Hindarilah Memanaskan Makanan yang Mengandung 3 Jenis Sayuran ini!

on
Saturday, 27 August 2016


Setiap keluarga tentunya punya tradisi dan kebiasaan yang berbeda-beda, salah satunya dalam hal mengolah makanan sisa dirumah. Ngomongin makanan sisa, kebetulan aku kenal satu keluarga yang nggak pernah makan menu yang sama dalam sehari. Sarapan, makan siang dan makan malem harus menu yang berbeda, mereka enggan makan makanan sisa yang dipanaskan. Kalo mereka bilang sih, makanan yang diangetin lagi itu namanya makanan daur ulang.

Kalo di rumah aku sendiri, biasanya sih masak pagi sekalian untuk makan siang dan makan malem. Praktis, nggak perlu masak-masak lagi sore-sore. Hihi. Terus kalo ada makanan sisa malemnya, gimana? Ya dipanasin lagi untuk besoknya, eman-eman, sayang kan kalo dibuang, mubadzir buk-ibuk. 

Tapi kalo makanannya dipanasin lagi berarti kita makan lauk yang sama terus-terusan kan, bosen ngga siiihh? Nah, biar nggak bosen ternyata makanan sisa itu sebenarnya bisa kita olah lagi jadi makanan yang berbeda. Seperti yang Mak Maya Siswandi tulis di sini, tentang Makanan Sisa, Diolah Lagi atau Dibuang? Salah satu contohnya, capcay yang nggak habis, bisa kita olah lagi dengan menambahkan tepung dan telur untuk kemudian digoreng menjadi bakwan. Mak Maya ini memang kreatif bangeeet, sebelumnya aku nggak pernah mikir kalo capcay bisa jadi bakwan. Hihi. Untuk ide kreatif mengolah kembali makanan sisa lainnya, langsung meluncur aja ke tulisannya mak Maya diatas yaaa.

Pada intinya, makanan sisa akan dipanaskan, diolah kembali atau malah justru dibuang, semuanya kembali lagi ke kebiasaan keluarga masing-masing ya. Eits tapi jangan lupa, bahwa memang nggak semua sayuran bisa dipanaskan kembali. Makanan yang dipanaskan pasti berkurang kandungan gizinya, bahkan ada juga beberapa jenis sayur yang bisa menjadi "racun" jika dipanaskan. Berikut 3 macam sayuran yang tidak boleh dipanaskan kembali:

1. Bayam

Kalo dirumah, memasak sayur bayam memang diberi pengecualian, biasanya kuahnya termasuk bumbu udah dimatengin dari pagi. Pas sore menjelang makan malem, baru kuahnya dipanaskan dan dicemplungin bayemnya. Kalo nggak abis malem itu, pasti besoknya langsung dibuang. 

Karena Bayam mengandung asam nitrat yang jika dipanaskan akan berubah jadi nitrit. Dan jika masuk ke dalam tubuh kita, akan menjadi salah satu penyebab munculnya kanker. Hmmm, serem ya? Oleh karena itu disarankan langsung memakan bayam  yang sudah dimasak ya!

2. Seledri

Seledri, salah satu sayuran yang suka dimasak di dalam sup ternyata memiliki sifat yang sama dengan bayam.  Yang jika dipanaskan akan berpotensi memicu munculnya sel kanker dalam tubuh kita. Jadi kalo memang menggunakan seledri di dalam sup, jika mau memanaskan supnya, lebih baik seledrinya dibuang dulu ya. 

Kalo dirumah, saat masak sup biasanya seledrinya langsung aku masukin nggak pake dirajang dulu. Jadi kalo mau dipanaskan supnya, gampang deh ngambil seledrinya untuk dibuang. Hehe.

3. Brokoli

Sayuran kesukaan Una ini ternyata juga memiliki kandungan asam nitrat yang cukup tinggi, yang jika dipanaskan ulang akan berubah menjadi nitrit yang berbahaya untuk tubuh kita. Penyajian brokoli yang paling baik adalah dengan cara dikukus dengan menambahkan sedikit garam diatasnya. Seperti bayam, baiknya brokoli juga langsung dihabiskan sekali makan ya.

Selain 3 sayuran diatas, ternyata kentang juga termasuk jenis makanan yang sebaiknya nggak dipanaskan lagi. Karena kentang yang dipanaskan bisa menimbulkan gangguang pencernaan pada tubuh kita. 

