Showing posts with label #DianSpeakUp. Show all posts
Showing posts with label #DianSpeakUp. Show all posts

Boys will be boys. Iya nggak sih? Iya banget lah ya. Walaupun udah jadi bapak-bapak, seorang laki-laki pastinya masih punya sifat kekanakan dalam dirinya. Yang jaman kecilnya suka main mobil-mobilan, saat dewasa hobinya otomotif. Yang dari kecil hobi main games, pas dewasa teteup ga akan hilang dong ya hobinya. Pasti punya PS, XBOX, atau bela-belain beli laptop gaming dengan pinjaman dana cepat. Nah loh! 

Tapi yang namanya suami, kadang hobinya nggak cuma 1 loh buibu. Suami aku punya vespa kesayangan yang rajin banget dia beliin aksesorisnya. Nyebelinnya adalah, aksesoris vespa yang murah, dikirim ke rumah. Tapi yang mahal dan gedean dikit, dikirimnya ke kantor. Sebel kan? 


Apakah hobinya berhenti di otomotif aja? Nggak loh ternyata, karena beberapa bulan lalu suami juga beli PS baru. Alhamdulillah ya, hasrat ngegamenya bisa direm dengan nggak begadang semaleman untuk namatin game barunya. Jadi masih oke lah ya..

Hobi cowok emang macem-macem banget ya dan bisa dibilang nggak murah sama sekali. Dan aku nggak tau bakal ada hobi baru apalagi yang bisa menarik hati suami.

Terus sebagai istri, baiknya kita dukung hobi suami atau nggak ya?

Kalo aku sih tetep dukung 100% dong, karena:

1. Lebih baik hobi yang terlihat daripada hobi yang 'tak terlihat'

Eh iya nggak sih? Aku sih jauh lebih suka suami yang jujur ke aku tentang hobinya. Jadi keliatan kan uangnya kemana? Kalo hobinya otomotif, pasti keliatan dong vespa, motor atau mobilnya pasti makin kece. Kalo hobinya nge-games, bisa pasti ya ngajak anaknya main games bareng-bareng. Kalo hobinya melihara hewan peliharaan, bisa juga dong ya mengajarkan anaknya menjadi pecinta hewan. Kalo hobinya travelling, jadi bisa travelling bareng sekeluarga kan? 


2. Karena dengan mendukung hobi suami, suami pun (inshaaAllah) juga mendukung hobi kita

Duh, minta timbal balik banget kayanya nih ya? Hihihi. Bukan timbal balik kok. Cuma sama-sama perhatian aja. Saat kita mengikhlaskan suami menekuni hobinya, inshaaAllah suami juga akan mendukung kita menekuni hobi kita sendiri. Kalo udah sama-sama mendukung gitu, pastinya menyenangkan bukan? 

3. Karena hobi adalah pereda stress yang baik

Kita nggak pernah tau kan apa yang suami hadapi di kantor dan pekerjaannya? Dan menurut aku dengan menekuni hobinya, suami bisa sedikit meredakan stress karena pekerjaannya. Suami yang berkurang stressnya, jadi lebih happy pasti kan? Dan jadi makin sayang deh dengan anak-anak dan dengan istrinya pasti yaaa.

Semua hobi pasti punya sisi positifnya sendiri, tergantung kita melihatnya dari segi mana ya. Kalo suami sampai 'kelepasan' dengan hobinya, kita sebagai istri harus bisa mengingatkan juga dong. Jangan sampai juga, karena keseringan beli aksesoris motor atau mobil kesayangannya, uang belanja kita jadi berkurang. Atau begadang sampai melupakan quality time dengan keluarga karena game favoritnya? Duh, jangan sampai gitu dong ya pastinya.

Dengan mendukung hobi suami, dan juga mencoba ikut memahami dan mencintai hobinya. Kita bisa semakin kompak kan dengan suami? 

Dan jadi ikutan bahagia nggak sih setiap kali melihat priceless smile-nya suami setelah menekuni hobinya? 

Jadi sebenernya cukup banyak ya manfaat dari mendukung hobi suami. Asal jangan sampe bela-belain beli laptop gaming dengan pinjaman dana cepat yaaa!😅 InshaaAllah suami bisa makin cinta, makin pengertian dan makin sayang sama keluarga ya kalo kita juga ikut mendukung dan memahami hobinya. Aaaaaminnn😁

Jadi gimana nih buibu disini? Hobi suami, dukung atau nggak ya?



"Jangan rindu, berat. Kamu tak akan sanggup. Biar aku aja.."

Tsailah, familiar banget nggak sih sama kata-kata itu akhir-akhir iniiiihhhhhh? Ada pasti ya yang saking familiarnya sama kata-kata itu, sampe bosen dengernya? Atau kira-kira ada juga mungkin yang belum tau, kata-kata itu asalnya dari mana?

Kata-kata diatas asalnya dari film Dilan 1990 yang sampai saat ini, sekitar hampir 3 minggu penayangannya sudah meraih 4,3 juta penonton. Angka tersebut bahkan mengalahkan angka penonton terbanyak dari film Indonesia paling laris di tahun 2017 yaitu, Pengabdi Setan.

Kebayang nggak sih sekeren apa film Dilan 1990 sampai bisa menyedot penonton sebanyak itu? Jadi kamu, termasuk yang udah nonton atau yang belum nonton filmnya?

Sesuai judul dari postingan diatas, kalo aku sendiri termasuk yang nggak nonton filmnya. Kenapa? Nanti aku jelasin alasannya dibawah ini yaaaa.

FYI, aku adalah salah satu pembaca novel Dilan 1990 (Thanks to Ochi yang udah minjemin novelnyaaa❤) Kesan aku tentang novel karya seniman multitalenta-Kang Pidi Baiq ini adalah, penulisannya khas banget ya. Banyak kata-kata gombalan yang super sweet dan konflik percintaan ala anak SMA dengan latar belakang Bandung tahun 90'an.

Kebetulan tahun segitu aku belum lahir, jadi seru aja dapet penggambaran Bandung tahun 90-an dari novel Dilan 1990 ini. Ehe ehe ehe. *info nggak penting, abaikan.

Sesungguhnya keputusan aku untuk nggak nonton filmnya berawal dari novelnya juga sih. Dan 3 alasan aku nggak nonton film Dilan 1990 ini adalah pendapat pribadi aku sendiri ya. Jadi kalo ada alasan yang di aku masuk tapi di kamu nggak, wajar pasti lah karena pendapat, selera dan pandangan  setiap orang beda-beda yaaa *piss dulu ah😘

Jadi kenapa nggak ikutan nonton Dilan 1990?

1. Karena ceritanya nggak 'masuk' di aku banget

Dengan latar belakang pelajar SMA, aku yang sudah jadi ibu muda dengan 2 anak berasa kurang dapet  'klik' dengan ceritanya. Malah dibeberapa gombalannya Dilan ke Milea, aku sempet mikir "Ya ampun, basi amat sih gombalnya. Cian anak kecil, belom tau dia gimana kehidupan yang sesungguhnya" Soo sorry Dilan, that "Cinta Monyet" thingy its not so into me :')

2. Tentang pemeran Milea yang akan menjadi Ayudia di film Teman Tapi Menikah

"Ditto kok sama Milea?" "Itu bukan Milea tapi Ayudia!" (Sumber foto: showbiz.liputan6.com)

Jadi beberapa hari setelah film Dilan 1990 dirilis, pas lagi asik-asik scrolling-scrolling di Instagram aku nemu foto Vanesha Prescila dan Adipati Dolken yang lagi pelukan mesra di sebuah acara. Aku langsung mikir, "Oh mereka pacaran kah?" Ternyata pas aku baca keterangannya, Vanesha dan Adipati Dolken akan menjadi pasangan kekasih di film yang diangkat dari kisah cinta Ayudia Bing Slamet dan Ditto dalam novel Teman Tapi Menikah. Dan kabarnya peluk peluk mesra itu dalam rangka promo filmnya(?) sih. 

Dimasa-masa awal film Dilan 1990 rilis. Aku ingin menikmati penggambaran Vanesha dan Iqbal sebagai Milea dan Dilan, tapi kenapa foto foto rangkul mesra Adipati sama Vanesha udah beredar siiih. Padahal film mereka baru akan ditayangkan Maret besok loh. 

Aku langsung kepikiran ke novel Dilan yang merupakan trilogi. Mungkinkah filmnya akan dibuat trilogi juga serupa novelnya? Jadi nanti Milea, jadi Ayudia, terus jadi Milea lagi gitu? Aku kan jadi bingung, mau ngeship Vanesha sama Iqbaal atau Vanesha sama Adipati :') 

3. Karena beberapa novel memang lebih baik berbentuk film hanya dalam kepala pembacanya saja

"The book is a film that take place in the mind of reader. That's why we go to movies and say 'Oh, the book is better'" -Paulo Coelho

Persis seperti quote Paulo Coelho diatas, beberapa novel memang lebih baik hanya menjadi film dalam pikiran aku aja. The movie that i made in my head based on Dilan 1990 novel, was beautiful. And thats enough. Dan sejujurnya aku nggak terlalu suka ending asli di novelnya, jadi film Dilan 1990 yang di kepala aku udah punya happy endingnya sendiri😛

Jadi 3 alasan itulah yang ngebuat aku nggak pengen nonton film Dilan 1990. Remeh yaaa? Ah bilang aja lagi nggak punya uang makanya nggak nonton kebioskop kan? Apa mau nunggu lebaran dulu biar bisa nontonnya di tipi ajah? Wahahahahahaaa. 

