Happy Wedding Qitink Ochi!

on
Kamis, 10 Oktober 2013
Hola!
Assalamu'alaikum :)

Kepada salah satu sahabat saya jaman kuliah, 
Ali Akbar Hadikususma a.k.a Qitink dan istri tercintanya Rosyi Wahyuni a.k.a Ochi,
Adriana Dian dan Hepri Prasetio mengucapkan,

Happy Wedding, Wish you happily ever after!

Berikut snapshot dari acara pernikahan mereka yang diselenggarakan di salah satu gedung Depag di Jakarta Pusat dengan mnggunakan adat Makassar. 

Bagaimana rasanya pertama kali menggunakan KB IUD?

Holaaaaa :)
Assalamu'alaikum



Setelah lama nggak posting, akhirnya menemukan kembali semangat sharing pengalaman setelah baca beberapa komen di postingan Bagaimana Rasanya Menjadi Seorang ibu Muda? :) Terima kasih yang sudah komen, komen-komen yang menumbuhkan semangat untuk kembali posting! Yeah!

Oke, mari lanjut! :) Postingan kali ini mau cerita tentang pengalaman pertama menggunakan IUD :) Dua tahun yang lalu, tepatnya setelah melahirkan Rizky, aku langsung membulatkan tekad untuk menggunakan alat ber-KB. Karena dulu setelah melahirkan Luna aku nggak langsung memmbulatkan tekad untuk  KB, makanya kemudian muncul Rizky. Eheheee. 

Catatan khusus:
Desas desus tentang haramnya KB sempet ngebingungin aku sama suami awalnya, tapi kebetulan karena aku melahirkan di Rumah Sakit Islam, yang setiap ibu melahirkannya diberikan buku panduan berjudul 
"Tuntunan Islam Bagi Wanita Muslimah (Pada Masa Kehamilan, Kelahiran dan Menyusui)"
 Dan di dalam buku itu pada halaman 101-102 dijelaskan bahwa:

- Penjarakan kehamilan dapat dibenarkan sebagai kondisi darurat atas dasar kesehatan dan pendidikan dengan persetujuan suami istri atas pertimbangan dokter dan ahli agama.
- Yang diamaksud dalam kriteria darurat adalah:
a. Mengkhawatirkan keselamatan jiwa atau kesehatan ibu karena mengandung atau melahirkan, bila hal itu diketahui dengan pengamalan atau keterangan dokter yang dapat dipercaya sesuai firman allah dalam Q.S. Al Baqarah 195 dan Q.S An Nisa 29
b. Mengkhawatirkan keselamatan agama, akibat faktor-faktor  kesempitan penghidupan, seperti kekhawatiran akan terseret menerima hal-hal yang haram atau menjalankan atau melanggar larangan karena di dorong  oleh kepentingan anak-anak , sejalan dengan firman allah dlam Q.S Al Baqarah 185 dan Al Maidah 6. Serta mengkhawatirkan kesehatan atau pendidikan anak-anak bila jarak kelahiran terlalu rapat. Sesuai dengan salah satu Hadits hasan diriwayatkan Ahmad, Ibnu Majah dan Ibnu Abbas dan oleh Ibnu Majah dari Ubbadah "Jangan Bahayakan (dirimu) dan jangan membahayakan (orang lain) "

Dan bisa juga merujuk pada hasil googling berikut ini,

sumber: http://al-atsariyyah.com/hukum-program-keluarga-berencana.html
Alasan utama aku sendiri adalah memberikan jarak yang tepat diantara kehamilan dan kelahiran anak supaya bisa merawat,  menyusui, memberikan kasih sayang serta mendidik dengan maksimal dan sebaik-baiknya. :)

Oke lanjut! Dari awal emang aku udah mastiin pilihan aku untuk pake KB jenis IUD, karena mama dan ibu mertua aku pake itu juga, dan kurang yakin sama alat-alat KB yang lain. Contohnya, untuk kondom bakal lebih boros di biayanya, suntik KB? harus bolak-balik pertiga bulan atau enam bulan sekali, duh repot rasanya kalo mesti bolak-balik. Hehe. Ada susuk/implan juga ya, tapi rasanya serem sekali kalo ngebayangin mesti disayat kulitnya untuk masukin susuk tersebut (untuk keterangan lebih lengkap mengenai KB susuk/implan bisa dilihat disini). Dan ini sedikit info tentang IUD.


sumber: http://tips-sehat-keluarga-bunda.blogspot.com/2013/05/kelebihan-alat-kontrasepsi-iud-spiral.html


Akhirnya pun aku membulatkan tekad dan mengambil keputusan untuk emnggunakan KB jenis IUD. Nah, selanjutnya aku tanya-tanya dan cari-cari tempat masangnya nih.  Perkiraan aku, rumah sakit pasti bakalan jadi tempat paling mahal untuk pasang IUD ini, namanya ibu-ibu irit akhirnya aku cari-cari informasi biaya dulu di salah satu bidan yang kebetulan adalah ibunya temen kuliah aku. Dan ternyata di kliniknya untuk pasang KB IUD ini biayanya sebesar Rp. 450rb rupiah, dengan catatan IUD yang akan ditanamkan dalam rahim aku adalah IUD yang paling bagus dan paling mahal. Merknya Nova-T kalo nggak salah.