Hmm, jadi kalo memang mau memanaskan atau mengolah kembali, kita kudu lebih cermat dan teliti lagi ya. Akupun masih team #PanasinMakananSisa kok, soalnya sayang kalo buang-buang makanan. Atau kalo bisa sekali masak langsung dihabiskan aja ya, jadi nggak ada sisa makanan. Hihi. Yang pasti sih jangan buang-buang makanan, mubadzir ya bu-ibu. Kalo dirumah kamu gimana, tim #PanaskanMakananSisa, atau #BuangMakananSisa?

Menghabiskan Senja di Floating Market Lembang

on
Tuesday, 23 August 2016

Menghabiskan Senja di Floating Market Lembang - Bandung! What a lovable city! Jadi bulan Mei kemarin, tepatnya di acara perpisahannya Una. Mama Dian, papa Api, Una dan Abang beserta segenap murid dan orangtua murid TK Aisyiyah 49 juga tentunya, ngeBandung seharian euy! Jadi acara perpisahan TK Una tahun ini mengambil tempat di Bandung, dengan dua tujuan tempat wisata, yaitu Jendela Alam dan Floating Market Lembang.


Setelah siang itu selesai ajak anak-anak main di Jendela Alam, selanjutnya rombongan TK Aisyiyah 49 pun melanjutkan perjalanan ke Floating Market Lembang. Yang ternyata jaraknya deket banget, nggak sampe setengah jam bus kita sudah sampai di Floating Market Lembang.



Kalo nggak salah, kita sampai disana sekitar jam 3 sore, dan cuaca diBandung hari itu lagi gloomy-gloomy manja gitu, alias mendung-mendung suram. Hehehe. Setelah ambil tiket di bu kepala sekolah, kita pun langsung cuss masuk ke Floating Market ini. Ternyata, tiket masuk ke dalam Floating Market ini udah termasuk satu minuman hangat loh. Kalo nggak salah minuman hangat yang tersedia ada lemon tea, milo, dan kopi. Pas banget mama Dian lemon tea, Una dan Abang susu milo, kalo papa Api ambil kopi.



Pertama kali menjejakkan kaki di Floating Market, kita langsung disuguhkan pemandangan danau yang besar. Walaupun udah sore dan cuaca cukup mendung, tapi Floating Market hari itu tetep padet pengunjung. Dan karena udara dingin khas Bandung, mama Dian pun ngerasa laper lagi walaupun tadi udah makan siang. Hihi. Akhirnya, kita berempat muter-muter sambil cari bakso, makanan-favorit-sepanjang-masanya papa Api.

Jadi Floating Market Lembang ini selain memiliki ciri khas pasar makanan terapung, juga memiliki banyak tempat-tempat seru lainnya. Sayangnya, karena kita berenpat udah abis duluan tenaganya di Jendela Alam, jadinya nggak bisa maksimal mengeksplor Floating Market Lembang. Padahal Floating Market Lembang ini luas banget, tapi sayang kita cuma sempet mampir ke beberapa sudut-sudutnya aja. Kemana aja jadinya kita berempat di dalam Floating Market Lembang ini?


1. Miniatur Kereta Api




Museum mini ini punya tampilan lokomotif kereta api lucu dari luar. Mama Dian, Una sama Abang yang penasaran sama museum ini, langsung cuss ajak papa Api masuk ke dalemnya. Di dalam museum miniatur kereta api ini ada banyak miniatur kereta api yang ditampilkan, mama Dian pikir miniatur-miniatur itu cuma dipajang aja, tapi ternyata juga untuk dijual loh.



Oh iya, di museum Miniatur Kereta Api ini juga ada bagian yang kalo mau masuk mesti beli tiket dulu. Tapi kita berempat nggak masuk kesana karena males beli tiketnya :p Jadinya kita cuma liat-liat miniatur kereta api yang ada diluarnya aja kemudian melanjutkan lagi perjalanan ke tempat selanjutnya.