Seperti yang aku bilang diatas kalo setiap orang pasti punya pandangan, pendapat dan selera masing-masing. Jadi semoga nggak ada yang merasa tersakiti dengan postingan ini yaaaaa🙏

Sekian dulu deh postingan receh malam ini. Jadi kamu udah nonton Dilan 1990 atau belum? Yang udah nonton, boleh nggak sih aku denger pendapatnya tentang film Dilan 1990 di kolom komen di bawah? Dan yang belum nonton, kira-kira alasannya sama juga kaya aku nggak yaaa? *peace yoo😚

"Mungkin akan ada saatnya dimana seorang ibu keliru saat berpikir dia bisa melindungi anak-anaknya selamanya. Saat itu juga, dia harus sadar dia harus mengajari anaknya untuk mulai melindungi dirinya sendiri"

Apa yang Harus Orangtua Lakukan Saat Anak Dibully? Saat Luna masuk ke SD, aku tau kalo lingkungannya akan jauh berbeda dari TKnya dulu. Nggak akan ada mama Dian lagi yang 100% ngedampingin Luna, ketemu teman yang lebih beragam lagi, adaptasi dengan lingkungan baru dan segala penyesuaian lainnya.

Sempat dihantui juga oleh pemberitaan maraknya perundungan atau tindakan bully di sekolah-sekolah. Ada banyak banget berita perundungan yang beredar, mulai dari anak yang dipukul hingga meninggal! Atau beredarnya video perundungan anak-anak dikelas yang dimulai dengan cemoohan kemudian merembet ke kekerasan. It's HAUNTED me as a mom. 

Aku nggak ngerti dan nggak mau bayangin gimana rasanya jadi orangtua korban perundungan tersebut. Sakit. Banget. Pasti. Satu hal yang aku tau, anak-anak pelaku perundungan harus diberi pengertian yang mendalam dan pelajaran supaya mereka nggak mengulangi tindakan itu lagi ke teman-teman yang lainnya. Ini bahasa baiknya ya, kalo bahasa kasarnya mah: Sini kalo perlu bantuan, gue datengin tuh anak satu-satu!

Sampai akhirnya, it happens to Luna. Mungkin keliatannya cuma perundungan kecil aja. Tapi saat itu ngebuat Luna sedih, pastinya sebagai ibunya aku bakal 1000 kali lipat lebih sedih daripada Luna.

Saat Luna dibully

Kejadian ini sekitar 6 bulan yang lalu..

Hari itu sebelum berangkat sekolah Luna request sesuatu yang nggak biasa "Mah nanti mama ikut (mobil) jemputan Luna ya ke sekolah.." Padahal Luna ikut jemputan sekolah udah hampir 2 minggu, dan biasanya pun dia berani sendiri. Jadi aku pikir dia cuma bercanda aja dan aku jawab "Ya nggak mungkin lah Kak.. Emang mama-mama temennya Kakak pada ikut jemputan juga? Nggak kan?" Luna pun cuma diem dan geleng-geleng kepala aja saat itu.

Kemudian semua normal-normal aja sampe mendadak pas pakein Luna sepatu, Luna nangis sesenggukan dan cerita kalo di mobil jemputan rambutnya selalu ditarik-tarik sama kakak kelasnya. Mama Dian kaget banget liat Luna nangis. Karena Luna bukan tipe anak yang cengeng, dirumah pun jarang banget nangis. Seringnya cuma ngambek marah-marah dan nangis dalam sebulan itu masih bisa diitung jari. Tapi pagi itu dia nangis sesenggukan yang sampe liatnya pun ngga tega. Akupun langsung coba nenangin Luna sampai dia berenti nangis dan janji akan ngasitau ke bapak jemputan supaya kakak kelasnya berenti gangguin Luna.

Nggak berapa lama setelah itu, setelah Luna udah berenti nangisnya dan tenang lagi, mobil jemputan Luna dateng. Aku langsung ngasitau ke bapak jemputan tentang masalah narik-narik rambut ini. Kakak kelasnya pun aku tegor baik baik "Kak, jangan tarik-tarik rambut Luna ya.. Kasian sakit Lunanya.." Kakak kelasnya pun langsung ngeles sambil nuduh temennya yang lain. 

Karena ini adalah peringatan pertama aku pikir cukuplah ya dengan diomongin secara baik-baik.

Jam pulang sekolah, akupun nunggu jemputan Luna depan rumah sambil harap-harap cemas. Pas jemputan sampe depan rumah, Luna turun dengan ceria sambil dadah dadah sama kakak yang narik-narik rambutnya itu.. Aku langsung lega banget sambil nanya "Kok tadi dadah dadah sih Na sama kakak itu?" "Iya mah tadi kakaknya udah minta maaf dan ga tarik-tarik rambut Una lagi.." Alhamdulillah.. Lega banget dengernyaaaa :')

Alhamdulillah aku bersyukur banget masalahnya selesai hari itu juga. Luna keliatan bener-bener nggak ada beban saat turun dari mobil jemputan. Alhamdulillah degan sekali pemberitahuan kakak kelasnya ngerti dan langsung selesai ya masalahnya. 

Kemudian aku mikir, aku nggak bisa terus-terusan ngejadiin diri aku tameng untuk Luna. Kebetulan Luna ini tipe anak yang ngalahan dan selalu nerima aja kalo lagi main sama temennya. Mau nggak mau, aku mesti mulai menjadikan Luna anak yang lebih berani lagi.

Setelah Luna dibully

Setelah kejadian ini akupun jadi mikir beberapa pencegahan awal supaya Luna nggak gampang dibully sama temen-temennya:

Pertama dan yang paling penting adalah mengingatkan Luna bahwa dia nggak boleh ngisengin temennya sedikitpun. Whats goes around, comes back around kan? Saat kita nggak mau anak kita dibully, kita juga harus mengajarkan anak kita untuk nggak membully teman-temannya.

Kedua, begitu juga sebaliknya kalo sampe dia diisengin sama temennya dia harus cerita dirumah. Selalu menanyakan "Ada cerita apa disekolah hari ini?" Setelah Luna pulang sekolah. Tujuannya supaya Luna mau lebih terbuka lagi sama aku sendiri, mamanya.

Cobalah untuk "lebih" mendengarkan lagi anak-anak kita. Nggak cuma dari setiap cerita yang dia ceritakan ya. Tapi juga dari perilaku sehari-harinya dirumah, jangan sampe dia dibully di sekolahnya tapi dia takut nggak mau cerita. Jangan sampai suatu hari anak-anak kita selalu murung di rumah sampai kita nggak tau apa sebabnya. 

Ketiga, yakinkan anak-anak kita bahwa mereka adalah ciptaan Allah yang berharga untuk kita, orangtuanya. Ingatkan mereka supaya lebih menyayangi dirinya dan nggak membiarkan orang lain menyakiti dirinya. Ingatkan mereka bahwa mereka nggak boleh mengijinkan orang lain merendahkan diri mereka sendiri. Mereka berharga, mereka akan selalu dicintai dan dibutuhkan oleh kita, orangtuanya.

Dan seperti yang terjadi kemarin. Kalo sampe dia udah terlanjur dibully, hal pertama yang aku lakuin adalah :

• Menenangkan dia, dan mendengarkan ceritanya dengan sungguh-sungguh 
• Mengadukan ke penanggung jawab lingkungannya/bahkan ke orang tua anak tersebut,
• Memberitahukan ke anak yang bersangkutan secara tenang dan baik-baik.
• Sekali lagi mengingatkan bahwa segala bentuk bully itu nggak baik walaupun cuma ngelempar-lempar pensil atau penghapus temen dengan tujuan untuk menggoda temannya 

Aku yakin sesungguhnya pembully-an bisa dicegah mulai dari kita sendiri sebagai orangtua. Dengan cara MENGEDUKASIKAN KEPADA ANAK-ANAK KITA BAHWA BERLEBIHAN DALAM MENGANGGU TEMAN ADALAH HAL YANG TIDAK BAIK. Karena menurut aku sendiri, pembully-an besar di kemudian hari sesungguhnya dimulai dari pembully-an kecil yang dibiarkan saat mereka kecil.

Rantai pembully-an itu pasti bisa diputuskan dimulai dari anak-anak kita sendiri. Dan itu nggak terlepas dari peran kita sebagai orangtuanya. 

Aku tau nggak akan selamanya bisa ngedampingin Luna ngelawan jahatnya dunia ini. Tapi aku rasa aku bisa mulai mengajari dia semua hal yang aku tau untuk jadi lebih kuat dan pelan-pelan mengajari Luna untuk mulai berani melindungi dirinya sendiri. Aku. Pasti. Bisa!

Hayuklah buibu milenials, mari kita bersma-sama bergandengan tangan memutus rantai pembully-an mulai dari anak-anak kita sendiri. Tindak pembully-an awalnya dimulai dari tindakan keusilan kecil yang mereka anggap bukan apa-apa, namun jika dibiarkan akan meninggalkan trauma besar kepada korban dan mendorong si pelaku untuk melakukan tindakan pembully-an yang lebih lagi dari sebelumnya.

Bismillah, semoga anak-anak kita dijauhkan dari segala macam bentuk pembully-an ya, baik itu sebagai korban maupun pelaku. Aaaaaminnn! 

Oh iya, udah mulai masuk lagi setelah liburan panjang kan? Semoga buibu semua tetap semangat mendampingi anak-anak di semester genap ini yaaaa😘😘😘
Disclaimer: Postingan ini sesungguhnya adalah postingan yang nggak terlalu berfaedah. Postingan ini dibuat karena aku selalu penasaran dengan pesan-pesan yang tersembunyi pada setiap Music Video Taylor Swift. Terutama pada Taylor Swift's latest MV "Look What You Made Me Do". After googling here and there, akhirnya aku menemukan beberapa fakta menarik dan akan menguliknya satu persatu disini. Jadi kalo kamu ngerasa Taylor Swift dan seluruh music videonya sama sekali nggak menarik dan nggak penting, please jangan dilanjutkan ya niat membaca postingan ini.😜

Taylor Swift Look What You Made Me Do Video Clip Meaning


Taylor Swift is back! Setelah penantian yang panjaaaaaaaang, akhirnya Taylor Swift kembali dengan album barunya, Reputation and single terbarunya "Look What You Made Me Do".

