umur anak-anak yang jauh diatas anak-anak temen seangkatan. Saat anak-anak aku udah bisa ditinggal karena udah pada besar dan mandiri, temen-temen lain masih sibuk ngurus anak-anaknya yang masih kecil-kecil jadi susah buat ngumpul lagi.

Saat ini Una Abang udah pada SD, sementara temen-temen seangkatan rata-rata anaknya masih usia balita. Kalo playdate dapat dibayangkan, anak aku ga akan bisa 'main-main bareng' anak-anak temen.  Kebetulan juga Una Abang bukan tipe yang ngemong anak kecil. Huhu. Pasti Una Abang bakal sibuk sendiri berdua kalo bikin playdate bareng temen-temen seangkatan mama Dian😅

Sungguhlah sesungguhnya umur aku termasuk yang paling muda diantara temen seangkatan, tapi sekarang setelah 10 tahun menikah muda, aku jadi yang berasa paling 'tua' diantara yang lainnya. Ehe ehe ehe ehe.

Ngerasa jadi yang 'paling tua' diantara teman-teman seangkatan, tapi tetep jadi yang paling muda diantara buibu temen sekolah anak-anak. Samapi saat ini udah gabung di 2 circle pertemanan buibu yaitu buibu TK dan buibu SD. Daaaaaaan, aku tetap jadi yang paling muda diantara semuanya.

Ini agak PR banget jaman pertama kali nyemplung ke circle pertemanan buibu TK. Karena rata-rata mereka lahir minimal tahun 80-an, dan aku lahir tahun 91. Kebanyang nggak sih, harus bergaul dan berusaha mengakrabkan diri dengan buibu yang usianya rata-rata 5 tahun diatas aku?

Buibu TK waktu itu alhamdulillah welcome-welcome banget. Baik-baik semuanyaaa💗 Permasalahannya ada di dalam diri aku sendiri yang kadang suka bertanya-tanya "Bisakah aku ikrib dengan buibu ini?"

Alhamdulillah akhirnya bisa! Dengan cara termudah yaitu, 'meng-ibu-ibu-kan' diri sendiri. Perlahan-lahan aku mulai membiasakan diri dengan obrolan tentang masakan, rumah tangga, urusan ranjang (yang ini masih belom kebiasa sampe sekarang) (karena buibu ini kadang sudah sangat ekspert dan dalam sekali obrolannya, dan kupingku belom terbiasa😅), KB dan lain lain, dan lain-lainnya. 

Begitu juga dengan circle pertemanan buibu SD. Aku mengulangi pola yang sama. So far sejauh ini mama mama teman sekelas Una dan Abang baik baik sekali. Dan aku selalu nemu beberapa orang yang klop banget untuk diajak ngobrol hal-hal receh. 

Inget inget aja pokoknya, kalo mau nikah muda, persiapkan diri untuk lebih banyak bergaul dengan buibu yang umurnya mungkin agak jauh diatas kita di ruang lingkup pertemanan sekolah anak-anak yaaa~


2. Ekonomi yang belum stabil

Aku dan suami bener-bener mulai dari dibawah 0. Karena kita nikah pas masih sama-sama kuliah. Suami dapat kerjaan tetap pertamanya setelah anak kedua kita lahir tepat beberapa bulan setelah kita lulus kuliah. 

Beruntungnya aku punya suami yang berjuang banget untuk aku dan anak-anak. Sebagai lulusan anak broadcast kerjaan kita ga bakal jauh-jauh dari TV atau production house (PH). 

Suami pertama kali kerja sebagai editor dan kameramen di PH-PH untuk dokumentasi wedding, kemudian jadi editor termuda di sebuah PH besar untuk stasiun TV. Sempet ke Brunei juga, kerja sebagai editor di PH TV disana. 


Balik ke Indo karena nggak bisa ajak aku dan anak-anak kesana, kemudian lanjut freelance di PH-PH dokumentasi wedding. Kemudian gabung ke sebuah perusahaan sebagai desain grafis, dan sekarang alhamdulillah udah jadi manajer desain di perusahaan tersebut. Lagi-lagi, manajer dengan usia paling muda😅

Suami pasti juga punya strugglingnya sendiri di dunia kerjaan yang nggak aku tau dengan pasti. Tapi saat ini kita udah ada di fase kondisi keuangan yang jauh lebih baik dari sebelum-sebelumnya. Semua juga nggak terlepas dari bantuan keluarga kami berdua.

