21 Januari 2014

06.29.00


Musibah di awal tahun.

Awal tahun lalu, mama kena stroke. Dan awal tahun ini Allah memberikan cobaan lagi berupa kebakaran. 

Luar biasa rasanya. Kejadiannya berlangsung hampir tengah malam. Saat itu Luna sama Rizqi pun sudah tidur pulas. Dan Alhamdulillahnya posisi kamar aku ada di paling depan. Sementara sumber api berasal dari kamar paling belakang yang berisi barang-barang yang tidak terpakai lagi atau biasa kami sebut gudang.


Penyebab kebakaran adalah konsleting listrik. Saat itu rumah sudah dalam keadaan mati lampu selama 3 hari. Rumah sebelah yang baru dibongkar meninggalkan satu sisi dindingnya yang belum dirobohkan, menyebabkan celah penampung air hujan diantara kedua dinding. Sialnya dinding rumah kami itulah tempat tertempelnya saklar-saklar listrik dirumah. Air hujan yang tertampung di antara kedua celah itupun merembes ke dalam saklar itu dan menyebabkan turunnya listrik rumah kami terus menerus. Hingga sampailah pada titik dimana listrik rumah kami tidak bisa menyala lagi. 

Perbaikan pun dilakukan. Alhamdulillah Tante yang suaminya seorang angkatan darat mengirim anak buah suaminya yang biasa menangani listrik di kantornya untuk mengecek instalasi kabel keseluruhan rumah dan mencari penyebab konslet lain saat saklar-saklar yang basah itu berhasil mereka keringkan dan perbaiki. Namun mereka  tidak menemukan sesuatu yang salah dengan instalasi kabel listrik dirumah. Saat itu hari kedua konslet, dan alhamdulillah listrik berhasil menyala lagi.

Keesokan harinya, listrik kembali mati di pagi hari. Saat itu seperti biasa hanya mama, aku dan anak-anak yang berada di rumah. Anak-anak pun tak terlalu mengeluhkan listrik yang padam itu, karena hujan mengguyur Jakarta seharian itu dan membuat mereka berdua tenang karena sejuknya udara di siang hari. Sialnya, hujan itulah yang menyebabkan saklar-saklar kembali basah.

Hepri pun pulang lebih awal dan mengajak temannya yang kebetulan juga bekerja di bagian pemasangan listrik untuk mengecek listrik di rumah. Hepri, temannya dan Papa yang baru kembali pulang agak malam karena menengok karyawannya yang menjadi korban kebanjiran, membetulkan saklar hingga memanggil petugas PLN. Petugas PLN datang, mengganti MCB (saklar listrik utama di setiap rumah), dan kembali pulang. Namun listrk belum juga menyala saat itu.

Hingga akhirnya masuklah seorang tetangga yang berteriak, "Ada asap dibelakang!". Aku yang waktu itu tidur pun terbangun karena mendengar teriakannya dan langsung berlari mengikuti Hepri dan Papa ke belakang. Saat kami membuka pintu belakang, asap sudah sangat tebal. Aku hanya bisa beristighfar. 

Aku berharap ini hanya mimpi.

Papa mendobrak pintu gudang tempat asap itu berasal, kebetulan di dalam gudang itu terdapat fire extinguisher. Papa segera menyemprotkannya ke dalam gudang, asap sempat hilang sejenak. Namun ternyata api tak mau berhenti disitu, tanpa kami sadari ternyata asal api ada di langit-langit gudang. Hepri pun berteriak, "Anak-anak! Bawa mereka keluar!"

Aku pun berlari ke kamar depan, kamar tempat anak-anak ku tidur. aku segera membangunkan mereka dan menggendong keduanya sekaligus. Kebetulan saat itu mobil papa terparkir di luar rumah, dengan keadaan pintu yang tidak dikunci. Aku pun segera memasukkan anak-anakku ke dalam mobil. "Sayang, dengerin mama. Kakak sama Abang tunggu disini sebentar ya, mama mau ambil barang-barang di dalem. Jangan nangis, mama pasti balik lagi kok." Aku berusaha setenang mungkin didepan mereka, aku harus tenang jika mau anal-anak ku juga tenang kan? Aku pun menutup pintu mobil, meninggalkan mereka berdua di dalam mobil, Alhamdulillah mereka berdua saat itu sangat tenang dan sama sekali tidak menangis sedikitpun. Lalu akupun kembali ke dalam rumah, menyelamatkan segala yang bisa diselamatkan.

Aku melihat Hepri keluar menenteng iMacnya dan kembali ke dalam untuk membawa harddisk-harddisknya. Semua barang-barang itu memang harus ia selamatkan pertama kali, karena di dalam iMac dan Harddisknya terdapat data-data foto maupun video klien yang tidak akan pernah ada gantinya jika sampai rusak.

Aku masih berharap ini hanya mimpi.

