Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Apa itu Fase Terrible Two?

Walaupun Una Abang sekarang dah mau beranjak dewasa, tapi mama Dian nggak akan pernah lupa gimana gemesnya mereka saat masih kecil.

Punya dua anak dengan jarak usia satu tahun, selalu ada tantangannya tersendiri. Sekarang sih dah PD menyebut masa-masa itu sebagai "tantangan" karena udah berhasil melewati masa masa itu dengan baik. Hihi.

Kalo dulu sih bukan tantangan ya sebutannya, tapi keriweuhan. Berasa punya anak kembar tapi ada jarak usia setahun. Fyuh.. Alhamdulillah berhasil melewati masa-masa itu dengan baik..

Ngomongin tentang tantangan saat membesarkan anak, mama-mama semua pasti bakal menghadapi tingkah lucu ajaib setiap anak ditiap langkah pertumbuhannya. 

Tiap tahun tuh pasti ada aja tingkah polah lucunya, gemesnya, tantrumnya, asbunnya. Aku jadi pengen ngebahas salah satu fase yang bakal dilewatin setiap anak.

Nah, dah pernah denger tentang fase "Terrible Two" belum?

The Terrible Two

Apa itu fase terrible two?
Fase terrible two adalah masa perkembangan anak balita yang ditandai dengan perubahan suasana hati drastis, perilaku suka membangkang, sampai ledakan emosi atau tantrum yang cukup hebat. 

Masa ini biasanya mulai saat anak menginjak usia dua tahun. Tapi tenang ya Mams, ternyata masa-masa ini tuh jadi penanda bahwa mereka sedang berusaha membangun kemandirian serta mengeksplorasi batas-batas di lingkungannya.

Jadi awal mula fase ini tuh biasanya dimulai saat si Kecil yang tadinya penurut tiba-tiba menjadi sangat keras kepala karena mereka mulai menyadari bahwa mereka memiliki keinginan sendiri yang berbeda dari keinginan orang tuanya.

Apa Itu Sebenarnya Fase Terrible Two?

Sebenernya ya, fase ini merupakan tahap perkembangan normal pada balita di mana mereka mulai menunjukkan keinginan untuk mandiri dan memiliki kontrol atas dirinya sendiri.

Anak usia dua tahun sedang berada dalam masa transisi besar dari bayi yang bergantung penuh kepada Anda menjadi individu yang ingin melakukan segalanya sendiri. 

Meskipun namanya menggunakan kata "terrible" atau mengerikan, masa ini tuh sebenarnya bukti bahwa perkembangan kognitif dan sosial anak sedang berjalan dengan sangat pesat.

Udah di fase sering belum ngeliat si Kecil mengucapkan kata "tidak" atau "nggak mau" sebagai bentuk penegasan diri mereka?

Kondisi ini tuh ternyata muncul karena otak mereka sudah mampu memproses keinginan, namun belum sepenuhnya memiliki kemampuan emosional untuk mengendalikan kekecewaan saat keinginan tersebut nggak terpenuhi. 

Yang perlu dicatat adalah, hal ini merupakan bagian alami dari proses pendewasaan yang dialami oleh hampir semua balita di seluruh dunia tanpa terkecuali.

Fase ini biasanya mencapai puncaknya pada usia 2-3 tahun dan akan menurun secara alami setelah usia 4 tahun seiring dengan matangnya kemampuan bahasa anak.

Mengapa Anak Menjadi Sangat Emosional di Usia 2 Tahun?

Kenapa anak balita suka tantrum?

Anak 2 tahun tiba-tiba suka tantrum? Jadi, ledakan emosi yang terjadi pada usia ini biasanya disebabkan oleh kesenjangan antara apa yang ingin anak lakukan dengan apa yang secara fisik atau bahasa mampu mereka lakukan.

Anak mungkin mau memakai sepatu sendiri atau mengambil mainan di tempat tinggi, tapi otot-otot motorik mereka belum cukup kuat untuk menyelesaikannya. 

Menurut penjelasan dari Alodokter, rasa frustrasi yang menumpuk akibat keterbatasan ini akhirnya keluar dalam bentuk tangisan atau teriakan yang meledak-ledak atau yang biasanya kita sebut dengan tantrum.

Selain keterbatasan fisik, kemampuan bahasa yang masih sangat minim juga menjadi pemicu utama anak menangis tanpa sebab yang jelas bagi orang dewasa.

Si Kecil tahu apa yang mereka rasakan, tetapi belum bisa merangkai kalimat untuk menjelaskan rasa lapar, lelah, atau kesal tersebut. 

Data dari Kemkes menyebutkan bahwa hambatan komunikasi ini kerap membuat anak merasa tidak dimengerti sehingga mereka menggunakan aksi fisik untuk menarik perhatian orang tuanya.

Bagaimana Cara Menghadapi Fase Terrible Two?