Saat ini aku masih tinggal di rumah orangtua. Kenapa nggak ngontrak rumah sendiri dari awal nikah? Saat itu aku ngerasa nggak cukup PD untuk ngurusin anak sendiri. Saat itu juga aku masih nitipin anak ke mama saat aku kuliah dan PKL. Agak repot ya kalo ngontrak rumah sendiri.

Keinginan buat tinggal mandiri pun selalu ada. Bukannya aku nggak pernah nyoba loh. Aku pernah tinggal di Apartemen pas anak-anak batita. Sungguh nikmat sekali ngurus anak dua sendirian tanpa nanny tanpa ART. Rasanya 24 jam nggak cukup sehari ya, mesti ngurus anak-anak, masak, nyuci baju, beres-beres unit. Benar-benar nikmat yang nggak akan pernah terlupakan seumur hidup!😅

Alhamdulillahnya aku bisa ngehandle semua dengan cukup baik, cuma stress aja pas anak dua rewelnya barengan dan aku sendirian di unit karena suami kerja. Huhuhuhu. 

Saat itu aku dan suami kaya udah mencapai satu goals yang kita idam-idamkan dari awal menikah yaitu tinggal mandiri. Tapi semua berubah saat akhir bulan dan kita menyadari bahwa nggak ada sisa penghasilan suami untuk ditabung. Jadi saat itu penghasilan suami udah ngepas aja untuk biaya sewa Apart dan biaya hidup sehari-hari. Nggak ada tabungan padahal saat itu kita mesti siap-siap juga untuk biaya sekolah Una yang mau masuk Playgroup. 

Akhirnya dengan berat hati ditambah kelegaan yang luar biasa, kita balik lagi ke rumah orantua aku dengan pertimbangan menghemat pengeluaran dan akses yang lebih dekat untuk playgroup Una.


Dibandingkan beli rumah setahun kemudian kita malah memutuskan untuk membeli mobil terlebih dahulu. Tentu saja bukan untuk gaya-gayaan, tapi lebih ke kebutuhan karena saat itu anak dua udah nggak bisa lagi dibawa naik motor. Dan waktu itu ibu mertua juga mesti bolak-balik RS karena harus operasi pengangkatan kista di rahimnya. Jadi untuk lebih memudahkan mobilitas kita berempat dan memudahkan ibu mertua untuk berobat ke RS, akhirnya saat itu kita memutuskan untuk membeli mobil. 

Dan alhamdulillah tahun ini tepat sebelum pandemi, cicilan mobil udah LUNAS! Huhuhuhuhuhuhuu. Bahagia. Banget. Setelah ini tentunya aku dan suami kepikiran untuk beli rumah. Tapi kita berdua sepakat untuk punya rumah di Jakarta, biar nggak jauh-jauh dari sekolah dan tempat kerja suami. Tapi tau kan rumah di Jakarta ngga ada yang murah, sampe sekarang pun kita nggak tau gimana caranya bisa beli rumah di Jakarta. Huahaahahhahahahahahahaaaaa. Niat, doa dan ikhtiar dulu aja ya pokoknya!

Lagi dan lagi rumput tetangga memang selalu terlihat lebih hijau, ya. Begitupun aku melihat kehidupan teman-teman seangkatan di sosial media. Rata-rata udah pada punya rumah sendiri, keren keren sekaliiiii. 

Dari situ aku mengambil kesimpulan, kayanya memang beda ya menikah muda dan menikah di usia matang. Untuk pasangan yang menikah di usia yang matang, sepertinya punya kondisi keuangan yang lebih stabil dibandingkan aku dan suami yang memulai dari dibawah 0. 

3. Godaan dari luar dan dalam

5 tahun pertama katanya merupakan masa-masa pernikahan yang terberat. Lalu apakah tahun ke-6 dan seterusnya masalah-masalah yang menimpa akan lebih ringan? TENTU SAJA TIDAK! Bahkan masalah-masalahnya bisa lebih berat dari 5 tahun pertama. Tapi masalah di tahun ke 6 dan seterusnya akan terasa lebih mudah dihadapi karena kita sudah melewati uji kekompakan dan kasih sayang di 5 tahun pertama. Jadi semua masalah yang kita hadapi di 5 tahun pertama, akan jadi 'bekal' kekuatan untuk menghadapi masalah ditahun ke 6 dan seterusnya. *tsailah, sok bijak amat😅

Untuk pasangan yang nikah muda, pasti cobaan di 5 tahun pertama bakal terasa berat karena ego di usia muda masih berapi-api banget. Butuh banyak kewarasan, kesabaran, pengorbanan, air mata dan kekuatan cinta kayanya untuk melewati semua masalah di 5 tahun pertama. Pengalaman menghadapi masalah di 5 tahun pertama pernikahan di usia muda  kayanya aku tulis terpisah aja ya, bakal super panjang kalo ditulis disini😅

Oh iya, permasalahan lain tentang rumput tetangga. Ada kalanya rumput tetangga mati dan keadannya jauh lebih buruh dari rumput kita sendiri. Kadang selain ngebuat aku jadi bersyukur (atas rumput sendiri yang masih cukup hijau), juga ngebuat aku insecure.

