Showing posts with label #CollaborativeBlogging. Show all posts
Showing posts with label #CollaborativeBlogging. Show all posts

Memasuki semester 2 tahun ajaran 2016/2017 ini, siapa mama-mama yang anaknya akan menghadapi Ujian Nasional? Deg-degan nggak sih Mam? Kebetulan Una dan Abang masih pada TK, jadinya aku belom tau nih gimana rasanya jadi mama yang anaknya bakal menghadapi Ujian nasional. Pasti deg-degan lah yaaaa..

(Baca juga tulisan mak Rizky: Agar Anak Semangat Menyambut UAS)

Tapi sebagai seorang anak yang dulu juga pernah melewati Ujian Nasional, aku udah tau nih kira-kira gimana perasaan si anak saat menghadapi Ujian Nasional. Nah dari pengalaman melewati Ujian Nasional itu, agaknya aku jadi bisa mengira-ngira gimana sih aku bakal bersikap saat Una dan Abang menghadapi Ujian Nasional mereka nanti? Jadi begini lah kira-kira tips untuk mama saat anak akan menghadapi Ujian Nasional:

1. Keep Calm, Don't Panic!

Sesungguhnya aku ini ibu-ibu yang agak suka panikan sih kalo menghadapi sebuah situasi. Terutama situasi tentang anak-anak. Tapi untuk menghadapi anak-anak yang akan menempuh Ujian Nasional nanti, aku akan mengusahakan untuk tetap tenang dan nggak panik. Panik dalam artian, ngejer-ngejer anaknya untuk belajar terus 24/7. Takutnya kepanikan tersebut 'nular' juga kan ke anak-anak, kalo mereka ikut panik juga saat mau menghadapi ujian, bakal mengganggu konsentrasi mereka kan Ma?

Jadi walaupun dalam hati berasa dag dig dug karena anak mau ujian, harus tetap keliatan tenang nih di depan anak-anak. Ngingetin mereka untuk tetap belajar mah teteup, ya! Tapi ngingetinnya secara santai dan baik-baik aja, nggak usah pake panik ya, Ma.

2. Full Support Penuh Semangat

Support disini dalam artian memberikan suasana yang enak untuk mereka belajar, kalo perlu beliin atau buatin beberapa minuman dan cemilan kesukaan mereka untuk menemani mereka belajar. Kalo keliatannya mereka jenuh, cuss hayuk lah ajak jalan bentar biar mereka fresh lagi untuk belajar. Kalo support dengan do'a udah pasti yang pertama ya, Ma.

3. Katakan bahwa Mama Percaya Dengan Mereka

Setelah melalui segala waktu yang telah mereka habiskan dengan belajar, tepat disaat mereka akan berangkat sekolah untuk melaksanakan ujian. Jangan lupa tatap mata mereka dan bilang bahwa mama percaya mereka pasti bisa melewati ujiannya dengan mudah dan bahwa do'a mama selalu bersama mereka. Karena 'positive thingking' itu menular dan mereka pasti lebih percaya diri dalam mengerjakan ujiannya karena mereka tau, mama selalu mendo'akan yang terbaik untuk mereka.

Nah kira-kira itulah yang akan aku lakukan 7-8 tahun mendatang ketika #UnaAbang akan menghadapi Ujian Nasional pertama mereka. Teori diatas keliatannya mudah ya, semoga prakteknya juga semudah aku menuliskan teori diatas yaaaa. Hihihi. Kalo mama-mama yang anaknya udah pernah menghadapi Ujian Nasional, apa nih yang dilakukan untuk men-support mereka? Kalo berkenan, boleh share di kolom komen ya, Ma😊

Arisaaaan! Siapa yang suka ikut arisan bu ibuuu? Menurut Wikipedia, Arisan adalah sekelompok orang yang mengumpulkan uang secara teratur setiap periode tertentu. Setelah terkumpul akan diundi untuk mendapatkan pemenangnya. 

(Baca juga tulisan mak Irawati Hamid: Seberapa Pentingkah Ikut Arisan?)

Akupun merupakan salah seorang peserta arisan bareng bu-ibu di sekolah. Namanya juga sekelompok orang yang berkumpul ya, mau nggak mau pasti ada drama-nya ya, ada konfliknya. Terutama menyangkut uang, keadaan suka berubah menjadi sensitif ya kalo ada masalah-masalah yang menyerempet kesana. Emang apa aja sih drama dalam arisan? Biasanya sih asal mula drama tersebut bersumber dari 2 hal berikut ini:

1. Anggota Arisan

Jaman SMA dulu aku pernah ikutan arisan, tapi para pesertanya nggak bertanggung jawab. Akhirnya bubar deh arisannya gitu aja, padahal udah setengah jalan. Hiks. Untungnya cuma dalam jumlah kecil aja arisannya, jadi gampang mengikhlaskannya. LOL 

Pastinya dalam mengatur sekian banyak orang dalam sebuah kelompok arisan itu nggak mudah ya. Agak ngeri-ngeri gitu ya kalo ikut arisan tapi aku nggak kenal sama sekali dengan peserta yang lainnya. Makanya sekarang aku suka lebih selektif lagi kalo mau ikut arisan, liat-liat anggotanya dulu, lebih baik ikut arisan yang aku kenal aja pesertanya dan pesertanya harus ada di lingkungan terdekat aku aja.

2. Si Penanggung Jawab Arisan

Jadi pada jaman dahulu kala, aku pernah ikut arisan. Awalnya semuanya lancar sampe akhirnya ada salah satu anggotanya yang udah dapet arisan tapi uangnya belum sampai ke dia. Bahkan dia nggak tau kalo dia dapet arisan karena kebetulan nggak ikutan pas ngocok arisannya. Ternyata uang tersebut dipake dulu sama si penanggung jawab arisan untuk urusan pribadinya. Alhamdulillah setelah itu uangnya bisa dikembalikan dan masalah selesai dengan damai.