2. Taman Kelinci


Taman Kelinci ini isinya semacam track berjalan untuk anak-anak yang melewati bukit-bukit kecil yang dihuni banyak kelinci-kelinci lucu nan menggemaskan. Untuk masuk ke dalam taman kelinci ini, pengunjung juga harus membeli tiket sendiri. Dan lagi-lagi karena males beli tiketnya, yaudah kita nggak memutuskan untuk masuk ke dalam Taman Kelinci ini dan lanjut jalan lagi~


3. Kampung Leuit


Di sepanjang jalan masuk ke Kampung Leuit ini, digantung alat musik khas Bandung yang sudah mendunia, Apalagi kalo bukan Angklung, dengan segala macam nada yang bisa kita mainkan disana. Plus ada juga gong-gong kecil disebelahnya. Una sama Abang pun langsung penasaran ikutan pegang-pegang dan mainin dua alat musik itu.


Kampung Leuit, berdasarkan namanya merupakan semacam tempat yang menggambarkan sebuah kampung kecil dengan sawah dan rumah-rumah yang terbuat dari bilik bambu. Desa sekali suasananya. Tapi yang paling menarik dari Kampung Leuit ini adalah boneka-boneka cepot yang digantung banyak di atas sawah kecilnya. 


Agak-agak creepy sih liatnya. Eh tapi Una sama Abang malah penasaran sama boneka Cepot ini loh, kirain bakal pada takut. Hihi. Mama Dian juga berani sih, masih sore soalnya, kalo malem sihhhh.. Duh, jadi berasa uji nyali ya kalo dikelilingi boneka cepot sama orang-orangan sawah gini. *Maklum mama Dian penakut orangnya x)*



4. Floating Market

Setelah puas main sama cepot di Kampung Leuit, kita pun melanjutkan perjalanan tanpa tujuan, cuma mengikuti jalan yang ada disana aja. Hihi. Hingga sampailah kita di Pasar Apung atau dikenal juga dengan Floating Market.


Tadinya aku pikir Pasar Apung disni bakal kaya pasar apung yang penah muncul di iklan salah satu TV swasta dulu x) Ternyata, pasar apung disini nggak jual sayuran, cuma jual makanan aja. Pun perahu yang dipakai untuk jual makanannya cantik-cantik dan tersedia meja dan kursi di depan perahu-perahu tersebut untuk pengunjung yang ingin makan langsung disana.

Sayangnya, nggak ada makanan berat disana. Kebanyakan makanan yang dijual kalo aku nggak salah liat ya yaitu cemilan-cemilan kecil aja seperti seblak, tahu dan rujak. Dan untuk beli makanan disini, kita harus menggunakan koin khusus yang bisa dibeli langsung di kios yang ada disana. Karena mama Dian males nukerin uang sama koin, dan nggak ada baso pula disana. Yaudah akhirnya kita nggak jajan apa-apa disana dan memilih melanjutkan perjalanan sembari mencari semangkok bakso yang hangat,



Kita pun kembali jalan mengikuti jalan kecil yang ada, sambil melewati beberapa taman-taman disana. Tamannya cantik-cantik sih, tapi sayangnya kalo menurut aku kurang alami, kurang natural dan kurang berasa sentuhan Bandungnya. Jalan disana berasa jalan di taman yang ada di Jakarta aja. Beda udaranya aja kali yaaaa. Udara Bandung emang sejuk pisan euy! Dan kemudian sampai juga di pinggir danau dengan banyak tempat-tempat makan yang berjejer disisinya. Tapi belum nemu bakso nih disiniii.





Dan tanpa terasa kita jalan hingga sampai lagi ke pintu masuknya Floating Market Lembang ini, Khatam muterin Floating Market Lembang juga akhirnya. Hihi. Tapi karena belom juga menemukan bakso, kita pun masih lanjut jalan sembari melewati belokan-belokan yang tadi belum kita lewati. Oh iya, disepanjang jalan setelah jalan masuk Floating Market Lembang ini kita juga bisa menemukan toko merchandise dan handcraft yang berjejer disana. Kalo mau cari oleh-oleh dari Floating Market Lembang, banyak pilihannya loh disini.


Walaupun udah muterin Floating Market Lembang ini, tapi belom semua jalan sempat kita susuri. Soalnya jalan kecilnya banyak cabang-cabangnya sih. Hingga akhirnya kita menemukan satu kedai makanan yang jual makanan favoritnya papa Api, Bakso! Hoooraaay!