Biaya segitu cukup berat untuk aku ya saat itu, apalagi waktu itu suami baru mulai-mulai kerja. Baru ngerintis dari bawah banget kerjanya, dan gajinya setara UMR. Akhirnya waktu itu mama bantuin tanya ke salah satu temen mama yang kerja di puskesmas pemerintah, sebagai salah satu tenaga kesehatan disana. Dan dari temen mama itu, aku jadi tau, baru tau bahkan kalo pemerintah Jakarta itu menggratiskan pemasangan KB jenis apapun untuk seluruh warga jakarta. Gratisnya mulai dari kondom, suntik, susuk, spiral bahkan operasi tubektomi/pengikatan rahim. Namanya juga ibu-ibu denger kata gratisan ya, akhirnya aku mutusin untuk ber-KB di puskesmas Cempaka Putih, puskesmas pemerintah yang terdekat dari rumah sekaligus puskesmas tempat temennya mama bekerja. 

Akhirnya akupun memutuskan untuk kesana kurang lebih dua bulan setelah melahirkan Rizqi tepatnya saat menstruasi pertama kali setelah nifas. Kebetulan gedung puskesmas Cempaka Putih saat itu sedang di renov, dan untuk sementara mereka menyewa sebuah rumah untuk dijadikan puskesmas yang kebetulan letaknya ga terlalu jauh juga dari gedung sebenarnya. Syarat utama untuk mendapatkan pelayanan dan pengobatan gratis adalah membawa fotokopi KTP DKI Jakarta dan fotokopi Kartu Keluarga, syarat ini wajib dan kalo nggak dipenuhi makanya pengobatannya pun dikenakan biaya. Aku pun ngebawa fotokopi KTP dan KK aku ke loket utama untuk mendaftar tanpa dikenai biaya sedikitpun. Dan di puskesmas tersebut untuk imunisasi bayi dan pelayanan KB tidak diberlakukan antrian umum, jadi kita bisa langsung masuk ke dalam ruangan periksanya. Saat itu aku ke puskesmas ditemenin mama, karena suami aku kerja dan aku juga mesti bawa dua anak aku, Luna waktu itu masih satu tahun dan Rizqi baru beberapa bulan. Aku pun langsung masuk ke ruangan, dan mama nunggu diluar sama anak-anak aku, aku bener-bener ketakutan kalo tiba-tiba pas aku di dalem ruangan, Luna bakalan lari-lari jauh dari mama atau Rizqi bakal nangis kenceng-kenceng. Maaf selalu ngerepotin ya Mah :'(

Sesampainya di dalam ruangan, ruangan untuk pasien KB dan imunisasi bayi ini disatukan, hanya dipisah oleh sebuah sekat kayu pendek. Dan ruangannya cukup sempit, maklumlah ya karena mereka pun statusnya hanya 'mengungsi' dirumah tersebut. Awal masuk ke ruangan tersebut temennya mama ikut nemenin aku dulu, dia ngejelasin ke temannya yang merupakan Bidan yang bertugas disitu tentang keadaan aku yang saat itu bawa dua anak dan minta untuk lebih didahulukan kalo bisa. Agak curang ya.. Tapi waktu itu emang puskesmas masih sepi sekali dan sepertinya aku bener-bener pasien pertama disana. Kemudian aku segera diwawancara mengenai data pribadi oleh salah satu bidannya, data-datanya mencakup tentang biodata diri sendiri, keluarga, serta data terpenting adalah kapan terakhirkali berhubungan badan dengan suami. Setelah melegkapi data tersebut, aku disuruh memfotokopi data tersebut dan diberi map berwarna hijau. Alhamdulillah waktu itu temennya mama bantuin aku memfotokopikan dokumen tersebut, soalnya aku sendiri bingung dimana mau fotokopi karena aku asing dengan daerah itu. Sembari menunggu fotokopian Ibu-ibu peserta KB lainnya pun mulai banyak berdatangan. Satu ibu yang menarik perhatian aku adalah ibu-ibu yang saat itu sedang diwawancara persisi di depan aku.