Pernikahan, adalah penyatuan dari dua orang dengan dua kepala yang berbeda, dua kebiasaan yang berbeda, dari dua keluarga yang berbeda. Jadi kalo suka berantem-berantem karena beda pendapat mah biasa yaaaa. Tapi seiring berjalannya waktu, aku yakin sih kalo kedua pasangan itu perlahan akan mulai bisa memahami satu sama lain. Memahami kebiasaan berbeda yang dimiliki pasangan. Memahami baik buruknya. Mulai menerima kebiasaan buruknya (yang masih bisa ditolerir) atau mungkin juga mengubah kebiasaan-kebiasaan buruknya menjadi kebiasaan-kebiasaan baik.

Tapi tetep ya, yang namanya dua kepala nggak mungkin bisa selamanya selaras dan sejalan. Pasti ada aja ujian-ujian pernikahan dalam hal-hal kecil yang kita lakukan maupun yang dilakukan pasangan kita. Hal-hal kecil termasuk bebarapa pertanyaan dari suami yang kayanya remeh, namun dampaknya besar dihati para istri. Seperti beberapa pertanyaan di bawah ini niiih~~


 1. "Kamu bisa masak nggak sih?!"

Pertanyaan ini bukan pertanyaan yang berasal dari pasangan yang baru menikah, terus dilanjut dengan jawaban suami "Yaudah gapapa kita jajan diluar aja, aku makan kamu ya sekarang.." Uwuwuwuuuu. Newlywedd emang selalu (sok) sweet~~ *eh kok jadi tulisan ini jadi ngelantur?😂

Pertanyaan ini biasanya ditanya dengan nada yang agak tinggi setelah suami nyobain masakan istrinya yang mungkin rasanya nggak cocok dilidahnya. Kemudian disusul dengan pertanyaan, "Ini masakan kamu cobain dulu nggak sih tadi?" Kemudian istrinya menatap suaminya dengan mata yang berkaca-kaca tapi suami nggak liat lagi mata istrinya yang berkaa-kaca karena udah BT duluan.

Mungkin suaminya nggak mikirin juga ya gimana perjalanan itu bahan-bahan makanan dari pasar dibawah kerumah sampe ada diatas wajan/panci dan kemudian terhidang di atas meja. Belom lagi masaknya mungkin disambi ini itu ya, disambi nyuci atau ngemong anak? Atau mungkin masaknya buru-buru karena anaknya udah keburu rewel minta ini itu ke mamanya.

Dan dibalik entah itu si suami udah lelah banget seharian di kantornya hingga masakan istrinya yang kurang asin atau keasinana dikit langsung semakin ngerusak moodnya, atau mungkin karena masakan si istri yang bener-bener parah rasanya. Ada beberapa jalan lain yang lebih baik untuk mengkritik masakan istrinya, misalnya dengan minta istrinya duduk manis duduk disampingnya dan nyobain masakannya sendiri. Atau mungkin dengan diberi pertanyaan sayang semacam "Sayang, kayanya kamu kebanyakan ngasi garem deh.. Cobain deh sini aku suapin.." *so sweet kan? Uwuwuwuwuuuu*

Dijamin, kalo ngekritiknya dengan cara yang baik dan sweet gitu, besok-besoknya masakan istri pasti bakal lebih enak lagi deeeehhh💖


2. "Seharian dirumah ngapain aja sih?!"

Yak lagi-lagi pertanyaan ini ditanyakan dengan nada yang cukup tinggi disaat suami pulang dan keadaan rumah berantakan. Berantakan banyak sebabnya ya, misalnya si istri masih dalam proses bebenah yang belum selesai karena udah diinterupsi kerjaan rumah lain. Atau karena diberantakin (lagi) sama para krucil. Bisa aja kan sebetulnya rumahnya tadi udah selesai dirapiin sampe kinclong namun para krucil mulai beraksi lagi dengan segala mainan mereka, mamanya mau ngelarang nggak tega juga kan? Kayanya lebih baik mereka sibuk sama mainananya dibanding sama gadgetnya.

Kebetulan aja mungkin suami udah riweuh setengah mati di kantor, pengennya sampe rumah langsung rebahan gitu tanpa keganggu ini itu. Namun kadang memang realita tak seindah ekspektasi ya. Mungkin sebaiknya suami mendengarkan dulu alasan istri kenapa rumahnya amsih berantakan pas dia pulang kantor atau kalo mau cara yang lebih sweet lagi bisa menawarkan bantuan "Sayang, ya ampun berantakn banget, aku bantuin beresin ya.." atau kalo lagi males ikut bantuin beresin cukup bilang "Ya ampun sayang aku pengen banget nih bantuin kamu beresin, tapi aku capek banget ngurus kerjaan di kantor tadi. Aku istirahat duluan ya.." Sambil elus-elus sayang pundaknya istri.

Percayalah pak suami, sesungguhnya kerjaan istri yang notabene ibu rumah tangga, walaupun keliatannya cuma 'seharian dirumah' tapi kerjaannya banyak banget. Nggak berenti bahkan bener-bener bisa berenti kalo semua penghuni rumah udah tidur, baru deh si istri bisa tidur dengan tenang. Jadi hindarilah pertanyaan "Seharian di rumah ngapain aja sih?" Karena saking banyaknya yang dilakuin, kadang kita jadi bingung mau mulai ngelist hal-hal-yang-kita-lakukan-hari-itu darimana. Iya kan bu-ibu?


3. "Jadi uang kamu udah abis? Buat apaan aja?"

Duuuuhhhhhhhhhh. KZL banget nggak sih kalo disuguhkan pertanyaan kaya gini dari suami tercinta? Bukan, bukannya kita nggak bisa jawab ya. Tapiiiii, saking banyaknya pengeluaran disana dan disini jadi bingung mau mulai jawab darimana. Kalopun emang udah ada listnya dan kita bacain ke suami, aku yakin suami juga males dengernya, banyak sih. Panjaaaang. Yang tercatat mah yang pasti-pasti aja macem bayaran sekolah, bayar listrik, atau bayar iuran kebersihan. Nah yang printilannya ini yang bikin pusing, mulai dari beli buah, beli sayur, bumbu dapur, anak minta jajan, beli bahan kue, beli cemilan, beliin krayon anak, beli kaos kaki anak dan ini dan itu. Menjabarkannya butuh perjuangan bukan?😅

Jadi ya sesungguhnya pertanyaan "Uangnya habis untuk apa aja?" adalah suatu pertanyaan yang nggak perlu banget untuk ditanyain. Dan entah kenapa kalo menurut aku sendiri, pertanyaan itu malah menjadi semacam ketidakpercayaan suami kepada istrinya. It feels like pertanyaan lain dari "Kamu boros-borosin untuk yang nggak berguna pasti uangnya kan?"

Duh pak suami, kalo dirumah kamu nggak liat barang-barang baru dari online shop di lemari istri. Mendingan pertanyaan tadi diganti dengan pernyataan "Yaudah sayang, nanti aku transferin lagi ya.." Nggak deh becanda😆😛

Kalo memang si istri menghabiskan uang jatah bulanannya sebelum waktunya mungkin bisa didiskusikan bersama ya, apakah ada post-post pengeluaran yang bisa dihemat lagi. Semua masalah yang didiskusikan berdua tentunya berasa lebih mudah untuk dilewati yaaa.

Nah ketiga pertanyaan diatas selain akan melukai perasaan si istri juga kayanya akan berdampak nggak bagus ke suami, misalnya ditinggal tidur duluan😏😏 Duh mama Dian, apakah ini adalah postingan curcol? Tentunya bukaaan, postingan ini cuma dibuat cuma untuk ngetes kalo nggak cuma aku sendirian kan yang pernah ditanyain hal-hal diatas sama suami? *eh😅*

Intinya adalah, ada banyak kok cara mengkritik yang baik. Daripada lagi akur-akur terus jadi nggak akur cuma karena satu pertanyaan aja, nggak enak banget kaaan? Huhuu. Aku sih yakin, setiap istri pasti mau jadi yang terbaik kok untuk suami, anak-anak dan keluarganya. Dan bukankah pernikahan itu juga sebuah pembelajaran tanpa akhir, yang emang nggak ada sekolahnya? Jadi inshaaAllah semua kesalahan dalam pernikahan yang kita lakukan di hai ini, bisa jadi pengalaman untuk hari selanjutnya supaya menjadi yang lebih baik lagi ya. Aaamiiin.

Dan jadi bu-ibu yang baca ini, pernah juga nggak sih ditanyain 3 pertanyaan diatas sama pak suami? Mari tumpahkan unek-uneknya di kolom komen! Dan untuk bapak-bapak yang mungkin baca tulisan ini juga, pernah menanyakan 3 hal diatas nggak sih pak, sama istri? Terus reaksi istrinya gimana pak? Hihii. Ditunggu sharingnya yaaaaa~

Bu-ibu yang suka mengikuti akun pergosipan di jagat Instagram Raya, suka gemes nggak sih baca berita mengenai salah satu artis yang dikabarkan selingkuh itu? Nggak usah pake inisial-inisial segala lah ya, karena sudah banyak gosip(atau fakta?) yang beredar tentang ini. Seru banget banget banget untuk diikuti, bagai episode sinetron tanpa akhir. Seru sekaligus ngebuat gemes karena, si istri kelihatan adem ayem aja dengan segala gosip ini. Walaupun aku tau dalam hati dia pasti terluka banget ya dengan segala macam pemberitaan. Toh kita juga nggak bisa ngeliat kesehariannya dia kan? Tapi cuma lewat sebatas senyum yang selalu disunggingkan di layar handphone kita atau di layar kaca TV kita. 

