Saat Luna (Sedikit) di Bully

on
Monday, 8 January 2018

"Mungkin akan ada saatnya dimana seorang ibu keliru saat berpikir dia bisa melindungi anak-anaknya selamanya. Saat itu juga, dia harus sadar dia harus mengajari anaknya untuk mulai melindungi dirinya sendiri"

Saat Luna masuk ke SD, aku tau kalo lingkungannya akan jauh berbeda dari TKnya dulu. Nggak akan ada mama Dian lagi yang 100% ngedampingin Luna, ketemu teman yang lebih beragam lagi, adaptasi dengan lingkungan baru dan segala penyesuaian lainnya.

Sempat dihantui juga oleh pemberitaan maraknya perundungan atau tindakan bully di sekolah-sekolah. Ada banyak banget berita perundungan yang beredar, mulai dari anak yang dipukul hingga meninggal! Atau beredarnya video perundungan anak-anak dikelas yang dimulai dengan cemoohan kemudian merembet ke kekerasan. It's HAUNTED me as a mom. 

Aku nggak ngerti dan nggak mau bayangin gimana rasanya jadi orangtua korban perundungan tersebut. Sakit. Banget. Pasti. Satu hal yang aku tau, anak-anak pelaku perundungan harus diberi pengertian yang mendalam dan pelajaran supaya mereka nggak mengulangi tindakan itu lagi ke teman-teman yang lainnya. Ini bahasa baiknya ya, kalo bahasa kasarnya mah: Sini kalo perlu bantuan, gue datengin tuh anak satu-satu!

Sampai akhirnya, it happens to Luna. Mungkin keliatannya cuma perundungan kecil aja. Tapi saat itu ngebuat Luna sedih, pastinya sebagai ibunya aku bakal 1000 kali lipat lebih sedih daripada Luna.

Saat Luna dibully

Kejadian ini sekitar 6 bulan yang lalu..

Hari itu sebelum berangkat sekolah Luna request sesuatu yang nggak biasa "Mah nanti mama ikut (mobil) jemputan Luna ya ke sekolah.." Padahal Luna ikut jemputan sekolah udah hampir 2 minggu, dan biasanya pun dia berani sendiri. Jadi aku pikir dia cuma bercanda aja dan aku jawab "Ya nggak mungkin lah Kak.. Emang mama-mama temennya Kakak pada ikut jemputan juga? Nggak kan?" Luna pun cuma diem dan geleng-geleng kepala aja saat itu.

Kemudian semua normal-normal aja sampe mendadak pas pakein Luna sepatu, Luna nangis sesenggukan dan cerita kalo di mobil jemputan rambutnya selalu ditarik-tarik sama kakak kelasnya. Mama Dian kaget banget liat Luna nangis. Karena Luna bukan tipe anak yang cengeng, dirumah pun jarang banget nangis. Seringnya cuma ngambek marah-marah dan nangis dalam sebulan itu masih bisa diitung jari. Tapi pagi itu dia nangis sesenggukan yang sampe liatnya pun ngga tega. Akupun langsung coba nenangin Luna sampai dia berenti nangis dan janji akan ngasitau ke bapak jemputan supaya kakak kelasnya berenti gangguin Luna.

Nggak berapa lama setelah itu, setelah Luna udah berenti nangisnya dan tenang lagi, mobil jemputan Luna dateng. Aku langsung ngasitau ke bapak jemputan tentang masalah narik-narik rambut ini. Kakak kelasnya pun aku tegor baik baik "Kak, jangan tarik-tarik rambut Luna ya.. Kasian sakit Lunanya.." Kakak kelasnya pun langsung ngeles sambil nuduh temennya yang lain. 

Karena ini adalah peringatan pertama aku pikir cukuplah ya dengan diomongin secara baik-baik.

Jam pulang sekolah, akupun nunggu jemputan Luna depan rumah sambil harap-harap cemas. Pas jemputan sampe depan rumah, Luna turun dengan ceria sambil dadah dadah sama kakak yang narik-narik rambutnya itu.. Aku langsung lega banget sambil nanya "Kok tadi dadah dadah sih Na sama kakak itu?" "Iya mah tadi kakaknya udah minta maaf dan ga tarik-tarik rambut Una lagi.." Alhamdulillah.. Lega banget dengernyaaaa :')

Alhamdulillah aku bersyukur banget masalahnya selesai hari itu juga. Luna keliatan bener-bener nggak ada beban saat turun dari mobil jemputan. Alhamdulillah degan sekali pemberitahuan kakak kelasnya ngerti dan langsung selesai ya masalahnya. 

Kemudian aku mikir, aku nggak bisa terus-terusan ngejadiin diri aku tameng untuk Luna. Kebetulan Luna ini tipe anak yang ngalahan dan selalu nerima aja kalo lagi main sama temennya. Mau nggak mau, aku mesti mulai menjadikan Luna anak yang lebih berani lagi.

Setelah Luna dibully

Setelah kejadian ini akupun jadi mikir beberapa pencegahan awal supaya Luna nggak gampang dibully sama temen-temennya:

Pertama dan yang paling penting adalah mengingatkan Luna bahwa dia nggak boleh ngisengin temennya sedikitpun. Whats goes around, comes back around kan? Saat kita nggak mau anak kita dibully, kita juga harus mengajarkan anak kita untuk nggak membully teman-temannya.