Karena mama Dian nggak terlalu suka Bakso *kurang nendang soalnya rasanya kalo lagi laper cuma makan bakso aja x)* akhirnya mama Dian pesen bakmi ayam untuk mama Dian dan kwetiau goreng untuk Una dan Abang. Untuk harga makanan disana sih kalo menurut mama Dian, pas kok sama makanan dan tempatnya. Rasa bakso, bakmi ayam dan kwetiau gorengnya juga nggak mengecewakan, apalagi  dimakannya pas lelan plus laper dengan meja di tepian danau, didukung pula oleh cuaca yang mendung dan suasana senja yang temaram. Perfect! Maaapkeun ya kita nggak sempet foto-foto disni, perut udah kerucukan parah soalnya, jadi nggak kepikiran untuk foto. Hihi.

Setelah puas jalan-jalan di Floating Market Lembang ini, rombongan TK Aisyiyah 49 pun memulai perjalanan kembali ke Jakarta sekitar pukul 7 malam. Jalan-jalan perpisahan hari itu emang berasa ngeBandung seharian banget. Gimana nggak seharian kalo kita berangkat dari Jakarta jam 7 dan sampe ke Jakarta lagi jam setengah 12 malem. Luar biasa banget pokoknyaaaa. Cuma satu daerah di Bandung aja makan waktu sehari yaaaa. 

Walaupun udah seharian di Bandung rasa-rasanya emnag belom puas sih jalan-jalannya. Apalagi itu cuma di satu daerah aja. Duh, seru pasti ya kalo bisa liburan beberapa hari di Bandung. Bandung selain enak banget cuacanya, juga keren banget kotanya dan punya banyak tempat wisata segala rupa.

Mama Dian langsung membulatkan tekad kalo liburan nanti mau liburan ke Bandung aja. Biar puas explore Bandungnya, minimal liburan 3 hari lah ya di Bandung. Tempat nginepnya langsung cuss nih mama Dian cari-cari di Traveloka, langsung ketemu deh beberapa hotel di Bandung Barat yang oke. Banyak banget pilihan-pilihan hotel kece di Traveloka. Tapi sepertinya mama Dian cukup tertarik dengan Mason Pine Hotel. Mason Pine Hotel ini terletak di daerah sekitar Padalarang Bandung. 



Mason Pine Hotel ini merupakan hotel bintang 4 yang lengkap fasilitasnya, serta menurut mama Dian cukup terjangkau harganya. Kalo liat-liat foto Mason Pine Hotel yang ada di webnya Traveloka, jadi nggak sabaran mau nginep disana sambil liburan di Bandung. Hihi. Mudah-mudahan kesampaian ya, dan nggak ada aral melintang yang berarti. Aaaaaamiiin.

Akhirnya, selesai juga rangkaian cerita perpisahan Una ke Bandung. Semoga pas Una besar nanti, Una masih bisa buka blog ini dan baca cerita perpisahannya yaaa. Ingetan anak-anak waktu TK  kan mudah terlupakan soalnya, oleh karena itu mama Dian abadikan di blog ini untuk Una♥

Oh ya, dan ternyata tahun ini kabarnya, perpisahan TKnya Abang akan mengambil tempat di Pelita Desa, Ciseeng Bogor. Hmmmm, ada yang udah pernah kesana atau tinggal deket sana mungkin? Bisikin dong tempatnya kaya apaaaa~

Floating Market Lembang
Jalan Grand Hotel No. 33E, Lembang, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat 40391
(022) 2787766
Harga tiket masuk: Rp. 15.000,-
Jam Buka: 09.00 - 17.00 WIB

Mari Sebarkan Cinta Untuk Semua Ibu Menyusui!

on
Tuesday, 16 August 2016

"Anaknya ASI nggak nih?"
"Anaknya masih ASI?"
"Anaknya ASI sampe umur berapa?"

Mari Sebarkan Cinta Untuk Semua Ibu Menyusui! - Bu-ibu yang sudah memiliki anak, apakah kalian sudah kenyang dengan pertanyaan diatas? Kalo aku sendiri, sebagai ibu dengan dua anak, sesungguhnya udah cukup kenyang banget sama pertanyaan-pertanyaan diatas. Pertanyaan ini sesungguhnya akan memunculkan perdebatan panjang kalo ditanyakan di jaman sekarang, khususnya kalo jawabannya si anak minum sufor.

Baca juga tulisan Kak Istiana Sutanti tentang ASI: ASI dan Perkembangan Media Sosial

My Confession about ASI

Sesungguhnya dengan berat hati dan takut di-bully, disini aku mau mengatakan bahwa Una, anak pertama aku nggak lulus ASIX dan minum sufor di usia 3 bulan. 