Tapi lebih gemes lagi kalo ngebahas tentang si artis yang dikabarkan jadi selingkuhannya. Gimana bisa sih dia menerima semua pemberitaan negatif tentang dirinya (dalam hal ini pemberitaan dirinya menjadi selingkuhan suami orang. Jadi selingkuhan itu merupakan sesuatu yang negatif kan?) tanpa memberikan satu penyataan penyangkalan sama sekali. Kaya misalnya gue dituduh nyolong barang nih, kalo nggak nyolong ya pastinya gue bilang nggak kan? Kalo dituduh nyolong, tapi diem aja ya berarti kan dia semacam nggak bisa menyangkal tuduhan itu kan  yaaa..? Sumpah aku gemash sekali dengan artis satu ituuu~~

Ngomongin tentang perselingkuhan, diselingkuhin sama pacar aja rasanya sakit banget kan? Apalagi kalo udah berumah tangga? Nggak kebayang ya seperti apa sakitnya dan tangguhnya hati sang istri tersebut.. Kalo aku udah nggak akan sanggup kali memberikan senyum palsu bahkan di depan kamera sekalipun😢😢😢

Dan untuk si wanita yang menjadi selingkuhan tersebut. Hmm, ada yang bilang selingkuh itu sebenernya bisa dimulai dari kesalahan sang istri. Karena istri begini dan begitu makanya suami jadi mencari wanita lain di luar sana. Tapi ya sesungguhnya ya, wanita yang baik memang nggak akan tega ya merusak sebuah rumah tangga. Apalagi yang didalamnya pasangan suami istri yang sudah memiliki anak.

Eh iya, biar tulisan ini nggak sepenuhnya isinya tentang hosip😂, jadi aku kasih nih beberapa poin tentang "Apa sih yang harus dipikirkan seorang wanita pertama kali, sebelum menjadi penganggu rumah tangga orang lain?" di bawah ini ya:

1. Menghancurkan hati banyak orang
Kalo si wanita selingkuhan itu berpikir yang bakal sakit hati cuma si istri aja, dia salah banget lah ya. Keliatan banget dari kasusnya artis ini, si suami 'menjauh' dari keluarga si istri. Karena orangtua dan saudara-saudaranya pasti sakit juga kan ngeliat si istri ini disakiti hatinya, diduakan dan dikhianati💔 Belom lagi perasaan anak-anak mereka yang terlibat di dalamnya. Ada satu balita perempuan dari si wanita selingkuhan yang mungkin kelak bakal dicap sebagai anak dari perusak rumah tangga orang lain dan satu balita laki-laki yang pas besar mungkin bakal ngebenci papanya karena udah nyakitin hati mamanya. Si istri, anak, mertua dan saudara-saudara yang tersakiti hatinya ini diperhitungkan nggak ya sama si wanita perusak rumah tangga ini sebelum dia 'melangkah' lebih jauh lagi?

2.Yang dia dapatkan nanti hanya seorang suami yang tidak setia
Kalo misalkan nih pasangan artis ini sampai berpisah lewat jalur pengadilan, dan akhirnya si suami ini menikah resmi dengan wanita selingkuhannya, yang si wanita itu dapatkan ya cuma seorang lelaki yang nggak setia lah ya. Udah keliatan banget sih track record dari si artis cowok ini tentang betapa hobinya dia gonta ganti pacar dan betapa  gampangnya dia meluk-meluk partner kerja lawan jenisnya. Jadi ya nggak sebaiknya dia bahagia terlalu dini dulu lah ya kalo sampe berhasil merebut suami orang apalagi sampai menghancurkan keluarga yang sudah dibangunnya, menurut aku si wanita selingkuhan ini harus bekerja ekstra keras untuk menjaga suami colongannya ini agar nggak jelalatan lagi ke wanita lain.

3. Hati-hati dengan balasan atas perbuatan jahatmu!
Sesungguhnya dalam agama islam memang nggak dikenal adanya karma ya, tapi ada kok ayat di Al-Qur'an yang menjelaskan bahwa setiap perbuatan pasti ada balasannya, baik itu perbuatan baik maupun perbuatan buruk. Merebut suami orang, menghancurkan kebahagiaan sebuah keluarga, mengambil waktu seorang ayah dari anaknya tentunya bukan perbuatan yang baik bukan? Jadi ya hati-hati ajaaa, belom lagi banyaknya do'a-do'a dari sang istri, anak maupun dari banyaknya orang yang jadi turut serta kesel melihat 'fenomena' perselingkuhan ini. Dari sekian banyak do'a-do'a tersebut kita nggak akan tau yang mana yang akan dikabulkan bukan? Kalo do'a dari aku sih do'a yang baik aja ya, semoga wanita selingkuhan ini segera sadar bahwa yang dia lakukan salah, dan semoga diberikan takdir terbaik untuk rumah tangga dua artis ini.

Karena untuk bahagia sesungguhnya kita nggak perlu merebut kebahagiaan orang lain
Banyak banget kok cara untuk menjadi bahagia, cara yang paling mudah adalah dengan banyak-banyak bersyukur atas segala nikmat yang udah kita dapatkan sampai hari ini. Dan harus menyadari bahwa apa yang sudah kita miliki sampai saat ini sesungguhnya lebih baik daripada apa yang dimiliki orang-orang yang ada di bawah kita.

Walaupun sudah berhembus kabar, kalo sebenernya si suami dan selingkuhannya ini sudah menikah siri, jadi sah-sah aja kalo sampe mesra-mesraan di depan umum. Yang berarti si suami sudah berpoligami ya. Tapi bukankah poligami itu sebaiknya tidak berawal dari perselingkuhan ya? Sayang sekali begitu banyak lelaki yang menjadikan poligami sebagai ajang untuk 'kepuasannya' sendiri.

Dan pada akhirnya. kita yang sebagai pengamat sebaiknya cukup melihat dari jauh aja fenomena ini. Nggak perlu ikut campur secara langsung bahkan sampai ikut menjelek-jelekan satu pihak. Karena memang yang bisa merubah kehidupan mereka, cuma mereka sendiri aja kan?

Tapi sebagai perempuan, aku punya rasa empati yang akan ngebuat aku ikut sakit hati kalo ngeliat seorang istri 'dikhianati' suaminya. Apalagi ada pemberitaan baru tentang ustadz yang sudah lama berpoligami tanpa diketahui istri pertamanya hingga akhirnya si sitri pertama menuntut cerai dan kisah tentang suami dari seorang wanita dengan dua anak (anak yang terkecil bahkan masih ASI) yang 'direbut' oleh wanita yang merupakan sahabat dari seorang artis yang juga merebuat suami rekan duetnya dulu. Semua pemberitaan itu bikin aku sedih sekaligus gemes sendiri, sayangnya aku pun nggak bisa berbuat apa-apa kecuali mendoakan yang terbaik untuk mereka semua.

Kalo untuk aku sendiri, kasus-kasus perselingkuhan diatas bisa jadi refleksi untuk diri sendiri. Mungkin aku harus lebih memperhatikan diri sendiri juga ya untuk suami, biar nggak jadi alasan suami untuk melakukan hal yang nggak-nggak nantinya.

Pada akhirnya aku juga sadar bahwa segala sesuatu memang terjadi atas izin-Nya, semoga rumah tangga kita semua dijauhkan dari segala macam hal-hal yang buruk ya. Aaamiiinn. Dan untuk rumah tangga yang sedang bermasalah, semoga segera ditunjukkan jalan keluar yang terbaik oleh-Nya.. Aaamiiinnn ya Rabbal Alaminnn.

Semangat semuanyaaaaa! Jangan lupa bersyukur agar bisa bahagia yaaaaa💖

Hello! It's me~~ *eh kenapa malah nyanyi yaaaa😅*

Waaaaah nggak berasa ya udah 2017 ajaaaa, yang punya cicilan cicilan pasti happy ya, karena jangka waktu cicilannya berkurang setahun. Hihi. Ngomongin tahun baru, sebenernya apa sih yang paling berasa disetiap pergantian tahun ? Yak, betuul! Ganti kalender di rumah 😁

(Baca juga tulisan mak Arinta: Tahun baru, antara evaluasi, resolusi dan prediksi)

2016 untuk aku sendiri jadi tahun yang cukup bersinar, mulai dari awal april yang gabung di KEB, kemudian Mei ganti domain TLD, dan kemudian menghadiri banyak event-event blogger bahkan sampai diundang ke Bali sebagai blogger untuk meliput selebrasi sebuah event. Blogging sendiri bisa dibilang changing my life. Aku yang bercita-cita jadi penulis, jadi menyalurkan hobbi nulis aku lewat blog ini. Lewat blog juga jadi bisa banyak ketemu temen baru, ketemu banyak relasi baru, ketemu keluarga baru, bahkan sampe ketemu banyak penulis dan novelis handal yang punya profesi sebagai blogger juga. Aku bahagia!

Di 2016 juga si kakak lulus TK, pas temen-temennya masuk SD, aku memutuskan untuk cuti setahun dulu sekolahnya. Sepertinya mama Dian dulu nyekolahin kakak terlalu cepet, biarlah setahun ini disambi bimbel juga sembari menebus waktu bermainnya yang kurang. 

Naaaaahhh, 2017! Pengennya tahun ini gimana ya? Yang pasti lebih baik lagi dari tahun sebelumnya yaaaa. Mama Dian makin rajin ngeblog, atau balik lagi nulis fiksi melanjutkan cita-cita lama yang belum terwujud, yaitu mengeluarkan novel sendiri. Aaamiin!

Semoga di tahun ini juga keadaan menjadi lebih baik untuk semua saudara-saudara muslim kita di luar sana. Semoga ujian-ujian yang menimpa mereka segera berakhir dan bisa berganti menjadi ketenangan dan kedamaian ya.. Aaamiin :'

Tahun ini juga si kakak mau memulai lembaran baru pendidikannya di sebuah sekolah dasar. Doain juga supaya mama Dian cepet ilang galaunya ya tentang pilih-pilih sekolah si kakak. Semoga kakak dapet sekolah yang terbaik dan semoga dia betah ya di sekolah barunyaaaaa! Aaamiin

Selamat memasuki tahun 2017 semuanyaaaa! Semoga 2017 ini lebih baik dari 2016 kemarin yaaaaaaa❤❤❤

Mari tetap semangaaaaattt😘😘😘
Salah satu efek memiliki anak di usia 19 tahun adalah, ketika anak-anak udah besar atau 6 tahun kemudian, temen-temen kita baru pada punya bayi dan posting semua foto bayi-bayinya di social media mereka. Dan pertanyaan yang terlintas di benak aku saat itu adalah, haruskah aku punya bayi lagi alias anak ketiga?