Melihat dulu siapa si penanggung jawab arisan kita juga penting ya, seperti apa orangnya, dan dimana rumahnya. Tentunya agar sebuah arisan berjalan dengan lancar, kita memerlukan penanggung jawab arisan yang amanah ya.

Arisan itu bagus untuk menjaga silaturahmi sekaligus bisa juga menyimpan 'uang simpanan' kita. Tapi tentunya harus berhati-hati dan lebih selektif jika mau ikut arisan ya. Jangan sampe niat kita untuk menyimpan uang malah berujung ke kehilangan uang. Hiks. Ada yang pernah punya pengalaman buruk juga nggak saat ikut arisan? Cerita-cerita dong, di kolom komen yaaaaa😁😁

Sering nggak sih kita denger kalimat "Jangan lupa oleh-oleh yaaa" untuk orang yang lagi liburan ataupun travelling?  Sesungguhnya, kalo menurut aku sendiri si kalimat "Jangan lupa oleh-oleh yaaa" ini merupakan kalimat basa-basi yang ditujukan ke orang yang pergi travelling tersebut. Biasanya sih, awal mulanya "Wah mau travelling? Asik banget! Jangan lupa oleh-oleh ya!" Kalimat "Jangan lupa oleh-oleh" itu jadi semacam kalimat yang pas untuk melengkapi kalimat sebelumnya. 

(Baca juga tulisan Mak Muthia: Minta oleh-oleh? Ini etikanya!)

Eh tapi mungkin ada juga ya yang nggak memaksudkan itu untuk basa-basi, alias emang mau nitip oleh-oleh beneran. Kalo untuk aku sendiri sih, kata-kata "Jangan lupa oleh-oleh" itu biasanya diucapkan untuk keluarga deket aja. Tapi kalo emang mau nitip oleh-oleh ke yang bukan keluaga dekat, biasanya aku menetapkan 3 peraturan ini:

1. Jelaskan oleh-oleh yang kita inginkan

Misalnya ada temen yang mau ke korea, pengennya sih nitip face mask yaaa. Di Korea kan lucu-lucu plus murah-murah pula. Jadi langsung aja jelasin "Nitip ini dooong!" Tujuannya biar dia nggak kebingungan kalo mau beliin oleh-oleh untuk kita.

2. Jangan lupa diganti uangnya ya!

Setelah menjelaskan barang spesifik yang aku mau, pastinya nggak lupa untuk nitip uang juga dong. Setelah ngomong "Nitip ini dong!" bakal aku lanjutin dengan "Minta no rekening sekalian plis, nanti uangnya aku transfer ya.." Atau kalo emang barangnya kecil aja dan bisa dibeliin dulu pastinya aku bakal bilang "Ntar aku ganti uangnya yaaa"

3. Memastikan kalo barang yang kita titip itu, tempat belinya nggak jauh dari tujuan liburannya

Sebelum nitip oleh-oleh tanya duluuu, "Eh ngelewatin tempat ini nggak sih? Kalo lewat titip dooong" Atau bisa juga "Nitipnya kalo ketemu pas jalan aja, kalo nggak ketemu nggak usah bela-belain nyari ya.." Karena bakal ngerepotin banget kan, kalo barang yang kita titip ternyata tempat belinya jauh dari tujuan liburannya.

Pokoknya inti dari 3 peraturan diatas adalah, jangan ngerepotin! Karena tujuan orang liburan dan travelling kan mau santai dan seneng-seneng yaa, bukan untuk dititipin ini itu😅

Jadi sebaiknya kalimat basa-basi "Jangan lupa oleh-oleh yaaa", diganti aja dengan "Selamat liburan, selamat menikmati perjalanannya yaaaa". Soalnya basa-basi minta oleh-oleh, basi banget nggak siiih?

Hello! It's me~~ *eh kenapa malah nyanyi yaaaa😅*

Waaaaah nggak berasa ya udah 2017 ajaaaa, yang punya cicilan cicilan pasti happy ya, karena jangka waktu cicilannya berkurang setahun. Hihi. Ngomongin tahun baru, sebenernya apa sih yang paling berasa disetiap pergantian tahun ? Yak, betuul! Ganti kalender di rumah 😁

(Baca juga tulisan mak Arinta: Tahun baru, antara evaluasi, resolusi dan prediksi)

2016 untuk aku sendiri jadi tahun yang cukup bersinar, mulai dari awal april yang gabung di KEB, kemudian Mei ganti domain TLD, dan kemudian menghadiri banyak event-event blogger bahkan sampai diundang ke Bali sebagai blogger untuk meliput selebrasi sebuah event. Blogging sendiri bisa dibilang changing my life. Aku yang bercita-cita jadi penulis, jadi menyalurkan hobbi nulis aku lewat blog ini. Lewat blog juga jadi bisa banyak ketemu temen baru, ketemu banyak relasi baru, ketemu keluarga baru, bahkan sampe ketemu banyak penulis dan novelis handal yang punya profesi sebagai blogger juga. Aku bahagia!

Di 2016 juga si kakak lulus TK, pas temen-temennya masuk SD, aku memutuskan untuk cuti setahun dulu sekolahnya. Sepertinya mama Dian dulu nyekolahin kakak terlalu cepet, biarlah setahun ini disambi bimbel juga sembari menebus waktu bermainnya yang kurang. 

Naaaaahhh, 2017! Pengennya tahun ini gimana ya? Yang pasti lebih baik lagi dari tahun sebelumnya yaaaa. Mama Dian makin rajin ngeblog, atau balik lagi nulis fiksi melanjutkan cita-cita lama yang belum terwujud, yaitu mengeluarkan novel sendiri. Aaamiin!