Sebelum ada yang mau nge-judge, mari dengarkan dulu apa penyebabnya. Waktu itu aku melahirkan Una saat masih kuliah semester 4 di kampus tercinta. Dan karena kampus sistem SKSnya paketan, jadi aku memutuskan untuk nggak ambil cuti melahirkan, cuma ijin nggak masuk selama 4 kali pertemuan aja, alias 1 bulan aja. 2 minggu aku ambil sebelum melahirkan, dan 2 minggu aku ambil setelah melahirkan. 

Dengan masalah puting rata, sesungguhmya masa-masa awal menyusui Una memaang cukup 'berdarah-darah', tapi i'm not a quitter! Alhamdulillah suami dan keluarga mendukung banget untuk ASIX, jadinya alasan sulit menyusui karena puting rata bukan penyebab aku ngasih sufor ke Una.

Jadi waktu itu, setelah aku kembali ngampus di umur Una 2 minggu, aku menyadari bahwa, kamar mandi kampus nggak mendukung sebagai tempat pumping ASI. Waktu itu di kampus cuma ada dua bilik kamar mandi, satu untuk laki-laki dan satu perempuan. Kampus aku memang kampus kecil, satu angkatan kurang lebih 100 orang, dan sebagai kampus Diploma III, yang berarti ada 3 angkatan dalam 1 kampus, jumlah mahasiswanya kurang lebih 300 orang. Dan kampus kecil itu memang cuma punya dua bilik kamar mandi. (FYI: Itu tahun 2010 ya, kalo sekarang mah gedung kampusnya udah pindah ke gedung besar depan stasiun TVnya, dengan kamar mandi yang luas, bersih dan banyak biliknya. Hihi.)

Dan apakah aku menyalahkan kampus aku karena itu? Ya nggak dong ya, waktu itu aku jadi mahasisiwi pertama yang udah memiliki anak di kampus. Jadi aku maklum banget kalo kampus nggak memperhatikan aspek-aspek pentingnya tempat untuk pumping ASI.

Sesungguhnya kamar mandi kampus cukup bersih walaupun nggak luas, tapi tetep aku nggak tega ngebayangin bakal mompa ASI yang akan diminumkan ke Una di dalam kamar mandi itu. :') Belom lagi kalo ada yang ngetok-ngetok kamar mandi pas aku didalem, mompa ASI kan ngga bisa sebentar. Akhirnya, akupun cuma mompa ASI sebelum berangkat dan setelah pulang kuliah.

Dan itu nggak cukup, hingga akhirnya dengan berat hati akupun beli susu formula untuk Una diusianya 3 bulan. Sedih nggak sih nggak bisa ASIX untuk Una? Sedih bangeeet! Tapi aku bakal lebih sedih lagi kalo sepanjang aku kuliah Una nangis dan rewel karena laper dan ngga ada persediaan ASI di rumah. 

Dan aku tau betapa pentingnya bonding yang terbentuk antara ibu dan bayinya di masa-masa menyusui, dan betapa besarnya pengaruh bonding itu untuk masa depan si anak. oleh karena itu, sepulang kuliah aku tetep minumin Una ASI langsung dari aku  sampe umurnya 1 tahun. 

Beda dengan anak pertama, anak kedua aku Rizqi, lahir tepat 3 hari sebelum aku diwisuda. Dan setelah lulus kuliah, akupun memutuskan menjadi ibu rumah tangga dengan dua anak bayi yang beda umurnya cuma 1 tahun aja. Dengan 100% waktu dirumah, akupun sukses memberi ASIX ke Rizqi selama 6 bulan pertama dan lanjut sampe umurnya 4 tahun!

ASI, MomWar dan Social Media

Perkembangan sosial media khususnya facebook di jamannya anak-anak aku baru lahir sama sekarang-sekarang ini juga jauh beda. Jaman sekarang, tombol share di facebook itu udah jadi primadona banget. Ada resep makanan enak klik share. Ada ide-ide unik nan lucu, klik share. Ada berita atau hosip terkini, klik share. Ada info-info terbaru, klik share. Ada meme-memean yang bisa buat nyinyirin orang, klik share. Ada artikel yang cocok untuk nyentil pasangan, klik share.