Iyap, mama Dian dan Papa Api udah punya dua krucils sekarang, tapi sayangnya udah nggak pada bayi lagi. Umur krucilsnya mama Dian udah lewat dari 5 tahun semua. Udah nggak bisa diuyel-uyel manja lagi, udah nggak bisa dikelitikin keteknya lagi, udah nggak bisa puas-puasin nyiumin tengkuknya lagi. Udah pada gede sih soalnya. Beda kan sama bayi, mau diapain aja diem. Kalo krucilsnya mama Dian kalo diisenginnya keterlaluan kadang suka pada ngambek *emang emaknya rese' soalnyaaa x)*

Pengen ngajakin anak-anaknya temen satu gengs aku playdate, tapi masih pada bayi semua, anak mama Dian pas banget jadi pengasuh alias kakak-kakaknya mereka. Hihi. Dan foto-foto anak bayinya merekalah yang kadang bikin mama Dian agaknya mupeng punya anak lagi. Bayi-bayi itu lucu banget soalnyaaa, bukan bayinya aja yang lucu tapi perlengkapan bayi dan baju bayi jaman sekarang juga lucu-lucu bangeeet. Warna-warni segala rupa dengan motif segala ada. Teether jaman sekarang aja bentuknya jerapah yang lucu banget buat dijadiin properti foto. Hihihii.

Jadi, haruskah mama Dian dan Papa Api punya anak ketiga? Setelah dipikir-pikir kalo aku sih yes jawabannya! :D Tapi nanti, pas anak-anak udah ada masuk SMP aja, alias 8 tahunan lagi kali yaaa. Kenapa nggak sekarang aja sih, biar capeknya sekalian? Karena:

1. Biaya sekolah jaman sekarang, mahal!
Emang pada dasarnya rejeki pasti udah diatur sama Allah ya, dan setiap anak pasti bawa rezekinya masing-masing. Tapi biaya sekolah jaman sekarang emang udah nggak bisa dibuat main-main lagi ya, walaupun SD gratis, tapi TK-nya berasa juga loh x) Belom lagi biaya kuliah mereka nanti yang udah mesti ditabungin dari sekarang. Mari nabung banyak-banyak dululah sekarang untuk duo krucil sebelum dateng krucil nomer 3. Hihi.

2. Memberikan perhatian dan kasih sayang tanpa banyak terbagi
Terbagi dua aja kadang suka berasa repot. Yang satu mau ini, pas yang satunya lagi mau itu. Rasa-rasanya mama Dian pengen jadi amoeba aja dan membelah diri saat itu juga.Apalagi umur-umurnya duo krucil skarang emang lagi pada umur-umurnya butuh perhatian dan kasih sayang yang besar juga ya, dan pendampingan saat mereka belajatr. Kalo ada bayi saat ini, takutnya nanti malah mama Dian makin terbagi lagi perhatiannya. Saat ini mau fokus ke duo krucil dulu aja makanya :)

3. Masih ingin menikmati quality time berdua suami
Ini yang juga sebenarnya nggak kalah penting. Setelah bertahun-tahun mama Dian dan papa Api nggak bisa keluar berdua aja. Akhirnya sekarang udah bisa! Ya walaupun cuma makan sop kambing aja malam hari pas anak-anak udah pada tidur, itu rasanya udah membahagiakan banget. Sekarang pun abang udah berani nginep sendiri di rumah omanya. Quality time berdua suami sesungguhnya adalah hal yang penting juga kan untuk suami-istri? Setelah hampir 5 tahun nggak bisa menikmati hal-hal semacam ini, akhirnya sekarang mulai menikmati masa-masa ala pacaran lagi. Kalo nanti punya bayi, bakal libur lagi kan masa-masa quality time berdua gini?

Jadi kalo ada yang iseng nanya, "Kapan nambah anak lagi?" Dengan mantap mama Dian bakal jawab, "Nantilah 8 tahun lagi, tunggu anak-anak besar dulu.." :) Sekarang ada baiknya memuaskan dahaga akan bayi-bayi lucu dengan main-main sama ponakan dulu. Walaupun nggak puas nguyel-nguyelnya karena bukan anak sendri, tapi kalo nangis tinggal balikin ke emaknya aja kan? Hihihihi. Kalo kamu yang udah nikah juga gimana nih, rencananya mau punya anak berapa sih?


Setiap keluarga tentunya punya tradisi dan kebiasaan yang berbeda-beda, salah satunya dalam hal mengolah makanan sisa dirumah. Ngomongin makanan sisa, kebetulan aku kenal satu keluarga yang nggak pernah makan menu yang sama dalam sehari. Sarapan, makan siang dan makan malem harus menu yang berbeda, mereka enggan makan makanan sisa yang dipanaskan. Kalo mereka bilang sih, makanan yang diangetin lagi itu namanya makanan daur ulang.

Kalo di rumah aku sendiri, biasanya sih masak pagi sekalian untuk makan siang dan makan malem. Praktis, nggak perlu masak-masak lagi sore-sore. Hihi. Terus kalo ada makanan sisa malemnya, gimana? Ya dipanasin lagi untuk besoknya, eman-eman, sayang kan kalo dibuang, mubadzir buk-ibuk. 

Tapi kalo makanannya dipanasin lagi berarti kita makan lauk yang sama terus-terusan kan, bosen ngga siiihh? Nah, biar nggak bosen ternyata makanan sisa itu sebenarnya bisa kita olah lagi jadi makanan yang berbeda. Seperti yang Mak Maya Siswandi tulis di sini, tentang Makanan Sisa, Diolah Lagi atau Dibuang? Salah satu contohnya, capcay yang nggak habis, bisa kita olah lagi dengan menambahkan tepung dan telur untuk kemudian digoreng menjadi bakwan. Mak Maya ini memang kreatif bangeeet, sebelumnya aku nggak pernah mikir kalo capcay bisa jadi bakwan. Hihi. Untuk ide kreatif mengolah kembali makanan sisa lainnya, langsung meluncur aja ke tulisannya mak Maya diatas yaaa.

Pada intinya, makanan sisa akan dipanaskan, diolah kembali atau malah justru dibuang, semuanya kembali lagi ke kebiasaan keluarga masing-masing ya. Eits tapi jangan lupa, bahwa memang nggak semua sayuran bisa dipanaskan kembali. Makanan yang dipanaskan pasti berkurang kandungan gizinya, bahkan ada juga beberapa jenis sayur yang bisa menjadi "racun" jika dipanaskan. Berikut 3 macam sayuran yang tidak boleh dipanaskan kembali:

1. Bayam

Kalo dirumah, memasak sayur bayam memang diberi pengecualian, biasanya kuahnya termasuk bumbu udah dimatengin dari pagi. Pas sore menjelang makan malem, baru kuahnya dipanaskan dan dicemplungin bayemnya. Kalo nggak abis malem itu, pasti besoknya langsung dibuang. 

Karena Bayam mengandung asam nitrat yang jika dipanaskan akan berubah jadi nitrit. Dan jika masuk ke dalam tubuh kita, akan menjadi salah satu penyebab munculnya kanker. Hmmm, serem ya? Oleh karena itu disarankan langsung memakan bayam  yang sudah dimasak ya!

2. Seledri

Seledri, salah satu sayuran yang suka dimasak di dalam sup ternyata memiliki sifat yang sama dengan bayam.  Yang jika dipanaskan akan berpotensi memicu munculnya sel kanker dalam tubuh kita. Jadi kalo memang menggunakan seledri di dalam sup, jika mau memanaskan supnya, lebih baik seledrinya dibuang dulu ya. 

Kalo dirumah, saat masak sup biasanya seledrinya langsung aku masukin nggak pake dirajang dulu. Jadi kalo mau dipanaskan supnya, gampang deh ngambil seledrinya untuk dibuang. Hehe.

3. Brokoli

Sayuran kesukaan Una ini ternyata juga memiliki kandungan asam nitrat yang cukup tinggi, yang jika dipanaskan ulang akan berubah menjadi nitrit yang berbahaya untuk tubuh kita. Penyajian brokoli yang paling baik adalah dengan cara dikukus dengan menambahkan sedikit garam diatasnya. Seperti bayam, baiknya brokoli juga langsung dihabiskan sekali makan ya.

Selain 3 sayuran diatas, ternyata kentang juga termasuk jenis makanan yang sebaiknya nggak dipanaskan lagi. Karena kentang yang dipanaskan bisa menimbulkan gangguang pencernaan pada tubuh kita. 

Hmm, jadi kalo memang mau memanaskan atau mengolah kembali, kita kudu lebih cermat dan teliti lagi ya. Akupun masih team #PanasinMakananSisa kok, soalnya sayang kalo buang-buang makanan. Atau kalo bisa sekali masak langsung dihabiskan aja ya, jadi nggak ada sisa makanan. Hihi. Yang pasti sih jangan buang-buang makanan, mubadzir ya bu-ibu. Kalo dirumah kamu gimana, tim #PanaskanMakananSisa, atau #BuangMakananSisa?

"Anaknya ASI nggak nih?"
"Anaknya masih ASI?"
"Anaknya ASI sampe umur berapa?"

Mari Sebarkan Cinta Untuk Semua Ibu Menyusui! - Bu-ibu yang sudah memiliki anak, apakah kalian sudah kenyang dengan pertanyaan diatas? Kalo aku sendiri, sebagai ibu dengan dua anak, sesungguhnya udah cukup kenyang banget sama pertanyaan-pertanyaan diatas. Pertanyaan ini sesungguhnya akan memunculkan perdebatan panjang kalo ditanyakan di jaman sekarang, khususnya kalo jawabannya si anak minum sufor.

Baca juga tulisan Kak Istiana Sutanti tentang ASI: ASI dan Perkembangan Media Sosial

My Confession about ASI

Sesungguhnya dengan berat hati dan takut di-bully, disini aku mau mengatakan bahwa Una, anak pertama aku nggak lulus ASIX dan minum sufor di usia 3 bulan. 