Beberapa sepupu yang usianya sepantaran aku dan suami juga, memutuskan juga untuk menikah muda di bawah usia 20 tahun. Semuanya keliatan baik-baik aja sampe akhirnya mereka mengumumkan perceraian mereka. Dan perceraian mereka jadi suatu pertanyaan besar di kepala aku. Kenapa? Ada Apa? Nggak bisakah mereka bertahan? Apa aku akan berakhir seperti itu juga?

Sebenarnya hal ini sih cuma ketakutan aku sendiri, yang ngebuat aku ngerasa berjalan di atas lantai kaca. Sekuat apa kaca ini bertahan, apa kaca ini bakal hancur tiba-tiba?

Aku juga nggak ngerti kenapa sampai sekarang masih sering dihinggapi ketakutan-ketakutan seperti itu saat melihat orang-orang di usia sepantaran aku bercerai. Mungkin cuma ketakutan dan ke-over-thingking-an aku ajah. Tapi semoga lantai kaca ini tetap kuat bertahan dan kelak akan jadi lantai marmer yang lebih kuat untuk aku injak, ya.

Kemudian, godaan perselingkuhan. Ini sih ya, nggak cuma mengancam pasangan yang menikah dari usia muda aja, tapi juga pernikahan di segala usia. Godaan-godaan ini udah pasti bakal ada. Lebih perkuat 'benteng' hati dan jiwa aja ya kalo menghadapi masalah ini. Role model aku seandainya menghadapi masalah seperti ini tentu saja Gigi-nya Raffi Ahmad, beberapa tahun yang lalu kabar perselingkuhan suaminya tersebar hingga ke seluruh negeri, tapi dia masih tetap kuat dan bertahan sampai sekarang. Keren sekaliiii~

[Baca juga: Selingkuh]

Semoga kamu, yang saat ini sedang menghadapi masalah ini, tetap kuat ya. Aku nggak memaksakan kamu untuk bertahan, tapi semua masalah selalu punya jalan keluar dan semoga kamu diberikan jalan keluar yang terbaik untukmu dan untuk keluargamu ya.. Aamiin!

Yang terkhir dari poin godaan ini adalah masalah yang sumbernya dari keluarga besar. Ini yang kadang nggak bisa kita perkirakan ya. Aku dan suami kayanya sepakat untuk fokus ke keluarga kecil kami aja saat menghadapi masalah ini. Karena masalah dari keluarga besar biasanya ada diluar kendali kita berdua. Lebih baik fokus ke dalam hal yang bisa kita kendalikan aja, seperti pikiran-pikiran kita sendiri. It works lah, karena pada akhirnya yang bisa mengendalikan jalan pernikahan kita ya cuma aku dan suami aja, kan?

Baiklah, untuk saat ini, kayanya cukup 3 poin diatas aja yang aku tuliskan, ya. Mungkin aku bakal bikin tulisan semacam ini lagi di tahun ke 20 pernikahan? Aamiin.. Doakan saja yaaa~

Semoga yang berniat nikah muda juga dan udah mampir ke tulisan aku sebelumnya, menjadikan tulisan ini sebagai bekal dalam menjalani pernikahan muda-nya nanti. Untuk yang sudah menikah muda, ketahuilah bahwa aku juga merasakan semua yang kamu rasakan, kamu pasti bisa melewati semuanya dengan baik! Aamiin.. *peluk jauh*


Dibalik semua cobaan-cobaan diatas, aku bersyukur sekali mampu melewati 10 tahun pernikahan dan sampai ditahun ke 10 ini dengan baik :') Alhamdulillah.. Jadi kalo ada yang iri liat 'rumput di pekaranganku', percayalah sesungguhnya warnanya nggak sehijau yang kamu lihat kok😉

Sampai disini dulu deh, semoga tulisan ini bermanfaat untuk pembacanya yaaaaaaa. Aamiin.. Untuk yang mau sharing-sharing tentang pengalaman menikah muda, atau mau tanya-tanya tentang hal-hal seputar menikah muda, boleh langsung aja komen di bawah ini yaaaa. InsyaaAllah akan aku balas secepatnya! 