Dan nggak jarang, ketika ada artikel tentang ASI yang di share disana juga lah ada aja perdebatan alias momwar yang terjadi.

Kaya beberapa saat yang lalu, aku liat seorang rekan blogger yang share tantang acara memperingati pekan ASI yang disponsori oleh produsen botol bayi. Ada aja gitu yang komen kira-kira garis besarnya gini nih, "Wah salah banget nih produsen botol bayi ngadain acara tentang ASI. Dia aja produksi botol dan dot, berarti dia nggak pro ASI dong?" Dan saat itu aku langsung, seriously? Ni orang komen tanpa basa-basi dulu. Dengan bahasa yang menurut aku langsung memancarkan kesinisannya kepada blogger yang sharing acara tersebut.

Memberi ASI setau aku memang paling baik adalah langsung dari si ibu. Paling bagus juga, kalo memang mau memberi ASIP (ASI Perah) adalah dengan sendok yang langsung disuapi ke si bayi, biar nggak bingung puting. Tapi memberi ASI dengan botol menurut aku bisa jadi salah satu opsi juga kok, apalagi kalo si ibu bekerja dan yang ditugasi untuk menjaga si bayi saat si ibu bekerja, orangnya nggak telaten.

Haruskah, sahabat pro ASI tersebut berkomentar dengan sinisnya kepada blogger yang share acara tersebut?

Mari Sebarkan Cinta Untuk Semua Ibu Menyusui!Sesungguhnya, akupun pernah mengalami sebuah pengalaman nggak enak sama seorang bu-ibu yang lagi pumping ASI. Diumur Una 7 bulan, aku sempet magang di salah satu kantor bareng suami. Waktu itu kebetulan suami aku sendiri ya yang ngalamin langsung, ada salah seorang karyawati disana yang lagi bersihin pompa ASInya setelah memompa ASI di kamar mandi. Dengan polosnya suami akupun negur karyawati tersebut dan menyatakan kekagumannya tentang si mbak yang masih mompa ASI ditengah kerjaannya, yang disusul dengan cerita tentang aku yang enggan mompa ASI di kamar mandi dan memilih memberi sufor ke Una saat aku nggak dirumah.

Tanpa diduga-duga, si mbak tersebut langsung ngomel sama suami *untung aku nggak ada disana, udah balik duluan*, di tengah-tengah kantor dan ceramah tentang pentingnya ASI serta payahnya aku jadi ibu yang ngasi sufor ke anaknya. *pukpuk pak suami*

Padahal si mbaknya nggak tau loh alasan kenapa aku ngasih sufor ke Una. Dan dia juga nggak tau kalo aku tetap ngasi Una ASI langsung dari aku kalo aku dirumah. Sejak saat itu aku memilih untuk nggak mendekati kubikel tempat mbak itu bekerja, bukannya apa, aku takut aja dia ngenalin aku sebagai si-ibu-yang-payah-karena-ngasi-sufor dan nyemprot aku disana. Bisa nangis kejer ntar gue :'(

Saat itu aku juga langsung berpikir, haruskah ibu itu menyatakan pendapatnya tentang aku dengan begitu kasar dan sinisnya? Apakah aku ibu yang nista banget karena gagal memberi ASIX ke Una?

Dan sekarang kalo pertanyaan ini muncul, "Anak pertamanya dulu ASI sampe umur berapa tahun?"
Mama Dian pun akan menjawab "Satu tahun"  dengan senyum manis terlebar nan keibuan. Itu fakta kok. Walaupun di umur 3 bulan, Una sempe minum sufor juga. Aku bener-bener enggan memicu momwar dan enggan merelakan diri untuk disemprot secara langsung.

Emang setiap kaum ProASI sinis ya menyampaikan pendapatnya, mama Dian? Ya nggaklah, aku kenal banyak kok kaum-kaum ProASI yang supportif dan super komunikatif banget  dalam menyampaikan pendapatnya tentang ASI kepada bu-ibu yang tampaknya kesulitan memberikan ASI untuk anaknya.

Semua ibu pasti setuju kalo ASI adalah yang terbaik untuk anaknya. Aku pun SETUJU itu. Namun setiap ibu tentunya punya keadaan yang berbeda-beda dan kesulitan yang nggak sama dalam memberi ASI untuk anaknya. Dan yang mereka butuhkan adalah dorongan dan support yang baik, bukannya dorongan dalam bentuk bully-an. 