Sebelum ada yang mau nge-judge, mari dengarkan dulu apa penyebabnya. Waktu itu aku melahirkan Una saat masih kuliah semester 4 di kampus tercinta. Dan karena kampus sistem SKSnya paketan, jadi aku memutuskan untuk nggak ambil cuti melahirkan, cuma ijin nggak masuk selama 4 kali pertemuan aja, alias 1 bulan aja. 2 minggu aku ambil sebelum melahirkan, dan 2 minggu aku ambil setelah melahirkan. 

Dengan masalah puting rata, sesungguhmya masa-masa awal menyusui Una memaang cukup 'berdarah-darah', tapi i'm not a quitter! Alhamdulillah suami dan keluarga mendukung banget untuk ASIX, jadinya alasan sulit menyusui karena puting rata bukan penyebab aku ngasih sufor ke Una.

Jadi waktu itu, setelah aku kembali ngampus di umur Una 2 minggu, aku menyadari bahwa, kamar mandi kampus nggak mendukung sebagai tempat pumping ASI. Waktu itu di kampus cuma ada dua bilik kamar mandi, satu untuk laki-laki dan satu perempuan. Kampus aku memang kampus kecil, satu angkatan kurang lebih 100 orang, dan sebagai kampus Diploma III, yang berarti ada 3 angkatan dalam 1 kampus, jumlah mahasiswanya kurang lebih 300 orang. Dan kampus kecil itu memang cuma punya dua bilik kamar mandi. (FYI: Itu tahun 2010 ya, kalo sekarang mah gedung kampusnya udah pindah ke gedung besar depan stasiun TVnya, dengan kamar mandi yang luas, bersih dan banyak biliknya. Hihi.)

Dan apakah aku menyalahkan kampus aku karena itu? Ya nggak dong ya, waktu itu aku jadi mahasisiwi pertama yang udah memiliki anak di kampus. Jadi aku maklum banget kalo kampus nggak memperhatikan aspek-aspek pentingnya tempat untuk pumping ASI.

Sesungguhnya kamar mandi kampus cukup bersih walaupun nggak luas, tapi tetep aku nggak tega ngebayangin bakal mompa ASI yang akan diminumkan ke Una di dalam kamar mandi itu. :') Belom lagi kalo ada yang ngetok-ngetok kamar mandi pas aku didalem, mompa ASI kan ngga bisa sebentar. Akhirnya, akupun cuma mompa ASI sebelum berangkat dan setelah pulang kuliah.

Dan itu nggak cukup, hingga akhirnya dengan berat hati akupun beli susu formula untuk Una diusianya 3 bulan. Sedih nggak sih nggak bisa ASIX untuk Una? Sedih bangeeet! Tapi aku bakal lebih sedih lagi kalo sepanjang aku kuliah Una nangis dan rewel karena laper dan ngga ada persediaan ASI di rumah. 

Dan aku tau betapa pentingnya bonding yang terbentuk antara ibu dan bayinya di masa-masa menyusui, dan betapa besarnya pengaruh bonding itu untuk masa depan si anak. oleh karena itu, sepulang kuliah aku tetep minumin Una ASI langsung dari aku  sampe umurnya 1 tahun. 

Beda dengan anak pertama, anak kedua aku Rizqi, lahir tepat 3 hari sebelum aku diwisuda. Dan setelah lulus kuliah, akupun memutuskan menjadi ibu rumah tangga dengan dua anak bayi yang beda umurnya cuma 1 tahun aja. Dengan 100% waktu dirumah, akupun sukses memberi ASIX ke Rizqi selama 6 bulan pertama dan lanjut sampe umurnya 4 tahun!

ASI, MomWar dan Social Media

Perkembangan sosial media khususnya facebook di jamannya anak-anak aku baru lahir sama sekarang-sekarang ini juga jauh beda. Jaman sekarang, tombol share di facebook itu udah jadi primadona banget. Ada resep makanan enak klik share. Ada ide-ide unik nan lucu, klik share. Ada berita atau hosip terkini, klik share. Ada info-info terbaru, klik share. Ada meme-memean yang bisa buat nyinyirin orang, klik share. Ada artikel yang cocok untuk nyentil pasangan, klik share.

Dan nggak jarang, ketika ada artikel tentang ASI yang di share disana juga lah ada aja perdebatan alias momwar yang terjadi.

Kaya beberapa saat yang lalu, aku liat seorang rekan blogger yang share tantang acara memperingati pekan ASI yang disponsori oleh produsen botol bayi. Ada aja gitu yang komen kira-kira garis besarnya gini nih, "Wah salah banget nih produsen botol bayi ngadain acara tentang ASI. Dia aja produksi botol dan dot, berarti dia nggak pro ASI dong?" Dan saat itu aku langsung, seriously? Ni orang komen tanpa basa-basi dulu. Dengan bahasa yang menurut aku langsung memancarkan kesinisannya kepada blogger yang sharing acara tersebut.

Memberi ASI setau aku memang paling baik adalah langsung dari si ibu. Paling bagus juga, kalo memang mau memberi ASIP (ASI Perah) adalah dengan sendok yang langsung disuapi ke si bayi, biar nggak bingung puting. Tapi memberi ASI dengan botol menurut aku bisa jadi salah satu opsi juga kok, apalagi kalo si ibu bekerja dan yang ditugasi untuk menjaga si bayi saat si ibu bekerja, orangnya nggak telaten.

Haruskah, sahabat pro ASI tersebut berkomentar dengan sinisnya kepada blogger yang share acara tersebut?

Mari Sebarkan Cinta Untuk Semua Ibu Menyusui!Sesungguhnya, akupun pernah mengalami sebuah pengalaman nggak enak sama seorang bu-ibu yang lagi pumping ASI. Diumur Una 7 bulan, aku sempet magang di salah satu kantor bareng suami. Waktu itu kebetulan suami aku sendiri ya yang ngalamin langsung, ada salah seorang karyawati disana yang lagi bersihin pompa ASInya setelah memompa ASI di kamar mandi. Dengan polosnya suami akupun negur karyawati tersebut dan menyatakan kekagumannya tentang si mbak yang masih mompa ASI ditengah kerjaannya, yang disusul dengan cerita tentang aku yang enggan mompa ASI di kamar mandi dan memilih memberi sufor ke Una saat aku nggak dirumah.

Tanpa diduga-duga, si mbak tersebut langsung ngomel sama suami *untung aku nggak ada disana, udah balik duluan*, di tengah-tengah kantor dan ceramah tentang pentingnya ASI serta payahnya aku jadi ibu yang ngasi sufor ke anaknya. *pukpuk pak suami*

Padahal si mbaknya nggak tau loh alasan kenapa aku ngasih sufor ke Una. Dan dia juga nggak tau kalo aku tetap ngasi Una ASI langsung dari aku kalo aku dirumah. Sejak saat itu aku memilih untuk nggak mendekati kubikel tempat mbak itu bekerja, bukannya apa, aku takut aja dia ngenalin aku sebagai si-ibu-yang-payah-karena-ngasi-sufor dan nyemprot aku disana. Bisa nangis kejer ntar gue :'(

Saat itu aku juga langsung berpikir, haruskah ibu itu menyatakan pendapatnya tentang aku dengan begitu kasar dan sinisnya? Apakah aku ibu yang nista banget karena gagal memberi ASIX ke Una?

Dan sekarang kalo pertanyaan ini muncul, "Anak pertamanya dulu ASI sampe umur berapa tahun?"
Mama Dian pun akan menjawab "Satu tahun"  dengan senyum manis terlebar nan keibuan. Itu fakta kok. Walaupun di umur 3 bulan, Una sempe minum sufor juga. Aku bener-bener enggan memicu momwar dan enggan merelakan diri untuk disemprot secara langsung.

Emang setiap kaum ProASI sinis ya menyampaikan pendapatnya, mama Dian? Ya nggaklah, aku kenal banyak kok kaum-kaum ProASI yang supportif dan super komunikatif banget  dalam menyampaikan pendapatnya tentang ASI kepada bu-ibu yang tampaknya kesulitan memberikan ASI untuk anaknya.

Semua ibu pasti setuju kalo ASI adalah yang terbaik untuk anaknya. Aku pun SETUJU itu. Namun setiap ibu tentunya punya keadaan yang berbeda-beda dan kesulitan yang nggak sama dalam memberi ASI untuk anaknya. Dan yang mereka butuhkan adalah dorongan dan support yang baik, bukannya dorongan dalam bentuk bully-an. 

"You cant really understand another person's experience until you've walk a mile in their shoes"

Memberi ASI sesungguhnya adalah sebuah proses dan perjalanan yang nggak mudah untuk semua ibu menyusui. Kita nggak bisa menjudge seseorang tanpa tau gimana keadaan orang tersebut. Mari mommies, kita sama-sama bergandengan tangan untuk memberikan dorongan yang positif untuk para ibu yang menyusui. Because their need our support not a bully!