Pernikahan, adalah penyatuan dari dua orang dengan dua kepala yang berbeda, dua kebiasaan yang berbeda, dari dua keluarga yang berbeda. Jadi kalo suka berantem-berantem karena beda pendapat mah biasa yaaaa. Tapi seiring berjalannya waktu, aku yakin sih kalo kedua pasangan itu perlahan akan mulai bisa memahami satu sama lain. Memahami kebiasaan berbeda yang dimiliki pasangan. Memahami baik buruknya. Mulai menerima kebiasaan buruknya (yang masih bisa ditolerir) atau mungkin juga mengubah kebiasaan-kebiasaan buruknya menjadi kebiasaan-kebiasaan baik.

Tapi tetep ya, yang namanya dua kepala nggak mungkin bisa selamanya selaras dan sejalan. Pasti ada aja ujian-ujian pernikahan dalam hal-hal kecil yang kita lakukan maupun yang dilakukan pasangan kita. Hal-hal kecil termasuk bebarapa pertanyaan dari suami yang kayanya remeh, namun dampaknya besar dihati para istri. Seperti beberapa pertanyaan di bawah ini niiih~~


 1. "Kamu bisa masak nggak sih?!"

Pertanyaan ini bukan pertanyaan yang berasal dari pasangan yang baru menikah, terus dilanjut dengan jawaban suami "Yaudah gapapa kita jajan diluar aja, aku makan kamu ya sekarang.." Uwuwuwuuuu. Newlywedd emang selalu (sok) sweet~~ *eh kok jadi tulisan ini jadi ngelantur?😂

Pertanyaan ini biasanya ditanya dengan nada yang agak tinggi setelah suami nyobain masakan istrinya yang mungkin rasanya nggak cocok dilidahnya. Kemudian disusul dengan pertanyaan, "Ini masakan kamu cobain dulu nggak sih tadi?" Kemudian istrinya menatap suaminya dengan mata yang berkaca-kaca tapi suami nggak liat lagi mata istrinya yang berkaa-kaca karena udah BT duluan.

Mungkin suaminya nggak mikirin juga ya gimana perjalanan itu bahan-bahan makanan dari pasar dibawah kerumah sampe ada diatas wajan/panci dan kemudian terhidang di atas meja. Belom lagi masaknya mungkin disambi ini itu ya, disambi nyuci atau ngemong anak? Atau mungkin masaknya buru-buru karena anaknya udah keburu rewel minta ini itu ke mamanya.

Dan dibalik entah itu si suami udah lelah banget seharian di kantornya hingga masakan istrinya yang kurang asin atau keasinana dikit langsung semakin ngerusak moodnya, atau mungkin karena masakan si istri yang bener-bener parah rasanya. Ada beberapa jalan lain yang lebih baik untuk mengkritik masakan istrinya, misalnya dengan minta istrinya duduk manis duduk disampingnya dan nyobain masakannya sendiri. Atau mungkin dengan diberi pertanyaan sayang semacam "Sayang, kayanya kamu kebanyakan ngasi garem deh.. Cobain deh sini aku suapin.." *so sweet kan? Uwuwuwuwuuuu*

Dijamin, kalo ngekritiknya dengan cara yang baik dan sweet gitu, besok-besoknya masakan istri pasti bakal lebih enak lagi deeeehhh💖


2. "Seharian dirumah ngapain aja sih?!"

Yak lagi-lagi pertanyaan ini ditanyakan dengan nada yang cukup tinggi disaat suami pulang dan keadaan rumah berantakan. Berantakan banyak sebabnya ya, misalnya si istri masih dalam proses bebenah yang belum selesai karena udah diinterupsi kerjaan rumah lain. Atau karena diberantakin (lagi) sama para krucil. Bisa aja kan sebetulnya rumahnya tadi udah selesai dirapiin sampe kinclong namun para krucil mulai beraksi lagi dengan segala mainan mereka, mamanya mau ngelarang nggak tega juga kan? Kayanya lebih baik mereka sibuk sama mainananya dibanding sama gadgetnya.

Kebetulan aja mungkin suami udah riweuh setengah mati di kantor, pengennya sampe rumah langsung rebahan gitu tanpa keganggu ini itu. Namun kadang memang realita tak seindah ekspektasi ya. Mungkin sebaiknya suami mendengarkan dulu alasan istri kenapa rumahnya amsih berantakan pas dia pulang kantor atau kalo mau cara yang lebih sweet lagi bisa menawarkan bantuan "Sayang, ya ampun berantakn banget, aku bantuin beresin ya.." atau kalo lagi males ikut bantuin beresin cukup bilang "Ya ampun sayang aku pengen banget nih bantuin kamu beresin, tapi aku capek banget ngurus kerjaan di kantor tadi. Aku istirahat duluan ya.." Sambil elus-elus sayang pundaknya istri.