Semoga di tahun ini juga keadaan menjadi lebih baik untuk semua saudara-saudara muslim kita di luar sana. Semoga ujian-ujian yang menimpa mereka segera berakhir dan bisa berganti menjadi ketenangan dan kedamaian ya.. Aaamiin :'

Tahun ini juga si kakak mau memulai lembaran baru pendidikannya di sebuah sekolah dasar. Doain juga supaya mama Dian cepet ilang galaunya ya tentang pilih-pilih sekolah si kakak. Semoga kakak dapet sekolah yang terbaik dan semoga dia betah ya di sekolah barunyaaaaa! Aaamiin

Selamat memasuki tahun 2017 semuanyaaaa! Semoga 2017 ini lebih baik dari 2016 kemarin yaaaaaaa❤❤❤

Mari tetap semangaaaaattt😘😘😘


Hola Holaaaaa! Udah lama banget nggak nulis yang ringan-ringan. Aku lelah nulis yang serius terus. Sekarang mau nulis yang ringan-ringan dulu yaaaa :D Kebetulan nih, ditantang sama mak Windy di postingannya pada web KEB tentang apa sih 5 Hal yang Mungkin Tidak Akan Saya Lakukan di Dunia Ini? Dan langsung bergulir beberapa hal di kepala yang pengen ditulis disini. Dan yang ada di bawah ini adalah 5 teratasnya. Dimulai dari yang paling remeh sampe ke yang paling berat yaaa:

1. Saying: "I need vitamin sea"

Simply karena kecerdasan naturalis aku rendah banget. Aku nggak terlalu suka jalan-jalan ke tempat yang berbau-bau alam macem pantai ataupun gunung. Jadiii, kalo ada yang nanya "pilih pantai atau gunung?" Jawabannya adalah, Mall! Bukan karena aku hobbi belanja, tapi karena mall emang tempatnya lebih adem dan nyaman aja.  Selain mall, aku prefer ke toko buku, jalan-jalan buat kulineran atau staycation di hotel aja kali yaaa. Plis atuhlah, ke pantai itu panas, naik gunung itu capek. Buat aku sama sekali ngga ada enaknyaaa x)

2. Nyuruh suami bawain tas tangan

Romantis ngga sih kalo liat suami bawain tas tangan istrinya, sampe dicangklong-cangklong gitu? Pasti ada ya kalo yang bilang itu romantis tapi kalo menurut aku, nggak bangeeet! Mendingan dia bawain tas plastik belanjaan aja, soalnya kalo suami bawain tas tangan aku, entah kenapa rasa-rasanya tingkat kekerenannya menurun drastis. "Yank sini aku bawain tas kamu?" "Nggak usah yank, makasiiii" Udah dibilangin berkali-kali tapi tetep aja suami nawarin lagi, nawarin lagi x)

3. Makan bubur diaduk

Jadi kamu, team #MakanBuburDiaduk atau #MakanBuburNggakDiaduk? Siapa yang barengan sama aku di team #MakanBuburNggakDiaduk? :D Soalnya kalo diaduk berantakan, dan ngga indah dipandang lagi. Aku lebih suka makan bubur ngga diaduk sambil ditaroin sambel di sekeliling mangkoknya. Aku gak bisa makan bubur yang udah diaduk. Ya namanya juga selera yaaa x)

4. Beli tas dan sepatu diatas harga sejuta

Meskipun itu branded, aku ga akan beli atas inisiatif sendiri sih.. Apalagi sepatu ya, kok sayang banget beli berjuta-juta untuk diinjek-injek. Aku masih prefer barang lokal yang oke dengan harga dibawah sejuta dibanding barang import dengan brand terkenal dengan harga diatas sejuta. Kalo beli barang produk lokal, hitung-hitung mencintai dan support produk indonesia juga kan? Eh tapi kalo dibeliin ga nolak juga sih x)

5. Pergi keluar kota sendiri, tanpa Una, Abang dan Papa Api

Pertama kalinya pergi sendiri keluar kota tanpa keluarga adalah saat liputan suatu event di Bali kemarin. Sediiihh :'( Dari kecil aku emang anak rumahan banget sih, jarang banget jauh dari keluarga, kuliah juga di Jakarta jadi nggak pake nge-kost segala. Pas kemarin akhirnya nyobain keluar kota sendiri, aku jadi ngerasa aneh dan sepi. Dan kepikiran terus sama anak-anak dirumah. Ending-nya malah jadi kurang menikmati perjalanannya, ngerasa bersalah banget ninggalin anak-anak dan suami dan pengen cepet-cepet pulang aja. Huhuhu. Mudah-mudahan kedepannya kalo ada tawaran liputan di luar kota lagi, semoga dibolehin bawa keluarga yaaa. Aaamiin :') *emaap kalo jadi ngelunjak x)*

Ada yang punya kesamaan sama hal-hal yang nggak aku suka diatas? Semoga nggak ada yang tersinggung ya dengan beberapa hal yang nggak aku suka. Soalnya pemikiran setiap orang emang beda-beda kan yaaa *peace* Kalo kamu gimana? Bocorin dong  dong 1 hal yang nggak akan pernah kamu lakukan, di kolom komen di bawah yaaaaaa :D


Bulan oktober kemarin tepat pada tanggal 28 Oktober, Indonesia memperingati Hari Sumpah Pemuda. Pada 28 Oktober 1928 lalu, para perwakilan pemuda pemudi seluruh indonesia bersatu, berkumpul untuk mencetuskan Sumpah Pemuda yang kemudian dijadikan dasar persatuan bangsa Indonesia hingga saat ini. Ada 3 poin di dalam Sumpah Pemuda, yaitu "Bertanah Air Satu, Tanah Air Indonesia", "Berbangsa Satu, Bangsa Indonesia", "Berbahasa Satu, Bahasa Indonesia".