THR Anak-Anak, Buat Apa Ya? - Ngomongin THR Anak, rasa-rasanya pengen balik ke jaman kecil ya. Pas lebaran, saatnya silaturahmi adalah saat-saat ngarep THR. Ya dari pakde, bude, tante, om, eyang-eyang. Seruuuu. Suami dulu cerita, jaman SDnya dia bisa dapet 300 - 500ribu. Kalo aku, cuma 100 - 300ribuanlah. Dan dari jumlah yang aku dapet, biasanya separonya dipalak mama. Waktu kecil sih ngiranya dipalak yaaa, padahal pas sekarang baru kepikiran, bukan dipalak, tapi disimpenin. Hihi

Dan sekarang setelah punya anak dua, akupun jadi megang THR anak-anak lagi. Punyanya Una sama Iki maksudnyaaa. Hihi. Kebetulan dua krucilnya mama Dian belum ngerti uang sama sekali, jadi kalo ada yang ngasi amplop THR, langsung deh simpen ditas mama Dian. Alhamdulillah tahun ini total-totalnya THR dua anak itu sekitar 1 jutaan lebih. Makasi ya oma opa eyang eyang om dan tante yang ngasih Una sama Iki, mama Dian doain semoga rejekinya lancar terus ya, dan diganti yang lebih baik lagi sama Allah. Aaaaaaaaaaamiiinn.  Jadi tahun depan bisa ngasih THR lagi yang lebih besaaar :p

Terus terus teruuus, agak bingung sesungguhnya awalnya mau diapain aja uangnya. Mau disimpen semuanya kah? Mau buat beli mainan aja? Atau jalan-jalan? Atau buat mama Dian beli novel? *eh*

Akhirnya setelah dipikir-dipikir dan dipikir THR Anak-anak itu mama Dian gunakan untuk 3 hal di bawah ini:

1. Beli mainan
Karena sebenernya ini uang mereka juga, jadi menurut mama Dian uang ini jadi haknya merek mau dipake untuk apa. Dan kalo ditanya mau untuk apa, pasti jawabannya adalaaaaah beli mainan! Jadilah, 1/3 uang tersebut dipergunakan oleh mereka untuk beli mainan yang mereka pilih sendiri. Ya gapapalah yaaa, biar mereka ngerasain uang mereka sendiri juga kan? :D

2. Ditabung
Yak, 1/3 selanjutnya langsung mama Dian sisihkan untuk ditabung. Langsung aku masukin amplop terus masukin lemari. Pokoknya amankan dulu, ga aman banget soalnya kalo masih bertengger di tas apalagi dompet mama Dian. Takutnya nanti malah nggak jelas ya dipake apa x)

2. Jalan-jalan
Termasuk di dalamnya main di arena permainan anak-anak di FunWorld dan makan dan jajan-jajan. Karena liburan masih panjang dan uang mereka juga masih ada, dan pas ditanya lagi mau beli apa pasti jawabnya mainaaann. Mainan sebelumnya udah teronggok dipojok kamar padahal. Yaudah, dipake untuk mereka main aja. Yang penting sebagian udah disimpen kaaannn. Hihihii

Yak jadi begitulah pengaturan penggunaan uang THR anak-anak tahun ini. separo-separolah jatohnya, separo ditabung, separonya lagi untuk ngebuat seneng anak-anak. Udah bener belom ya begini? Kalo mommies yang lain gimana, uang THR anak-anaknya untuk apa aja yaaa? Ditunggu sharing-sharingnyaaaa :D

Assalamu'alaikum Wr. Wb.

Adriana Dian dan Hepri Prasetio 
mengucapkan
Selamat hari raya Idul Fitri 1437H
Mohon Maaf lahir dan Batin
Semoga segala amal ibadah kita di Ramadhan kemarin diterima oleh Allah SWT
dan semoga kita semua diberikan kesempatan untuk berjumpa dengan Ramadhan tahun depan yaaaa
Aaaaaaamiinn :)

Alhamdulillah kita semua masih diberi kesempatan merayakan lebaran tahun ini ya. Lebaran tahun ini aku, suami dan anak-anak merayakannya di rumah nenek mertua di daerah Cengkareng. Seperti biasa pagi-pagi kita sholat ied lalu langsung cuss ke rumah nenek mertua yang jadi basecamp saudara-saudara untuk kumpul, kemudian kita bersama-sama nyekar ke makan eyang bersama saudara-saudara lainnya. Dan sesnungguhnya lebaran tahun ini beda karena hari kedua lebaran, suami langsung ninggalin aku naik gunung. Alam sudah memanggil katanyaaaaaaa :') Tunggu cerita suami yang naik Gunung Prau di Adriana Dian's Blog yaaaaa ;)

Dan hari ini alhamdulillah bisa kembali ngeblog lagi setelah cuti ngeblog lebaran kemarin. Hihihii. Sebagian besar karyawan udah mulai masuk kerja juga kaaaannn. Dan anak-anak sekolah alhamdulillah masih libur sampai senin depan. Hihi. Mari semuanya semangat kembali beraktifitas yaaaaaaaaa!
http://www.adrianadian.com/2016/04/pindah-dari-apartemen.html

Assalamu'alaikum :)

Setelah peristiwa kebakaran rumah tiga tahun yang lalu, suami, aku dan anak-anak sempat menempati sebuah apartemen di daerah Kelapa Gading, Jakarta Utara. Tinggal di unit ini merupakan pengalaman pertama aku hidup mandiri sama suami dan anak-anak. Waktu itu Luna baru berumur 4 tahun, dan Rizqi 3 tahun. Hepri kerja full day dari Senin sampai Jum'at, berangkat jam 7 pagi dan pulang jam 7 malem. Dan tinggal di apartemen ini jadi tantangan banget nih buat aku yang waktu itu masih berumur 23 tahun, untuk jadi ibu rumah tangga yang mandiri. 

http://www.adrianadian.com/2016/04/pindah-dari-apartemen.html
"Rumah Smurf", sebutan kesayangan kita untuk unit apartemen ini :)

Aku menempati salah satu unit dengan dua kamar, satu ruang TV, satu kamar mandi dan satu balkon untuk menjemur pakaian. Dengan fasilitas apartemen yang bisa dibilang cukup lengkap ya mulai dari foodcourt, minimarket, kolam renang, lapangan basket, lapangan sepakbola dan playground untuk tempat bermain anak-anak.

Awalnya memang aku pikir bakal seru ya tinggal mandiri di apartemen, dan emang berasa seru sih di bulan pertama. Karena semuanya disini lengkap, mau makan apa aja ada, mau jajan banyak pilihan, mau jalan ke Mall Kelapa Gading paling cuma 15 menit. 

Tapi akhirnya dua bulan kemudian kita memutuskan pindah dari apartemen ini. Lho katanya seru tinggal di apartemen, kok pindah sih? Naaaaah, berikut ini aku ceritakan ya 5 alasan aku pindah dari apartemen:

1. Nggak bisa hemat
Keluarga kecil aku saat itu bisa dibilang, belom terlalu stabil ya keuangannya. Dan aku masih belajar banget mengelola keuangan keluarga. Biaya sewa, biaya listrik, air dan iuran maintanancenya sebenernya masih bisa ke handle sama pendapatan suami. Yang dirasa cukup berat itu biaya belanja hariannya. Kalo untuk mama papanya masih bisa jajan, tapi kalo untuk anak-anak harus masak dong ya..

Harga cabai yang biasa aku beli di abang sayur depan rumah berkisar antara 2000-3000 rupiah satu plastiknya. Di toko penjual sayur di apartemen, semua sayuran perplastik kecilnya dihargai 5000 rupiah. Kalo pas dirumah, dipegangin 50ribu masih cukup untuk belanja, kalo di apartemen rasa-rasanya kurang yah.. mau diteken-teken sampai hemat pun, minimal pasti lebih dari 50 ribu ya. Seringnya sih sampe 100 ya, kalo ditambah sama anak-anak yang mampir ke minimarket atau toko roti yang ada di apartemen.

Tabungan? Apa itu tabungan? Tiap bulan nggak bisa nabung, sampe akhirnya kita mikir masa mau terus-terusan ngga punya tabungan sih? Anak-anak mau sekolah masa kita ngga punya tabungan sih? :')


2. Berasa tinggal sendirian di satu lantai
Kebetulan aku menghuni salah satu kamar di lantai 23, FYI lantai tertinggi di gedung apartemen aku lantai 30 ya kalo nggak salah. Jadi kalo kita udah rame nih naik lift bareng sama penghuni lain dari lantai dasar, pasti nggak banyak yang tersisa kalo udah sampe lantai aku. Bahkan, kadang cuma kita sekeluarga sendiri yang turun di lantai 23 itu. 

Pas keluar lift pun rasanya sepi banget. Dan selama dua bulan tinggal disana, aku belom pernah ketemu sama penghuni kamar sebelah. Suara-suara dari dalem unit lain pun ngga ada, karena sepertinya di setiap pintu ada peredam suaranya ya. Fix deh, di satu lantai yang pastinya berisi lebih dari 50 unit dan 50 keluarga, aku benar-benar merasa tinggal sendirian.


3. Susah cari parkir
Walaupun aku belom punya mobil pribadi, tapi kasus susah cari parkir ini sering banget menimpa mama papa aku yang main ke apartemen. Si papa kadang suka males main ke apartemen karena susah banget cari parkir di depan gedung apartemen aku. Naik taksi pun ngga bisa leluasa berenti di depan lobby gedung apartemen, karena lalu lintasnya padet banget, apalagi kalo melem hari. Aku belom punya mobil aja udah penuh ya parkirannya, gimana kalo aku udah punya mobil sendiri?

4. Terbatasnya ruang gerak anak-anak di dalam apartemen
Sesungguhnya, sebelum menempati apartemen ini, suami aku juga udah survei ke beberapa kontrakan untuk jadi alternatif tempat ngungsi sementara kita. Sayangnya, kebanyakan rumah kontrakan meminta pembayaran sewa untuk setahun full, jadilah akhirnya kita ngungsi ke apartemen yang menerima pembayaran bulanan ini.

Kalo untuk fasilitas, memang lengkap ya disini. Tapi tetap aja ya begitu udah masuk ke unit apartemen, aku berasa ngurung anak-anak. Kegiatan anak-anak waktu itu kebagi dua antara nonton film dan main berdua.