Keadaan rumah saat itu sudah sangat amat chaos. Sudah banyak tetangga yang masuk, banyak diantaranya yang wajahnya pun belum pernah aku lihat sebelumnya sudah berada di dalam rumah mengangkut barang-barang elektronik yang bisa diselamatkan. "Ayo angkut-angkut TVnya!"kata seorang pemuda kepada kedua temannya. Mereka pun menganggkut TV yang berada di ruang keluarga, akupun turut membantu menyopot kabel-kabel yang menempel di TV itu. "Terima kasih ya Mas, maaf merepotkan"Hanya itu yang bisa aku katakan. Akupun pasrah seandainya mereka hendak mengambil TV itu, memang apalagi yang bisa aku lakukan? Saat itu aku masih melihat papa berada di belakang, menuang air-air dari galon aqua untuk mematikan api yang masih menyala di gudang. Kebetulan sumber air di rumah kami hanya berasala dari pompa listrik. Jadi saat itu kami kesulitan mencari air untuk memadamkan api. Terlebih lagi, bangunan antar rumah dipisah oleh dinding yang tinggi. dan selokan air d depan rumah pun dalam keadaam kering karena rumah kami memiliki peresapan air di bawah tanahnya. Jadi saat itu kami sangat sulit mendapatkan air.

Keadaan sangat ramai dan riuh oleh kepanikan semua orang. Teriakan-teriakan sambung menyambung. "pemadam, panggil pemadam!, "Air mana nih air!", "Kebakaran, kebakaran!". Asap semakin tebal. Akupun langsung berinisiatif menggeret cabinet plastik yang berisi baju anak-anak ke luar rumah. Meja TV yang berpintu kaca didorong keluar rumah, kaca peca pecah berseraka. sofa-sofa didorong keluar rumah. Meja makan dengan berbagai amcam gelas dan piring dan makanan digotong ramai-ramai keluar rumah. Beberapa piring pecah, "Gapapa-gapapa, terima kasih banyak ya. Maaf merepotkan." hanya itu kata-kata yang bisa aku ucapkan.

Akupun kembali kedalam mengambil sweater yang basah. sweater itu tadinya berada di keranjang cucian kotor, sweater milik Hepri yang ia gunakan dan terkena hujan. Hanya itu sweater yang bisa kua ambil dan kugunakan. Tidak ada waktu untuk mengambil kerudung. Akupun menggunakan capuchon di sweater itu untuk menutupi rambutku. Akupun keluar rumah dan melihat mama menangis sambil menggendong rizqi, Rizqi saat itu hanya diam dan kelihatan kebingungan, mungkin ia belum mengerti apa yang sedang terjadi. Akupun segera mengendong luna yang masih berada di dalam mobil papa dan membawanya keluar. Akupun menjauh dari rumah bersama mama dan anak-anak. Mama terus menangis, kakak perempuanku, Mbak Dina sedang berusaha menelpon semua saudara danmengabarkan kejadian ini. Dan Hepri menggedor-gedor pagar gereja yang halaman parkirnya tepat berada di sebelah rumah. "Kebakaran, buka gerbangnya! BUKA!" Teriakannya sampai sekarang masih terus terekam dalam ingatanku. Sangat memilukan jika mengingatnya.

Mbak Dina berusaha menenangkan mama yang masih shock dan terus menangis. Mama baru saja dalam keadaan yang lebih baik setelah struk tahun lalu menyerangnya, kebakaran ini membuat kami semua khawatir akan membuat keadaan mama menjadi drop. Aku bersama anak-anak dan Mama pun dibawa lebih jauh lagi dari depan rumah. Saat itu tanteku datang dan menyuruh ku menungu di mobilnya yang terparkir cukup jauh dari rumah. Sesampainya di mobil itu aku hanya menaruh anak-anakku dan menitipkannya ke mama untuk kemudian kembali untuk menengok ekadaan rumah.

Dengan sandal yang berlainan, karena rak sepatu pun sedah berantakan , aku berjalan kembali ke rumah. Aku melihat Addis perempuanku, Icha berdiri di pinggir jalan sambil memegang gitar kesayangannya. Matanya berkaca-kaca. Api berkobar semakin besar, sepertinya api telah merambat kali ini ke kamar pembantu yang terletak dirumah bagian samping. Kamar itu memang telah lama tak dipergunakan dan banyak sekali kardus-kardus yang berisi barang yang ditumpuk hingga menyentuh langit-langit. Mungkin itulah penyebab api membesar disana, api tersebut melahap semua barang yang bisa ia bakar. Api semakin besar, seperti ada yang sedang menyalakan api unggun di dalam rumah, dengan ketinggian api melebihi genteng rumah. Akupun berdiri di sebelah adikku dan hanya bisa menatap api yang berkobar-kobar itu. "Apinya makin gede mbak.." Saat itu pemadam kebakaran telah datang dari beberapa pemadam di Jakarta. Ada sekitar lima mobil yang terparkir hingga ke jalan terbesar di dekat rumah.