Pertama sih yang pasti perlu exhale-inhale dulu yaaaa~ 

Nah, menghadapi perilaku anak yang sedang meledak-ledak membutuhkan kewarasan plus ketenangan yang luar biasa agar situasi tidak semakin memburuk.

Mams dapat mencoba memberikan pilihan-pilihan pada si Kecil agar mereka merasa memiliki kendali, misalnya menawarkan dua jenis baju yang boleh mereka pilih sendiri.

Keliatannya sederhana kan, tapi ternyata ini bisa memberikan rasa mandiri pada anak tanpa harus mengabaikan aturan atau batasan keamanan yang sudah ditetapkan di rumah.

Sini-sini aku spill beberapa cara menghadapi fase ini yaaaa~

Cara-cara menghadapi fase Terrible Two:

  • Tetap Tenang dan Konsisten: Anak belajar dari cara kita sebagai orang tuanya bereaksi, jadi usahakan suara kita tetap stabil saat mereka sedang emosi.
  • Berikan Pilihan Terbatas: Hindari pertanyaan terbuka. Sebaiknya berikan dua pilihan pasti untuk memberikan rasa kendali pada anak.
  • Alihkan Perhatian: Sebelum ledakan emosinya memuncak, ajak anak melihat hal menarik lain atau pindah ke ruangan yang berbeda.
  • Puji Perilaku Baik: Berikan apresiasi minimal pujian baik, saat anak berhasil mengendalikan emosinya atau mau mengikuti instruksi dengan tenang.
  • Pastikan Kebutuhan Dasar Terpenuhi: Pastikan anak tidak sedang lapar atau mengantuk karena kondisi fisik yang tidak nyaman memicu perilaku buruk.

Kapan Orang Tua Perlu Merasa Khawatir dengan Perilaku Anak?

Meskipun perilaku ini wajar, kita sebagai orang tua tetap perlu memperhatikan frekuensi dan intensitas ledakan emosi yang dialami oleh buah hati tercinta.

Jika perilaku membangkang ini disertai dengan tindakan menyakiti diri sendiri atau orang lain secara terus-menerus, bantuan profesional mungkin diperlukan.

Menurut artikel dari Halodoc, evaluasi mendalam membantu memastikan apakah perilaku tersebut murni bagian dari perkembangan usia atau terdapat faktor lain seperti gangguan sensorik.

Mams bisa mulai mencatat kapan biasanya ledakan emosi itu muncul dan apa yang menjadi pemicu utamanya setiap hari. Catatan ini akan sangat bermanfaat saat Mams melakukan konsultasi dengan dokter anak atau psikolog untuk mendapatkan gambaran yang lebih akurat.

Penanganan yang tepat sejak dini dapat membantu orang tua dan si Kecil melewati masa menantang ini dengan lebih harmonis dan minim stres bagi seluruh anggota keluarga.

Nggak jarang, malah orang tua yang bisa jadi frustasi saat menghadapi fase ini. Jadi, sangat penting juga bagi setiap orang tua untuk memiliki pendamping ahli seperti dokter atau psikolog yang dapat mendampingi menghadapi setiap fase perkembangan anak yang penuh tantangan.

Wajar banget untuk merasa frustasi saat Mams merasa minim pengetahuan tentang parenting skill. 

Naaah, di Sekolah Alam Balita Rumah Cilandak, setiap orang tua siswa akan didampingi oleh tenaga ahli baik psikolog, kepala sekolah, guru paud, maupun dokter anak, melalui berbagai seminar, kulwap atau konseling khusus.

Orang tua pun bisa mendapatkan panduan dan bimbingan bagaimana seharusnya memberi respon yang tepat pada balita sehingga fase perkembangan ini bisa terlewati tanpa beban.

Memahami seluk beluk fase terrible two juga bisa membantu orang tua memberikan dukungan emosional yang tepat bagi masa transisi si Kecil menuju kemandirian.

Sejujurnya, aku iri sih sama orang tua jaman sekarang yang bisa mencari informasi atau bantuan parenting dengan mudah. Soalnya belasan tahun lalu tuh, nggak semudah saat ini.

Jadi, manfaatkan perkembangan teknologi terkini dan semua kesempatan yang ada untuk mendukung perkembangan terbaik anak-anak kita yaaaa Mams!

Apakah Mams dan Pap membutuhkan konsultasi lebih banyak terkait tumbuh kembang Ananda dan program pendidikan anak usia dini?

Sekolah Alam Balita Jakarta

Jangan ragu yaaa untuk menghubungi school representative sekarang juga melalui web Sekolah Alam Balita Rumah Anak Cilandak atau langsung aja klik www.sekolahalambalita.com atau instagramnya di rumahanakcilandak, agar dapat dibantu untuk jadwalkan konsultasinya secara free yaaaaaaa~

Posting Komentar untuk "Apa itu Fase Terrible Two?"