Dan apa sih yang bisa mama Dian ajarkan kepada Una dan Abang, tentang persatuan Indonesia yang terkandung di dalam Sumpah Pemuda ini? Kebayang kan gimana sekarang isu SARA sudah sangat mencerai-beraikan masyarakat kita? Apalagi dengan gaya pergaulan anak-anak muda jaman sekarang, yang sepertinya sudah hilang ya nilai sopan santun yang harusnya menjadi ciri khas bangsa kita?

Sepertinya yang ditulis oleh mak Titis Ayuningsih pada artikel Peran Serta Perempuan Mengenalkan Indonesia Pada Generasi Penerusnya di Hari Sumpah Pemuda. Serta dengan semangat sumpah pemuda kemarin, mama Dian memikirkan beberapa nila-nilai Indonesia yang pastinya akan mama Dian tanamkan kepada Una dan Abang lewat beberapa hal berikut ini:

1. Mengenalkan Budaya Indonesia lewat Kebaya dan Batik

Kebayang nggak sih warna-warninya anak-anak TK dengan para baju daerahnya masihng-masing di hari Kartni? Sayangnya, di TK Una kemarin nggak turut serta merayakan hari Kartini menggunakan baju daerah Padahal mama Dian udah semangat banget mau beliin Una baju daerah yang lucu-lucu. Akhirnya tetep beliin Una baju kebaya tapi untuk dipake ke acara nikahan tantenya. Una sempet nanya juga ke aku, tentang baju kebaya yang dia pake.

"Ini baju apaan sih ma?"
"Baju kebaya kutu baru sayang.. Baju daerahnya orang Indonesia.. Ini rok batik, batik itu punyanya Indonesia juga.."
"Berarti Una anak Indonesia ya mah?"
"Iya dong sayang"

Walaupun dia sempet nggak gitu betah sama bahan kebaya yang dia pake, tapi sukses kok nggak minta ganti selama di acara pernikahan tantenya waktu itu. Misi mengenalkan budaya Indonesia lewat kebaya dan batiknya bisa dibilang sukses kan kalo gitu? ;)

2. Mengajarkan bahasa kita, bahasa Indonesia dengan baik dan benar

Mempelajari bahasa internasional memang penting ya untuk masa depan anak-anak kita? Tapi jangan lupa juga untuk mengajarkan bahasa Indonesia yang baik dan benar kepada anak-anak kita. Karena dari begitu banyaknya bahasa daerah yang dimiliki Indonesia, bahasa indonesia adalah bahasa persatuan kita.

Kalo mama Dian sendiri sih ngajarin Una bahasa Indonesia dengan membenarkan beberapa kata-kata dan tata bahasanya yang kadang masih suka kebolak-balik. Atau ada di satu kesempatan, Una suka nanya arti dari suatu kata bahasa Indonesia yang baru dia denger. 

Kaya kemarin, waktu ngerjain PR dari tempat lesnya. Tiba-tiba Una bilang "Mah ini nggak ada jawabannya.."
"Emang apa kak itu dibacanya?"
"Pena"
Ternyata ada dong gambar pulpen, untuk pasangan kata "Pena' tersebut. Terus Una nanya lagi "Pena itu ini ya mah?" Sambil nunjuk gambar labu.
"Emang itu gambar apa kak?"
"Pumpkin.. Pumpkin itu pena ya mah?"
Langsung mama Dian tepok jidat, duh gimana coba ya dia bisa nggak tau kalo pena itu nama lainnya pulpen dan pumpkin itu bahasa inggrisnya labu? Jadinya sekarang, setiap dia kenal satu kata dalam bahasa nggris, langsung deh mama Dian jelaskan artinya dalam bahasa Indonesia :D

3. Mengajarkan norma-norma kesopanan dan rasa toleransi

Indonesia itu sejak dulu terkenal banget dengan keramah tamahan penduduknya. Adat istiadat dan sopan santun yang bisa dibilang cukup berbeda dibanding negara-negara barat. Adat ketimuran yang kayanya sekarang udah banyak dicemari sama dedek-dedek gemes di Instagram, iya dedek istagram yang kemarin udah dipanggil ke KPI tapi isi feeds IG-nya masih nggak "bener" juga sampe sekarang. Generasi mereka jujur aja ngebuat aku khawatir sama gimana generasi jaman Una nanti?

Inget nggak sih sama klub sepakbola junior Indonesia yang bertanding di luar negeri dan salin satu-satu ke para wasitnya? Itu baru Indonesia banget. Sopan santun yang memang harusnya ditanamkan ke generasi penerus kita.

Emang rada capek sih ngingetinnya ke Una dan Abang untuk "Ayo salim dulu.." ke setiap tamu yang dateng ke rumah atau ketika berkunjung ke rumah orang lain. Atau sesimpel "Jangan lupa bilang permisi ya kakak kalo lewat di depan orang lain.." Hal-hal kecil tapi penting sih menurut aku untuk membentuk karakter yang baik ke depannya. 

Dan toleransi. Apakah karena Sumpah Pemuda sudah terlalu lama berlalu jadinya kita bisa mudahnya melupakan perbedaan yang menyatukan bangsa kita? Seperti menerangkan ke Una kalo nggak semua orang di lingkungan kita pergi ke mesjid, tapi ada juga yang pergi ke Gereja untuk ibadah. Nilai yang harus ditanamkan tentunya adalah, "Walaupun tempat ibadah kita beda, tapi kita tetep berteman, bertetangga dan bersaudara loh kak sama mereka.."

Tentunya masih banyak lagi hal-hal yang harus mama Dian ajarkan ke Una dan Abang mengenai persatuan dalam perbedaan yang terkandung dalam Sumpah Pemuda ya. PR aku sebagai orangtua tentunya masih banyaaaak banget untuk menjadikan Una dan Abaag anak Indonesia yang memiliki sopan santun yang baik serta memahami dan menghargai perbedaan pada negara kita ini.