Ibu Bidan  : Kapan terakhir kali berhubungan dengan suami?
Pasien KB : Saya belum berhubungan sama sekali bu setelah melahirkan.
Ibu Bidan  : Jangan bohong! (Bener-bener keras suaranya)
Pasien KB : Saya nggak bohong bu.
Ibu Bidan  : Jangan bohong ya Bu! (Makin keras suaranya)
Pasien KB : Sumpah demi Allah bu, kan saya yang ngalamin.
Ibu Bidan   : Kalo ibu bohong ibu tanggung sendiri akibatnya ya.

Begitulah, aku sendiripun bingung, apa si ibu bidan ini bisa mendeteksi kebohongan atau gimana ya. Sampe nggak percaya sama sekali sama Ibu tersebut. Padahal Ibu pasien KB tersebut bener-bener nggak ada tampang berbohong, mukanya polos, pakaiannya pun sederhana, mimik wajahnya datar dan ga banyak ngomong kalo ditanya. Setelah kejadian itu aku jadi ketakutan sendiri, wah aku mesti lebih ramah dan jaga omongan nih abis ini, kalo nggak gitu mungkin aku juga bakal dibentak di depan banyak orang.

Kemudian dokumen aku yang udah di fotokopipun dateng dan aku segera dipanggil. Akupun segera mendatangi bidan yang memanggil aku tersebut. Disitu aku baru sadar, kalo tempat tidur kelak aku bakal dipasangi KB dengan keadaan setengah telanjang tidak ada tirainya sama sekali dan berada di belakang Ibu Bidan tersebut, alias di ruangan yang sama dengan ruangan interview tadi, alias di tempat terbuka dimana aku bisa dilihat oleh banyak. Aduh! 

Sebelum naik ke tempat tidur, aku terlebih dahulu disuruh untuk ke kamar mandi untuk pipis dan cuci-cuci. Setelahnya, aku pun segera mendatangi ibu bidan yang akan memasangkan IUD tersebut. Dan aku pun disuruh buka celana di pojok dekat tempat tidur tersebut. Untungnya ada salah seorang mahasiswi akper yang mau megangin selimut untuk menutupi aku yang lagi buka celana tersebut. Karena agak malu dan takut diliatin banyak orang, aku buka celananya pun pelan-pelan (bego banget ya aku waktu itu pake celana) Dan akhirnya pun aku dibentak oleh Ibu Bidan, "Buka celananya lama amat sih Bu!!"Cukup nyesek ya akhirnya dapet bentakan juga dari ibu bidan tersebut, atas nama penghematan biaya pemasangan IUD tersebut akupun ikhlas menerima bentakan tersebut :') 

Selanjutnya akupun berbaring di tempat tidur khusus itu dimana terdapat penyangga kaki supaya aku bisa membuka kakiku lebar-lebar. Sayangnya saat itu nggak ada lagi mahasiswi Akper yang megangin selimut, jadi aku pun cuma naro selimut itu di atas badan aku dan nutupin sebisanya. Saat itu aku sadar, aku mulai jadi pusat perhatian. Saat itu lebih banyak pasien KB yang dateng kesana untuk menggunakan suntik KB dan posisi penyuntikannya di sebuah temat duduk yang mungkin cuma berjarak lima langkah dari tempat pembaringan aku.  San jarang sekali yang memilih IUD ya, mungkin karena terlalu horor cara memasangnya. Saat itu akupun mulai deg-degan sendiri. 

Sebelumnya, bisa diliat dulu ya salah satu video di youtube tentang pemasangan IUD ini, (Lumayan. Agak. Ngilu. )



Lanjut! Dari atas tempat tidur, aku ngeliat si Ibu bidan mensterilkan peralatannya dengan menggunakan api, peralatannya dibakar kurang lebih 30 detik hingga 1 menit. Mulai horor nih, dalam pikiran aku, wah ni Ibu mau debus ya pake-pake api segala. Sesudah steril dan didinginkan, Ibu Bidan tersebut mulai memasangkan kertas tisu di bawah badan aku, dan mulai mengambil salah satu alatnya yang bernama cocor bebek. Dan beliau mulai memanggil beberapa mahasiswi Akper agar mereka ngeliat caranya Ibu Bidan ini menanamkan IUD di rahim aku. Resmilah aku jadi tontonan langsung :") Speechless!

Kira-kira beginilah bentuk dari alat cocor bebek.

Jadi mulutnya si cocor bebek tersebut dimasukin ke dalam vagina kita (Duh, nulisnya ngilu!) kemudian dibuka dengan cara diputar ya tujuannya untuk melebarkan lubang vagina yang kelak akan ditanami oleh IUD. Dan horornya adalah pas diputer itu puteran cocor bebeknya bunyinya "Krek krek krek" Ngiluuuuuuuuuuuu rasanya dan dengernya :"| Kemudian Ibu Bidan ngambil sesuatu lagi dan kemudian ga sampe 3 menit, Ibu bidan bilang, "Selesai."