"You cant really understand another person's experience until you've walk a mile in their shoes"

Memberi ASI sesungguhnya adalah sebuah proses dan perjalanan yang nggak mudah untuk semua ibu menyusui. Kita nggak bisa menjudge seseorang tanpa tau gimana keadaan orang tersebut. Mari mommies, kita sama-sama bergandengan tangan untuk memberikan dorongan yang positif untuk para ibu yang menyusui. Because their need our support not a bully!

Sayang, Honeymoon ke Bali yuk..

on
Wednesday, 10 August 2016
Sayang, Honeymoon ke Bali yuk.. - Tahun ke-6 pernikahan, apakah sudah seharusnya kita pergi honemoon berdua? Atau sekalian liburan sama anak-anak aja berempat? Pengennya sih berdua aja, namun apa daya ada dua krucil yang masih balita dan kayanya kita nggak akan tega ninggalin anak-anak sementara kita seneng-seneng berdua :’) Ya namanya juga orangtua yaaaaa.

Jadi mungkin perayaan ke-6 tahun pernikahan harus tetap dirayakan berempat ya. Untuk destinasinya, kita pilih aja pulau terbaik Asia, pulau no 5 terbaik di dunia, apalagi kalau bukan Pulau Bali! Salah satu pulau dengan banyak pantai yang indah ini sepertinya seru kalo dieksplor berempat. Kebetulan anak-anak suka banget main pasir, jadi menurut aku mereka pasti cinta banget sama pantainya Bali yang kece-kece.

Photography by Hepri Prasetio

Pun di Bali wisata edukatif untuk anak-anak seperti Bali Safari and Marine Park dan Bali Bird Park yang pastinya bakal jadi tempat jalan-jalan yang asik untuk anak-anak.  Ada juga wisata main-main airnya di waterbom Bali dan New Kuta Green Park Pecatu. Dan untuk hotelnya, kebetulan aku mau cari yang nyaman plus lengkap dengan fasilitas untuk anak-anak.


Setelah cek di Traveloka, aku tertarik banget sama Grand Hyatt Bali.  hotel ini keren dan fasilitasnya lengkap banget. Grand Hyatt Bali ini terletak di Nusa Dua Beach dan cuma berjarak kurang dari 10 km dari Bandara Ngurah Rai. Tempat jalan-jalan terdekatnya ada Pusat Perbelanjaan Bali Collection, Pantai Mengiat, Museum Pasifika dan Bali Nusa Dua Theater yang jaraknya kurang dari 1 km aja.

Fasilitas untuk anaknya ada kolam renang khusus anak, area main anak dan bahkan ada penitipan anak berbiaya-nya. Kayanya seru ya kalo jalan-jalan berdua aja sambil nitipin krucil ke penitipan anak di sini. *eh*  Fasilitas yang lainnya nggak usah ditanya lagi ya lengkapnya kaya apa. Ada olahraga air, spa, kolam renang outdoor, pantai privat, aktivitas outdoor bahkan penyewaan sepedapun tersedia loh.

Karena belum tega ninggal anak-anak, kita familymoon dulu aja gapapa lah ya. Yang penting bisa menghabiskan waktu bareng-bareng, biar keluarga kecil ini makin kompak dong yaaaaa.

Sayang, gapapa deh nggak usah honeymoon. Kita familymoon ke Bali aja yuk..


Sabtu Pagi yang Sibuk Bersama Mumu

on
Friday, 5 August 2016
Sabtu Pagi yang Sibuk Bersama Mumu - Apa yang terjadi ketika di sebuah sabtu pagi yang cerah,  Mama Dian harus menyelesaikan tulisan yang datelinenya siang itu, sementara Luna ribut minta ditemenin main di taman serta request sarapan sereal TAPI sereal dan susunya habis? Saat itu juga rasanya mama Dian mau membelah diri jadi 3, satu buat nyelesein tulisan, satu buat nemenin Luna main ditaman dan satu lagi buat belanja grocery ke supermarket terdekat. Yang mana yang harus dilakukan pertama niihhh?

Karena Luna udah narik-narik mamanya ke Taman depan rumah, yaudah akhirnya mama Dian putuskan untuk nemenin Luna main di taman dulu disambi lanjutin tulisan yang udah hampir 90% rampung. Untung anaknya happy-happy aja walaupun mamanya nemenin dia ke taman sambil sibuk sendiri sama laptop. Hihi.