Semoga semangat Sumpah Pemuda selalu mengalir kepada anak-anak bangsa ini ya, supaya kelak generasi penerus kita bisa lebih menghargai dan turut serta melestarikan budaya-budaya indonesia, lebih memiliki sopan santun khas Indonesia, dan selalu hidup rukun dan damai dalam perbedaan di Indonesia. Aaamiinn.  

Beberapa saat yang lalu aku sempet baca sebuah sharing pengalaman seseorang di facebook, dia menjelaskan betapa mudahnya kita mengajukan kredit pinjaman berbekal foto KTP seseorang atau memata-matai seseorang lewat data-data pribadi yang mereka bagikan di facebook. Tanpa kita sadari, hal-hal kecil semacam data pribadi yang kita bagikan di jejaring sosial media kita, ternyata bisa berpotensi mendatangkan kejahatan untuk kita.

Oleh karena itu, sebagai pengguna internet kita harus lebih bijak dalam meninggalkan jejak digital kita. Apa sih jejak digital itu? Jejak Digital atau digital footprint adalah rekaman interaksi kita di dunia maya yang kadang dengan sadar atau tidak sadar kita tinggalkan atau bagikan kepada yang lain.


Jadi, sebagai pengguna internet yang bijak, kita juga harus lebih berhati-hati lagi nih dalam meninggalkan jejak digital kita. Nah, kira-kira jejak digital seperti apa sih yang harus segera kita delete?

1. Data pribadi atau segala foto yang memuat data-data pribadi kita

Kalo aku biasanya tidak memunculkan nomer telepon di Facebook Profile maupun di kontak instagram bisnis. Masih mending kalo cuma dikejer tukang KTA lagi untuk nawarin produknya, gimana kalo sampe telepon penipuan? Begitupun dengan fotokopi KTP, SIM maupun paspor, kalo emang mau pamer kalo pasfoto kita oke disitu, jangan lupa ditutup dulu ya nomer-nomer penting dan alamat kita. 

2. Jangan pernah memilih 'Remember Password' jika log in ke akun sosial media kita di gadget yang bukan milik kita pribadi

Yup, untuk amannya, jangan pernah meng-klik 'Remember password' saat kita masuk ke sebuah web yang menggunakan user dan password kita, di komputer warnet atau gadget pinjaman. Bahaya kan kalo akun kita sampai dibajak dan dipergunakan untuk hal yang tidak baik?

3. Untuk para mommies, hindarilah memposting foto anak-anak kita yang kelak akan mengundang kejahatan

Apalagi kejahatan seksual yang akhir-akhir ini lagi marak banget ya. Hindarilah memposting foto anak kita dalam keadaan nude atau minim busana. Kalo sampe disalahgunakan oleh pedofilia kan mengerikan yaaa :(

Ada juga yang berpendapat bahwa sebaiknya kita tidak menguplod foto anak-anak sama sekali, selain karena sesungguhnya mereka punya haknya pribadi, rawannya kejahatan kepada anak juga menjadi salah satu alasannya. Tapi semuanya kembali lagi ke tangan orangtua si anak tersebut.

Kalo aku sendiri, jujur belom bisa untuk tidak memposting foto anak-anak sama sekali. Tapi niatnya sedikit-sedikit mau mulai mengurangi lah, atau kalo bisa jangan posting foto anak yang terlalu close up, mungkin yang pas nunduk, hadap samping, atau ketutup topi yang penting kalo bisa jangan full photo yang terlalu jelas aja. Yang sekiranya bakal memancing kejahatan lah yaaa. Ehehehee

Yak itu dia menurut aku, 3 poin utama yang harus dihapus dari jejak digital kita. Soalnya jaman makin ngeri, bok. Adaaa aja orang jahat yang menggunakan segala cara untuk mendapatkan kemauannya. Semoga kita dan keluarga kita selalu terlindungi dari hal-hal buruk di depan yaaa. Aaaaaaamiin.

Kalo yang lain gimana? Sekiranya apalagi nih yang penting banget untuk dihapus dari jejak digital kita? :)

Coba semuanya, ayo dibuka aplikasi Whatsappnya dan dihitung udah bergabung dengan berapa grup chat disana? Kalo aku sendiri setelah semalem ngitung, baru sadar kalo udah gabung sama 10 grup Whatsapp. Mulai dari temen SMA, teman kuliah, grup ngeblog, grup komite, grup orangtua murid dan lain-lainnyaaa. 

Beda grup tentunya beda-beda orang dan peraturannya ya. Walaupun tentunya banyak juga grup yang nggak menerapkan peraturan apapun. Sebagai salah satu admin di sebuah grup chat tentunya sebenarnya aku juga menerapkan beberapa peraturan yang nggak tertulis. Ada peraturan, tapi nggak aku tulis, ya orang-orang disana jadi nggak tau lah ya kalo ada peraturan. Dan aku suka kesel sendiri kalo ada orang yang ngelanggar 'peraturan tak tertulis' itu. *Lah, salah sendiri lah kenapa nggak ditulis?* 


Jadi as an admin in a whatsapp group chat, i wanna tell you about do's and don'ts in a whatsapp group chat. Do and don't yang akan aku tulis ini tentunya yang umum banget, biar tetep rapih aja lah grupnya dan tentunya nyaman untuk para anggotanya ya.

1. [DO] Selalu menyapa saat memulai chat. 
Apalagi kalo para anggota grup tersebut lagi ngobrolin suatu topik dan kita mau nanya sesuatu yang di luar topik atau bahasa kerennya OOT (Out Of Topic), baiknya ya masuk sambil menyapa semua anggota di grup dulu lah ya. Kecuali kalo memang mau menanggapi topik yang sedang dibicarakan tersebut, boleh lah langsung nyamber, dengan sopan pastinya yaa.