Kedua, begitu juga sebaliknya kalo sampe dia diisengin sama temennya dia harus cerita dirumah. Selalu menanyakan "Ada cerita apa disekolah hari ini?" Setelah Luna pulang sekolah. Tujuannya supaya Luna mau lebih terbuka lagi sama aku sendiri, mamanya.

Cobalah untuk "lebih" mendengarkan lagi anak-anak kita. Nggak cuma dari setiap cerita yang dia ceritakan ya. Tapi juga dari perilaku sehari-harinya dirumah, jangan sampe dia dibully di sekolahnya tapi dia takut nggak mau cerita. Jangan sampai suatu hari anak-anak kita selalu murung di rumah sampai kita nggak tau apa sebabnya. 

Ketiga, yakinkan anak-anak kita bahwa mereka adalah ciptaan Allah yang berharga untuk kita, orangtuanya. Ingatkan mereka supaya lebih menyayangi dirinya dan nggak membiarkan orang lain menyakiti dirinya. Ingatkan mereka bahwa mereka nggak boleh mengijinkan orang lain merendahkan diri mereka sendiri. Mereka berharga, mereka akan selalu dicintai dan dibutuhkan oleh kita, orangtuanya.

Dan seperti yang terjadi kemarin. Kalo sampe dia udah terlanjur dibully, hal pertama yang aku lakuin adalah :

• Menenangkan dia, dan mendengarkan ceritanya dengan sungguh-sungguh 
• Mengadukan ke penanggung jawab lingkungannya/bahkan ke orang tua anak tersebut,
• Memberitahukan ke anak yang bersangkutan secara tenang dan baik-baik.
• Sekali lagi mengingatkan bahwa segala bentuk bully itu nggak baik walaupun cuma ngelempar-lempar pensil atau penghapus temen dengan tujuan untuk menggoda temannya 

Aku yakin sesungguhnya pembully-an bisa dicegah mulai dari kita sendiri sebagai orangtua. Dengan cara MENGEDUKASIKAN KEPADA ANAK-ANAK KITA BAHWA BERLEBIHAN DALAM MENGANGGU TEMAN ADALAH HAL YANG TIDAK BAIK. Karena menurut aku sendiri, pembully-an besar di kemudian hari sesungguhnya dimulai dari pembully-an kecil yang dibiarkan saat mereka kecil.

Rantai pembully-an itu pasti bisa diputuskan dimulai dari anak-anak kita sendiri. Dan itu nggak terlepas dari peran kita sebagai orangtuanya. 

Aku tau nggak akan selamanya bisa ngedampingin Luna ngelawan jahatnya dunia ini. Tapi aku rasa aku bisa mulai mengajari dia semua hal yang aku tau untuk jadi lebih kuat dan pelan-pelan mengajari Luna untuk mulai berani melindungi dirinya sendiri. Aku. Pasti. Bisa!

Hayuklah buibu milenials, mari kita bersma-sama bergandengan tangan memutus rantai pembully-an mulai dari anak-anak kita sendiri. Tindak pembully-an awalnya dimulai dari tindakan keusilan kecil yang mereka anggap bukan apa-apa, namun jika dibiarkan akan meninggalkan trauma besar kepada korban dan mendorong si pelaku untuk melakukan tindakan pembully-an yang lebih lagi dari sebelumnya.

Bismillah, semoga anak-anak kita dijauhkan dari segala macam bentuk pembully-an ya, baik itu sebagai korban maupun pelaku. Aaaaaminnn! 

Oh iya, udah mulai masuk lagi setelah liburan panjang kan? Semoga buibu semua tetap semangat mendampingi anak-anak di semester genap ini yaaaa😘😘😘
2 comments on "Saat Luna (Sedikit) di Bully"
  1. Miris banget memang dengan pem-bullyan yang terjadi di Indonesia. Awalnya emang cuma bercanda dan itu mereka anggap lucu. Padahal efeknya ke psikis anak :( Mulai sekarang harus ekstra hati-hati menjaga anak ^^

    ReplyDelete
  2. Makasih banget lho sharing-nya, Mbak. Emang klo dibiarin bisa berpengaruh banget ke anak.

    Saya sendiri punya temen di-bully sama temen-temennya sewaktu SMP, padahal SMP-nya di kota kecil. Dia nggak bisa cerita ke siapa-siapa karena waktu itu cuma tinggal bareng kakek neneknya (orang tua kerja di Jakarta, dia dititipin di sana). Waktu saya kenal dia semasa masih mahasiswa, dia jadinya minderan banget, serba takut salah kalau persoalannya sama temen, dan paling nggak bisa ngambil keputusan sendiri (sekalipun itu hal yang penting buat dia)

    Emang paling baik anak udah dari kecil mulai dibekali. Salut deh sama mbak :)

    ReplyDelete

Terima kasih sudah membaca Adriana Dian's Blog dan meninggalkan komentar disini. Silakan tinggalkan link blog lewat pilihan name/URL ya, jadi bisa aku kunjungi balik. Link hidup yang ada pada komentar akan langsung dihapus. Makaciiii❤︎❤︎❤︎

Custom Post Signature

Custom Post  Signature