Eh tunggu! Terus susu sama sereal buat sarapannya gimana niihh? Untunglah mama Dian tau tempat belanja grocery online yang bisa mengantarkan belanjaan kita dalam waktu 1 jam aja. Terima kasih sudah hadir dihidupku Mumu.id

Jadi belanja lewat Mumu.id ini bisa langsung lewat webnya di www.mumu.id atau bisa lewat aplikasi Mumu yang bisa kita download di Appstore atau Playstore smartphone kita. Kalo mama Dian sih favoritnya belanja di Mumu lewat webnya langsung aja. Biar bisa lebih puas milih-milih belanjaannya. Hihi.

Belanja Online Grocery Mumu


Jadi sebelum ngelanjutin tulisan, mama Dian buka web mumu.id dulu dan belanja susu plus sereal disana. Belanja di mumu.id enaknya adalah praktis, harganya jelas, dan belanjaan kita sampai dirumah dalam waktu 1 jam aja. Bahkan bisa kurang dari 1 jam loh.

Mumu bisa mengantarkan belanjaan kemana aja sih? Untuk sementara waktu ini, Mumu bisa mengantarkan belanjaan ke seluruh Jakarta ditambah Bandung, Semarang dan Surabaya. Untuk para warga Bekasi, jangan khawatir, sebentar lagi warga Bekasi juga bisa menikmati kemudahan belanja di Mumu kok. Coming soon untuk Bekasi :)

Cara belanjanya pun praktis, pertama, pilih domisili tempat tinggal kita, kemudian pilih supermarketnya, pilih belanjaannya, checkout dan login, tuliskan alamat pengantaran, pilih waktu pengantaran dan pilih pembayaran. Untuk saat ini Mumu menyediakan 3 jenis pembayaran, yaitu dengan Cash On Delivery (COD), Credit Card dan Bank Transfer. Paling enak sih COD aja yaaaa.

Untuk pembelanjaan diatas 300ribu, gratis ongkos kirim, tapi karena kemarin belanjaan mama Dian nggak sampai 300ribu jadinya dikenakan biaya Rp. 15.000,- untuk jasa pengirimannya, tapi itu worth it banget kalau dibandingkan sama ongkos ke supermarketnya dan waktu belanja yang bisa kita manfaatkan untuk hal lain yang lebih penting.  Seperti ngejer dateline tulisan dan nemenin Luna main di taman gini.

Belanja Online Grocery Mumu


Setelah selesai belanja di Mumu, mama Dian pun melanjutkan tulisan yang datelinenya dah ngejer-ngejer ini. Sembari liat-liatin Luna main juga lah, jangan sampe karena keasikan ngetik nggak taunya Luna hilang dari pandangan. Setengah jam kemudian, mama Dian dapet telepon dari personal shoppernya Mumu yang mengabarkan kalo belanjaannya mama Dian udah OTW. Woaaahhh cepatnyaaa!

Yasudah, mama Dian langsung tutup laptop dan nemenin Luna main sebentar sambil liat-liat ke arah rumah. Takutnya nanti driver Mumu a.k.a Muvers udah nyampe depan rumah dan mama Dian nggak liat lagi. Hihi.

Belanja Online Grocery Mumu

Betul kaaaann, nggak sampe 15menit kemudian seorang Muvers udah nungguin di depan pagar rumah. Nggak sampe satu jam loh ternyata, barang belanjaan mama Dian udah sampai dirumah. Mama Dian pun menandatangani nota yang diberikan oleh mas Muvers ini. dan kemudian membayar barang belajaan mama Dian. Terima kasih mas Muvers yang super ramah dan gesit ini! Hihi

Belanja Online Grocery Mumu


Terima kasih Mumu yang udah ngebantu mama Dian banget pagi ini. Setelah capek main ditaman, Luna bisa langsung sarapan sereal kesukaannya deh. Belanja di Mumu bener-bener praktis dan hemat waktu banget. Thank you Mumu, my personal shopper online groceries!

Belanja Online Grocery Mumu
Instagram: @mumu.id
Facebook: Mumu.id
Line: @mumu.id
Whatsapp: 0812-1338-5899

Custom Post Signature

Custom Post  Signature