2. [DONT] Share foto-foto yang nggak ada hubungannya dengan grup tersebut.
Situasi ini bakal jadi awkward banget saat seorang anggota grup, share foto-foto yang sama sekali nggak ada hubungannya dengan grup tersebut. Apalagi yang dishare cuma foto tanpa keterangan apa-apa. Atau pas ada yang nanggepin malah didiemin. Kecuali kalo memang salah kirim ya, sok atuhlah langsung minta maaf ke semua anggota grup disana.

3. [DONT] Left tiba-tiba
Nggak ada angin nggak ada ujan tiba-tiba ada yang left. Langsung deh diomongin sama anggota grup yang lain. Biasanya disini si admin langsung merasa, "Apakah aku melakukan kesalahan? apakah ada yang salah dengan grup ini?" Kemudian jadi suudzon. Yah walaupun si admin bisa berbaik sangka, tapi kan tetep aja kalo left mendadak gitu jatohnya agak kurang sopan ya. Baiknya kalo mau left, japri dulu ke admin atau pamit dulu ke temen-temen satu grup yang lain. Kecuali, kalo ga sengaja left atau emang diundang tiba-tiba ke grup yang nggak diinginkan ya.

4. [DONT] Buka lapak jualan secara tiba-tiba
Alhamdulillah belum nemu kejadian begini di grup yang aku ikuti. Tapi pastinya ada lah ya orang yang saking semangatnya jualan langsung buka lapak di suatu grup tanpa tedeng aling-aling. Sebenernya kalo grupnya santai-santai aja sih gapapa ya, tapi nggak ada salahnya kan, sebelum buka lapak misi-misi dulu ke adminnya ataupun ke anggota grup lainnya.

5. [DONT] Curhat berlebihan
Atau kata mak Ade, over sharing. Iyes, kebanyakan nyinyir di group atau mengeluarkan semua permasalahan pribadi nggak baik juga loh. Keliatannya mungkin dari semua anggota grup, beberapa yang aktif selalu perhatian sama cerita-cerita kita. Tapi para anggota lainnya yang merupakan silent rider, pasti tetep baca nyinyiran dan curhatan kita. Lagipula nggak semua masalah perlu dishare dan nggak semua nyinyiran perlu dikeluarkan kan? Hihi

Yup, kira-kira itu aja beberapa peraturan tak tertulis dari admin sebuah grup chat Whatsapp (read: me). Kalo yang lain gimana niiih, kira-kira ada peraturan apa aja di grup chat Whatsappnya? Ada yang berbedakah dari 5 diatas? :D


Setiap keluarga tentunya punya tradisi dan kebiasaan yang berbeda-beda, salah satunya dalam hal mengolah makanan sisa dirumah. Ngomongin makanan sisa, kebetulan aku kenal satu keluarga yang nggak pernah makan menu yang sama dalam sehari. Sarapan, makan siang dan makan malem harus menu yang berbeda, mereka enggan makan makanan sisa yang dipanaskan. Kalo mereka bilang sih, makanan yang diangetin lagi itu namanya makanan daur ulang.

Kalo di rumah aku sendiri, biasanya sih masak pagi sekalian untuk makan siang dan makan malem. Praktis, nggak perlu masak-masak lagi sore-sore. Hihi. Terus kalo ada makanan sisa malemnya, gimana? Ya dipanasin lagi untuk besoknya, eman-eman, sayang kan kalo dibuang, mubadzir buk-ibuk. 

Tapi kalo makanannya dipanasin lagi berarti kita makan lauk yang sama terus-terusan kan, bosen ngga siiihh? Nah, biar nggak bosen ternyata makanan sisa itu sebenarnya bisa kita olah lagi jadi makanan yang berbeda. Seperti yang Mak Maya Siswandi tulis di sini, tentang Makanan Sisa, Diolah Lagi atau Dibuang? Salah satu contohnya, capcay yang nggak habis, bisa kita olah lagi dengan menambahkan tepung dan telur untuk kemudian digoreng menjadi bakwan. Mak Maya ini memang kreatif bangeeet, sebelumnya aku nggak pernah mikir kalo capcay bisa jadi bakwan. Hihi. Untuk ide kreatif mengolah kembali makanan sisa lainnya, langsung meluncur aja ke tulisannya mak Maya diatas yaaa.

Pada intinya, makanan sisa akan dipanaskan, diolah kembali atau malah justru dibuang, semuanya kembali lagi ke kebiasaan keluarga masing-masing ya. Eits tapi jangan lupa, bahwa memang nggak semua sayuran bisa dipanaskan kembali. Makanan yang dipanaskan pasti berkurang kandungan gizinya, bahkan ada juga beberapa jenis sayur yang bisa menjadi "racun" jika dipanaskan. Berikut 3 macam sayuran yang tidak boleh dipanaskan kembali:

1. Bayam

Kalo dirumah, memasak sayur bayam memang diberi pengecualian, biasanya kuahnya termasuk bumbu udah dimatengin dari pagi. Pas sore menjelang makan malem, baru kuahnya dipanaskan dan dicemplungin bayemnya. Kalo nggak abis malem itu, pasti besoknya langsung dibuang. 

Karena Bayam mengandung asam nitrat yang jika dipanaskan akan berubah jadi nitrit. Dan jika masuk ke dalam tubuh kita, akan menjadi salah satu penyebab munculnya kanker. Hmmm, serem ya? Oleh karena itu disarankan langsung memakan bayam  yang sudah dimasak ya!

2. Seledri

Seledri, salah satu sayuran yang suka dimasak di dalam sup ternyata memiliki sifat yang sama dengan bayam.  Yang jika dipanaskan akan berpotensi memicu munculnya sel kanker dalam tubuh kita. Jadi kalo memang menggunakan seledri di dalam sup, jika mau memanaskan supnya, lebih baik seledrinya dibuang dulu ya. 