Waktu itu akhirnya aku pun sadar, bahwa ini adalah kenyataan. Cobaan dari Allah, sang pemilik alam semesta ini.

Sanak keluarga pun berdatangan. Pelukan dan ucapan sabar pun berhamburan. Saat itu aku tidak menangis, belum. Akupun memilih duduk di salah satu sofa yang tadinya terletak di ruang tamu, namun kini bergelakan begitu saja di pinggir jalan, seperti barang yang akan dibuang.Begitu banyak orang, begitu banyak perbincangan. Begitu banyak kasak-kusuk. Begitu banyak penonton, yang memang hanya datang untuk menonton tanpa berniat sedikitpun membantu. Mereka menonton, mereka menikmati kobaran api itu. Mereka tertawa, berpekulasi, tanpa tau apa yang terjadi sesungguhnya. Dalam hati kecilku pun aku berdoa, semoga mereka tidak akan pernah merasakan musibah kebakaran seperti ini.. Akhirnya akupun menangis. Segala sesuatu terjadi atas seizin Allah bukan? Allah pun tak akan pernah memberi cobaan di luar kesanggupan hambanya. 

Seseorang membawa masuk galah panjang yang akan diigunakan untuk membolongi langit-langit rumah. Mencegah masih timbulnya api yang mungkin bersembunyi di langit-langit. Akupun teringat koleksi novelku yang ada di rak buku di kamar depan. Aku tidak sempat menyelamatkannya tadi karena terlalu banyak, dan aku tidak menemukan apapun yang bisa kugunakan untuk membawa novel-novelku itu. Aku pung menghampiri salah seorang petugas pemadam yang sedang berkoordinasi dengan petugas pemadam yang lainnya di depan gerbang rumahku. Aku langsung mempertanyakan apakah keseluruhan rumah akan kembali disiram air untuk memastikan api benar-benar telah padam dan memohon kepada petugas itu untuk tidak menyiram rak buku di kamar depan, "Ada buku-buku saya pak disana, belum sempat saya selamatkan tadi.." Petugas itupun mencoba menenangkan dengan berkata bahwa kemungkinan rumah bagian depan tidak akan disiram lagi karena api sudah padam. Dan saat ini para petugas pemadam itu sekarang hanya mengecek keseluruhan rumah apakah masih ada bara-bara api yang tersisa. Akupun sangat lega dan segera mengucapkan terima kasih, banyak-banyak terima kasih. 

Api pun padam, polisi datang untuk mendata segala-sesuatunya. Orang-orang mesjid membantu mengangkat barang-banrang yang tergeletak di pinggir jalan untuk diamankan ke dalam mesjid yang hanya berjarak beberapa rumah dari rumah kami. Di depan garasi rumah yang sudah penuh dengan air pemadam berserakan segala akta kelahiran dan ijazah dan semua surat-surat penting yang kami miliki. Document keeper yang saat awal kebakaran sempat kucari di dalam rumah namun tak kutemukan ternyata telah berserakan di dalam genangan air itu. Icha pun mulai memungutinya satu persatu. Hepripun mengajakku masuk melihat kamar depan. satu-satunya kamar yang mungkin masih belum tersentuh api sama sekali. terlihat samar-samar keadaan rumah yang sudah penuh dengan jelaga. Sangat, sangat menyedihkan.. Akupun menatap rak bukuku dan bersyukur karena semua buku masih utuh dan tidak basah sama sekali, Hepri yang bergitu tau bahwa aku begitu menyayangi buku-buku itu kemudian mulai mencari sesuatu yang bisa digunakan untuk membawa buku-buku itu untuk turut serta diungsikan di mesjid.

Saudara yang terdekat, yang juga memiliki rumah paling dekat dari rumah kami. Keluarga Pakde Nyoman segera mengajak kami pulang ke rumahnya.Saat itu papa dan Hepri memilih untuk menginap di masjid dekat rumah, agar keesokan hari bisa dengan segera melihat keadaan rumah. Malam itu aku anak-anak dengan kakak dan adikku pun menginap di rumah Pakde yang tak jauh dari rumah kami.

Malam itu malam yang tidak akan pernah terlupakan seumur hidup. Malam itu malam yang membuatku sadar akan segala sesuatu memang telah ditentukan oleh-Nya. Malam itu kami sekeluarga mencoba menguatkan diri, berserah, pasrah dan yakin bahwa segala cobaan ini didatangakan dengan izin-Nya dan cobaan ini merupakan ujian untuk menaikkan kelas keimanan kami..

Insha Allah.. 

Aaaaamiiin ya Rabbal Alamiin..

You Might Also Like

0 komentar

Terima kasih sudah membaca Adriana Dian's Blog dan meninggalkan komentar disini. Silakan tinggalkan link blog lewat pilihan name/URL ya, jadi bisa aku kunjungi balik. Link hidup yang ada pada komentar akan langsung dihapus. Makaciiii❤︎❤︎❤︎