Percayalah pak suami, sesungguhnya kerjaan istri yang notabene ibu rumah tangga, walaupun keliatannya cuma 'seharian dirumah' tapi kerjaannya banyak banget. Nggak berenti bahkan bener-bener bisa berenti kalo semua penghuni rumah udah tidur, baru deh si istri bisa tidur dengan tenang. Jadi hindarilah pertanyaan "Seharian di rumah ngapain aja sih?" Karena saking banyaknya yang dilakuin, kadang kita jadi bingung mau mulai ngelist hal-hal-yang-kita-lakukan-hari-itu darimana. Iya kan bu-ibu?


3. "Jadi uang kamu udah abis? Buat apaan aja?"

Duuuuhhhhhhhhhh. KZL banget nggak sih kalo disuguhkan pertanyaan kaya gini dari suami tercinta? Bukan, bukannya kita nggak bisa jawab ya. Tapiiiii, saking banyaknya pengeluaran disana dan disini jadi bingung mau mulai jawab darimana. Kalopun emang udah ada listnya dan kita bacain ke suami, aku yakin suami juga males dengernya, banyak sih. Panjaaaang. Yang tercatat mah yang pasti-pasti aja macem bayaran sekolah, bayar listrik, atau bayar iuran kebersihan. Nah yang printilannya ini yang bikin pusing, mulai dari beli buah, beli sayur, bumbu dapur, anak minta jajan, beli bahan kue, beli cemilan, beliin krayon anak, beli kaos kaki anak dan ini dan itu. Menjabarkannya butuh perjuangan bukan?😅

Jadi ya sesungguhnya pertanyaan "Uangnya habis untuk apa aja?" adalah suatu pertanyaan yang nggak perlu banget untuk ditanyain. Dan entah kenapa kalo menurut aku sendiri, pertanyaan itu malah menjadi semacam ketidakpercayaan suami kepada istrinya. It feels like pertanyaan lain dari "Kamu boros-borosin untuk yang nggak berguna pasti uangnya kan?"

Duh pak suami, kalo dirumah kamu nggak liat barang-barang baru dari online shop di lemari istri. Mendingan pertanyaan tadi diganti dengan pernyataan "Yaudah sayang, nanti aku transferin lagi ya.." Nggak deh becanda😆😛

Kalo memang si istri menghabiskan uang jatah bulanannya sebelum waktunya mungkin bisa didiskusikan bersama ya, apakah ada post-post pengeluaran yang bisa dihemat lagi. Semua masalah yang didiskusikan berdua tentunya berasa lebih mudah untuk dilewati yaaa.

Nah ketiga pertanyaan diatas selain akan melukai perasaan si istri juga kayanya akan berdampak nggak bagus ke suami, misalnya ditinggal tidur duluan😏😏 Duh mama Dian, apakah ini adalah postingan curcol? Tentunya bukaaan, postingan ini cuma dibuat cuma untuk ngetes kalo nggak cuma aku sendirian kan yang pernah ditanyain hal-hal diatas sama suami? *eh😅*

Intinya adalah, ada banyak kok cara mengkritik yang baik. Daripada lagi akur-akur terus jadi nggak akur cuma karena satu pertanyaan aja, nggak enak banget kaaan? Huhuu. Aku sih yakin, setiap istri pasti mau jadi yang terbaik kok untuk suami, anak-anak dan keluarganya. Dan bukankah pernikahan itu juga sebuah pembelajaran tanpa akhir, yang emang nggak ada sekolahnya? Jadi inshaaAllah semua kesalahan dalam pernikahan yang kita lakukan di hai ini, bisa jadi pengalaman untuk hari selanjutnya supaya menjadi yang lebih baik lagi ya. Aaamiiin.

Dan jadi bu-ibu yang baca ini, pernah juga nggak sih ditanyain 3 pertanyaan diatas sama pak suami? Mari tumpahkan unek-uneknya di kolom komen! Dan untuk bapak-bapak yang mungkin baca tulisan ini juga, pernah menanyakan 3 hal diatas nggak sih pak, sama istri? Terus reaksi istrinya gimana pak? Hihii. Ditunggu sharingnya yaaaaa~

Custom Post Signature

Custom Post  Signature