Kalo dirumah, saat masak sup biasanya seledrinya langsung aku masukin nggak pake dirajang dulu. Jadi kalo mau dipanaskan supnya, gampang deh ngambil seledrinya untuk dibuang. Hehe.

3. Brokoli

Sayuran kesukaan Una ini ternyata juga memiliki kandungan asam nitrat yang cukup tinggi, yang jika dipanaskan ulang akan berubah menjadi nitrit yang berbahaya untuk tubuh kita. Penyajian brokoli yang paling baik adalah dengan cara dikukus dengan menambahkan sedikit garam diatasnya. Seperti bayam, baiknya brokoli juga langsung dihabiskan sekali makan ya.

Selain 3 sayuran diatas, ternyata kentang juga termasuk jenis makanan yang sebaiknya nggak dipanaskan lagi. Karena kentang yang dipanaskan bisa menimbulkan gangguang pencernaan pada tubuh kita. 

Hmm, jadi kalo memang mau memanaskan atau mengolah kembali, kita kudu lebih cermat dan teliti lagi ya. Akupun masih team #PanasinMakananSisa kok, soalnya sayang kalo buang-buang makanan. Atau kalo bisa sekali masak langsung dihabiskan aja ya, jadi nggak ada sisa makanan. Hihi. Yang pasti sih jangan buang-buang makanan, mubadzir ya bu-ibu. Kalo dirumah kamu gimana, tim #PanaskanMakananSisa, atau #BuangMakananSisa?

"Anaknya ASI nggak nih?"
"Anaknya masih ASI?"
"Anaknya ASI sampe umur berapa?"

Mari Sebarkan Cinta Untuk Semua Ibu Menyusui! - Bu-ibu yang sudah memiliki anak, apakah kalian sudah kenyang dengan pertanyaan diatas? Kalo aku sendiri, sebagai ibu dengan dua anak, sesungguhnya udah cukup kenyang banget sama pertanyaan-pertanyaan diatas. Pertanyaan ini sesungguhnya akan memunculkan perdebatan panjang kalo ditanyakan di jaman sekarang, khususnya kalo jawabannya si anak minum sufor.

Baca juga tulisan Kak Istiana Sutanti tentang ASI: ASI dan Perkembangan Media Sosial

My Confession about ASI

Sesungguhnya dengan berat hati dan takut di-bully, disini aku mau mengatakan bahwa Una, anak pertama aku nggak lulus ASIX dan minum sufor di usia 3 bulan. 

Sebelum ada yang mau nge-judge, mari dengarkan dulu apa penyebabnya. Waktu itu aku melahirkan Una saat masih kuliah semester 4 di kampus tercinta. Dan karena kampus sistem SKSnya paketan, jadi aku memutuskan untuk nggak ambil cuti melahirkan, cuma ijin nggak masuk selama 4 kali pertemuan aja, alias 1 bulan aja. 2 minggu aku ambil sebelum melahirkan, dan 2 minggu aku ambil setelah melahirkan. 

Dengan masalah puting rata, sesungguhmya masa-masa awal menyusui Una memaang cukup 'berdarah-darah', tapi i'm not a quitter! Alhamdulillah suami dan keluarga mendukung banget untuk ASIX, jadinya alasan sulit menyusui karena puting rata bukan penyebab aku ngasih sufor ke Una.

Jadi waktu itu, setelah aku kembali ngampus di umur Una 2 minggu, aku menyadari bahwa, kamar mandi kampus nggak mendukung sebagai tempat pumping ASI. Waktu itu di kampus cuma ada dua bilik kamar mandi, satu untuk laki-laki dan satu perempuan. Kampus aku memang kampus kecil, satu angkatan kurang lebih 100 orang, dan sebagai kampus Diploma III, yang berarti ada 3 angkatan dalam 1 kampus, jumlah mahasiswanya kurang lebih 300 orang. Dan kampus kecil itu memang cuma punya dua bilik kamar mandi. (FYI: Itu tahun 2010 ya, kalo sekarang mah gedung kampusnya udah pindah ke gedung besar depan stasiun TVnya, dengan kamar mandi yang luas, bersih dan banyak biliknya. Hihi.)

Dan apakah aku menyalahkan kampus aku karena itu? Ya nggak dong ya, waktu itu aku jadi mahasisiwi pertama yang udah memiliki anak di kampus. Jadi aku maklum banget kalo kampus nggak memperhatikan aspek-aspek pentingnya tempat untuk pumping ASI.

Sesungguhnya kamar mandi kampus cukup bersih walaupun nggak luas, tapi tetep aku nggak tega ngebayangin bakal mompa ASI yang akan diminumkan ke Una di dalam kamar mandi itu. :') Belom lagi kalo ada yang ngetok-ngetok kamar mandi pas aku didalem, mompa ASI kan ngga bisa sebentar. Akhirnya, akupun cuma mompa ASI sebelum berangkat dan setelah pulang kuliah.

Dan itu nggak cukup, hingga akhirnya dengan berat hati akupun beli susu formula untuk Una diusianya 3 bulan. Sedih nggak sih nggak bisa ASIX untuk Una? Sedih bangeeet! Tapi aku bakal lebih sedih lagi kalo sepanjang aku kuliah Una nangis dan rewel karena laper dan ngga ada persediaan ASI di rumah. 

Dan aku tau betapa pentingnya bonding yang terbentuk antara ibu dan bayinya di masa-masa menyusui, dan betapa besarnya pengaruh bonding itu untuk masa depan si anak. oleh karena itu, sepulang kuliah aku tetep minumin Una ASI langsung dari aku  sampe umurnya 1 tahun. 