Main ke playground di bawah juga seru sih, tapi tetap aja aku nggak bisa ke playground setiap waktu kan? Karena banyak tugas rumah yang harus aku kerjain. Jadi paling waktu main ke playgroundnya, kalo ngga pagi ya sore hari aja.  Beda kali ya kalo tinggal di rumah kontrakan biasa, keluar pintu langsung menghirup udara segar. Kalo di apartemen, menghirup udara segar perlu turun dulu 20 lantai. Balkon ada sih, tapi sempit dan serem banget kalo ngebiarin anak-anak main disana. Pintu balkon pun jarang dibukanya, dan AC nyala hampir 20 jam lebih sehari.

http://www.adrianadian.com/2016/04/pindah-dari-apartemen.html
Main di playground apartemen


5. Sekolah pilihan yang cukup jauh dari apartemen
Kebetulan waktu itu Luna sudah memasuki usia TK dan rencananya aku mau masukin dia sekolah di tahun itu juga. Di apartemen juga ada sekolah semacam PAUD, tapi sayangnya fasilitasnya kurang mendukung karena ruang belajarnya hanya menggunakan ruangan serbaguna di salah satu gedung apartemen aja. Sekolah terdekat yang ada pas di depan apartemen, cuma sekolah swasta Kristen. TK Islam yang aku taksir, jaraknya lumayan. Sayangnya nggak ada akses angkot kesana, bajaj jarang, naik taksi kedeketan, kalo bawa motor sendiri? Naik sepeda aja nggak bisa! :p Yasudalah, alasan terakhir ini akhirnya jadi alasan kuat aku dan suami untuk meninggalkan apartemen.

5 alasan itulah yang ngebuat aku akhirnya memutuskan untuk meninggalkan apartemen dan balik lagi ke rumah mama papa yang baru selesai di renov setelah kebakaran. Eaaaa, balik nggak mandiri lagi dong yaaa? Selain untuk nemenin mama yang pernah terserang stroke ringan dan sendirian dirumah sehari-hari (karena anggota keluarga yang lain yang lain pada sekolah dan kerja), nabung pun jadi alasan utama juga ya. Sekarang dua tahun berlalu, aku masih nabung untuk DP rumah/mobil juga sih. *Lama ya kekumpulnya :p* Luna pun akhirnya aku daftarkan sekolah tahun itu juga, di TK Islam yang ngga terlalu jauh dari rumah.

Jadi, alasan-alasan diatas merupakan alasan yang aku buat dari sudut pandang seorang ibu-rumah-tangga-dengan-dua-balita-yang-sedang-memulai-membangun-rumah-tangga ya. Kalo untuk yang masih single atau keluarga yang sudah lebih mapan dan mandiri, mungkin akan berbeda pengalamannya yaaa.

Dua bulan tinggal mandiri di apartemen tetap jadi pengalaman yang nggak akan terlupakan untuk aku sama anak-anak. Banyak serunya juga kok tinggal di apartemen. Sekarang kalo nggak sengaja lewat depan gedung apartemennya, aku pasti nanya sama anak-anak "Mau nggak main kesitu?"Anak-anak langsung semangat jawab "Mau!" Hihihi.

Aku dan suami sih akhirnya menyimpulkan bahwa kita akan lebih memilih rumah biasa aja ya untuk tempat tinggal keluarga kecil kita. Lebih nyaman, lebih aman, dan lebih bebas menghirup udara segar juga ya pastinya :) Kalo kamu, lebih milih tinggal di rumah biasa atau di apartemen?

Thank you for walking here :)
Wassalamu'alaikum

Assalamu'alaikum :)

http://www.adrianadian.com/2016/03/bluebird-vs-uber-grabcar.html


Taksi resmi VS taksi online. Beberapa hari belakangan kita dihebohkan oleh demo taksi besar-besaran yang menuntut taksi online seperti Uber dan Grabcar segera ditutup. Tadinya aku sempet mikir, kenapa sih taksi-taksi itu pada ribut? Rejeki kan sesungguhnya udah dituliskan sama yang diatas ya, ngga akan ketuker. Dan sebagai konsumen, aku boleh dong ya memilih transportasi yang harganya tentunya lebih murah plus setara pula tingkat kenyamanannya.

Sebelumnya, aku yang belom punya mobil pribadi ini merupakan fans Blue Bird garis keras. Dan baru tiga kali naik taksi online, harganya jauh lebih murah, mobilnya bagus dan so far dapet driver yang baik-baik sih.. Jadi agak sebel lah, kalo tiba-tiba taksi online ditiadakan. Masa aku mesti balik lagi ke taksi resmi yang argonya dua kali lipet taksi online?

Tapi kemarin, setelah kembali naik Blue Bird untuk pergi ke suatu acara bareng anak dua, karena suami ngga mengizinkan naik taksi online, takut ngga aman soalnya. Bertemulah aku sama pak driver Blue Bird yang super ramah ini. Cerita bapak driver tentang dampak taksi online terhadap taksi blue bird ini bikin aku speechless.

Dan inilah, fakta yang dikemukakan bapak driver itu tentang taksi Blue Bird setelah munculnya taksi online:

1. Demo menentang taksi online kemarin adalah pertama kalinya Blue Bird ikut berdemo, setelah sekian lama Blue Bird tidak pernah ikut berdemo.
"Saya juga heran loh Bu, biasanya Blue Bird mana ikut-ikut demo kaya gitu.. Ini karena dampaknya udah berasa sekali Bu, untuk para supir taksi Blue Bird.."
Wow, berarti masalahnya udah gawat banget dong ya, sampe blue bird yang biasanya sabodo amat kalo para taksi demo, sampe sekarang juga ikut mengirim sekitar 150 driver untuk demo besar-besaran kemarin.

2. Pendapatan menurun drastis.
"Sudah beberapa waktu belakangan saya nombok terus bu untuk setoran perharinya, saya sampe menggadaikan BPKB untuk bayar kontrakan dan biaya anak sekolah.. Ya karena para konsumen lari ke taksi-taksi online itu.."
"Biasanya jam 10 pagi saya udah megang minimal 100ribu bu, Tapi semenjak ada taksi online, saya mesti keluar jam 5 pagi dan pulang jam 2 malem. Dan itupun kadang belum dapet full setoran sampe saya harus nombokin kekurangannya.."
Sedih ya dengernya.. :(

3. Penumpang pun berkurang.
"Ibu liat aja bu disekeliling Ibu, taksi-taksi udah ngga sebanyak dulu kan bu. Apalagi selain taksi biru. Udah jarang banget bu sekarang penumpang yang memberhentikan taksi di pinggir jalan.."
Iya ya, jaman udah berubah juga sih ya.. Sekarang apa-apa lewat aplikasi. Akupun pesen Blue Bird via aplikasi di henpon.

4. Dampak penurunan pendapatan, tidak langsung dirasakan oleh pihak Blue Bird. Tapi dirasakan langsung oleh para driver.
"Kemarin di TV ada debat tentang taksi bu, ada perwakilan Blue Bird juga. Pas ditanya Blue Bird mengalami kerugian nggak karena taksi online ini, beliau sih jawabnya nggak.."
Kemudian setelah aku mengobrol lebih lanjut dengan pak driver, ternyata Blue Bird memang nggak mengalami kerugian secara langsung. Kenapa? Setiap driver memiliki minimal pendapatan harian sebesar Rp. 550.000,- dan minimal pendapatan itu pun tidak berubah setelah ramainya taksi online. Yang mengalami dampak langsung justru para driver sendiri, kebanyakan dari mereka harus nombok untuk minimal pendapatan ini setelah menjamurnya taksi online yang bersaing mencari penumpang dengan mereka. (Note: Minimal pendapatan harus dicapai untuk memenuhi syarat hari kerja dan mendapatkan komisi penghasilan)
"Tapi memang bonus kita ditambah sih Bu, kalo kita tetap bisa dapet pendapatan harian rutin Rp. 550.000,- itu.."
Jadi intinya, Blue Bird nggak mengurangi minimal pendapatan harian para driver tapi menambah bonusnya agar para driver lebih semangat lagi dalam mencari penumpang.

5. Banyak istri para driver yang menjadi insecure karena penurunan pendapatan ini.
"Banyak loh bu, istri-istri driver yang jadi curigaan sama suaminya, bahkan ada yang sampe nyusulin suami ke Jakarta. Mereka takutnya suaminya main perempuan, soalnya pendapatannya kan berkurang.."
*speechless* *nggak bisa nomong apa-apa* :(

6. Ada banyak driver para taksi online itu adalah teman-teman mereka sendiri yang hengkang dari Blue Bird.
"Para driver itu sebenernya ya temen-temen kita sendiri Bu, ada yang keluar karena mau jadi Grab. Ada yang nyicil rumah sembari nyicil mobil, 6,5 juta perbulan dan itu nutup kalo kerja di Grab."
Pendapatan para supir GrabCar ini memang wow banget ya, bahkan katanya bisa sampe 20 juta loh perbulan!

7. Yang diinginkan taksi resmi ini adalah taksi online harus mengurus ijin resmi mereka agar sah menjadi transportasi umum di Jakarta. 
"Ya kita cuma inginnya bersaing secara sehat. Keputusan terakhir sih seharusnya Grab dan Uber ditutup sementara dan diminta segera mengurus izin resmi untuk jadi transportasi umum di jakarta. Urus plat kuning, pajak dan lain-lainnya. Kan nggak mudah loh Bu, mengurus semua itu. Kalo mereka punya semua itu juga saya yakin tarif mereka nggak akan semurah sekarang"
Aku pun ngangguk-ngangguk denger penjelasan pak Driver ini. Masuk akal sih kalo menurut aku, tuntutan yang diajukan para driver ini.

Dalam hati, akupun minta maaf ke pak supir ini, karena sebelumnya sempet berburuk sangka sama mereka semua. Tapi setelah denger curhatnya pak supir taksi ini, aku sekarang bisa ngerti sih kenapa mereka maunya taksi online ditutup. Intinya mereka cuma mau bersaing secara sehat aja..

Tapi biar bagaimanapun juga, semuanya  pada akhirnya kembali ke penumpangnya ya. Semua konsumen pasti maunya harga yang paling murah dan pelayanan yang paling memuaskan kan? Semoga baik itu taksi resmi maupun taksi online, bisa bersaing secara sehat dengan meningkatkan kualitas pelayanan masing-masing ya. Aaaaamin.

Kalo kamu gimana? Lebih pilih taksi resmi atau taksi online?

Thank you for walking here :)
Wassalamu'aikum

Custom Post Signature

Custom Post  Signature