Beda dengan anak pertama, anak kedua aku Rizqi, lahir tepat 3 hari sebelum aku diwisuda. Dan setelah lulus kuliah, akupun memutuskan menjadi ibu rumah tangga dengan dua anak bayi yang beda umurnya cuma 1 tahun aja. Dengan 100% waktu dirumah, akupun sukses memberi ASIX ke Rizqi selama 6 bulan pertama dan lanjut sampe umurnya 4 tahun!

ASI, MomWar dan Social Media

Perkembangan sosial media khususnya facebook di jamannya anak-anak aku baru lahir sama sekarang-sekarang ini juga jauh beda. Jaman sekarang, tombol share di facebook itu udah jadi primadona banget. Ada resep makanan enak klik share. Ada ide-ide unik nan lucu, klik share. Ada berita atau hosip terkini, klik share. Ada info-info terbaru, klik share. Ada meme-memean yang bisa buat nyinyirin orang, klik share. Ada artikel yang cocok untuk nyentil pasangan, klik share.

Dan nggak jarang, ketika ada artikel tentang ASI yang di share disana juga lah ada aja perdebatan alias momwar yang terjadi.

Kaya beberapa saat yang lalu, aku liat seorang rekan blogger yang share tantang acara memperingati pekan ASI yang disponsori oleh produsen botol bayi. Ada aja gitu yang komen kira-kira garis besarnya gini nih, "Wah salah banget nih produsen botol bayi ngadain acara tentang ASI. Dia aja produksi botol dan dot, berarti dia nggak pro ASI dong?" Dan saat itu aku langsung, seriously? Ni orang komen tanpa basa-basi dulu. Dengan bahasa yang menurut aku langsung memancarkan kesinisannya kepada blogger yang sharing acara tersebut.

Memberi ASI setau aku memang paling baik adalah langsung dari si ibu. Paling bagus juga, kalo memang mau memberi ASIP (ASI Perah) adalah dengan sendok yang langsung disuapi ke si bayi, biar nggak bingung puting. Tapi memberi ASI dengan botol menurut aku bisa jadi salah satu opsi juga kok, apalagi kalo si ibu bekerja dan yang ditugasi untuk menjaga si bayi saat si ibu bekerja, orangnya nggak telaten.

Haruskah, sahabat pro ASI tersebut berkomentar dengan sinisnya kepada blogger yang share acara tersebut?

Mari Sebarkan Cinta Untuk Semua Ibu Menyusui!Sesungguhnya, akupun pernah mengalami sebuah pengalaman nggak enak sama seorang bu-ibu yang lagi pumping ASI. Diumur Una 7 bulan, aku sempet magang di salah satu kantor bareng suami. Waktu itu kebetulan suami aku sendiri ya yang ngalamin langsung, ada salah seorang karyawati disana yang lagi bersihin pompa ASInya setelah memompa ASI di kamar mandi. Dengan polosnya suami akupun negur karyawati tersebut dan menyatakan kekagumannya tentang si mbak yang masih mompa ASI ditengah kerjaannya, yang disusul dengan cerita tentang aku yang enggan mompa ASI di kamar mandi dan memilih memberi sufor ke Una saat aku nggak dirumah.

Tanpa diduga-duga, si mbak tersebut langsung ngomel sama suami *untung aku nggak ada disana, udah balik duluan*, di tengah-tengah kantor dan ceramah tentang pentingnya ASI serta payahnya aku jadi ibu yang ngasi sufor ke anaknya. *pukpuk pak suami*

Padahal si mbaknya nggak tau loh alasan kenapa aku ngasih sufor ke Una. Dan dia juga nggak tau kalo aku tetap ngasi Una ASI langsung dari aku kalo aku dirumah. Sejak saat itu aku memilih untuk nggak mendekati kubikel tempat mbak itu bekerja, bukannya apa, aku takut aja dia ngenalin aku sebagai si-ibu-yang-payah-karena-ngasi-sufor dan nyemprot aku disana. Bisa nangis kejer ntar gue :'(

Saat itu aku juga langsung berpikir, haruskah ibu itu menyatakan pendapatnya tentang aku dengan begitu kasar dan sinisnya? Apakah aku ibu yang nista banget karena gagal memberi ASIX ke Una?

Dan sekarang kalo pertanyaan ini muncul, "Anak pertamanya dulu ASI sampe umur berapa tahun?"
Mama Dian pun akan menjawab "Satu tahun"  dengan senyum manis terlebar nan keibuan. Itu fakta kok. Walaupun di umur 3 bulan, Una sempe minum sufor juga. Aku bener-bener enggan memicu momwar dan enggan merelakan diri untuk disemprot secara langsung.

Emang setiap kaum ProASI sinis ya menyampaikan pendapatnya, mama Dian? Ya nggaklah, aku kenal banyak kok kaum-kaum ProASI yang supportif dan super komunikatif banget  dalam menyampaikan pendapatnya tentang ASI kepada bu-ibu yang tampaknya kesulitan memberikan ASI untuk anaknya.

Semua ibu pasti setuju kalo ASI adalah yang terbaik untuk anaknya. Aku pun SETUJU itu. Namun setiap ibu tentunya punya keadaan yang berbeda-beda dan kesulitan yang nggak sama dalam memberi ASI untuk anaknya. Dan yang mereka butuhkan adalah dorongan dan support yang baik, bukannya dorongan dalam bentuk bully-an. 

"You cant really understand another person's experience until you've walk a mile in their shoes"

Memberi ASI sesungguhnya adalah sebuah proses dan perjalanan yang nggak mudah untuk semua ibu menyusui. Kita nggak bisa menjudge seseorang tanpa tau gimana keadaan orang tersebut. Mari mommies, kita sama-sama bergandengan tangan untuk memberikan dorongan yang positif untuk para ibu yang menyusui. Because their need our support not a bully!

Custom Post Signature

Custom Post  Signature