Saking cepetnya aku sampe nggak percaya, karena memang saat Ibu Bidan masukin IUDnya ga berasa apa-apa sama sekali, tusukan-tusukan pun nggak. Mungkin karena saat itu aku sedang hari haid ke lima, sesuai dengan waktu tepat yang disarankan bidan untuk pemasanangan IUD jadi rasanya nggak sakit sama sekali. Karena katanya saat itu jalur vagina kita sedang merenggang dan membuka lebar.

Akhirnya sebelum Ibu Bidan marah karena aku kelamaan akupun segera turun dari tempat tidur dan kembali mengenakan celana kau lagi. Kemudian Ibu bidan pun menjelaskan jika aku tidak boleh berhubungan dulu dengan suami selama seminggu kedepan dan diharuskan untuk kembali kontrol seminggu kemudian. Setelah mengucapkan banyak terima kasih akhirnya kaupun meninggalkan ruangan tersebut. Leganyaaaaaaaa! 

Apakah cerita panjang ini berakhir samapai disini? Belum belum. masih ada bagian menarik! Seminggu kemudian aku balik kesana. kali ini tanpa minta ditemenin temennya mama, nggak enak ngerepotin terus. Hehe. Aku pun kembali dibaringkan dan diperiksa dengan cocor bebek untuk dilihat posisinya. yang kali ini ga begitu horor ya karena udah tau situasinya. Hehe. Dan alhamdulillah hasilnya bagus, karena aku nurutin nasihatnya Ibu Bidan. Hihihii

Dua atau tiga bulan kemudian, menstruasi aku semacam tersendat-sendat. Jadi nggak lancar kaya biasanya, dan aku jadi parno sendiri karena takutnya aku udah 'isi' lagi. Akhirnya akupun memutuskan untuk memeriksakan IUD ini ke RS OMNI yang terdekat dari rumah. Dengan pertimbangan di OMNI ini ada alat USG yang bisa melihat langsung ke dalam perut aku. Super deg-degan sebelum ketemu Obgynnya takutnya aku bener-bener divonis hamil lagi. Setelah masuk dan konsultasi, dengan pelayanan dokternya yang ramah banget banget banget, ternyata alhamdulillah kata dokter keadaan seperti itu (menstruasi yang tidak lancar dan hanya keluar flek-flek saja) memang normal untuk wnaita yang menggunakan IUD. Untu lebih yakinnya pun aku menjalani USG dan Alhamdulillah lagi, dokternya bilang kalo posisi IUD aku bagus yang berarti Ibu Bidan yang waktu itu memasangkannya, sudah sangat senior dan mahir sekali.  Walaupun Bu Dokter pun sempet berbincang sama aku dan dan mengingatkan aku, kalo sebenernya dengan menggunakan KB apapun, bahkan pengikatan rahim sekalipun, kita tetep bisa hamil lagi kok, nggak ada yang benar-benar 100% menstop kehamilan kita. Karena semuanya datang dari Allah dengan seizinnya kan. Ibu Dokter ini bijak sekali. :'))

Akhirnyaaaa, sampai juga kita di ujung postingan. Bersama postingan ini sayan ingin mengucapkan terima kasihbanyak sekali kepada Mama tersayang yang selalu setia nemenin aku kemana aja. Makasih banyak ya MAh :') Kepada temennya mama,Ibu Sadeli yang udah repot mengurusi aku pertama kali di puskesmas :) Ibu Bidan senior yang kemahirannya tidak diragukan lagi waktu memasangkan saya IUD (Maaf saya tidak sempat berkenalan secara langsung). Ibu Dokter Obgyn di OMNI Pulomas yang aku lupa namanya tapi yang  pasti beliau ini ramah sekali :') dan untuk pemerintah Jakarta yang sudah memberikan dana kesehatan untuk mendukung program KB :) Semuanya terima kasih banyaaaak, semoga Allah memebalas kebaikan semuanya dengan balasan yang setimpal. Aaaaamin YRA.

Kesimpulannya, mungkin efek puskesmas yang fasilitasnya saat itu minimun dikarenakan sedang direnov ngebuat aku horor sendiri ya saat pasang IUDnya. Tapi pemasangan IUD ini sendiri sebenernya cukup cepat sekali dan ga berasa apa-apa kok pas ditanamkannya (mungkin karena waktu itu hari sedang haid hari ke 5 juga). Pemakaiannya pun aman, aku nggak ngerasain sama sekali ada yang ngeganjel di rahim dalam berbagai aktivitas aku. ASI pun lancar alhamdulillah, akupun masih bisa beraktivitas normal. Angkat galon pun masih bisa :) Ehehe. Walaupun kabarnya IUD ini masa aktifnya hingga 5 tahun ke depan, tapi untuk amannya mungkin setiap tahun aku bakal memeriksakan posisi IUDnya ke dokter kandungan yang ada alat USGnya langsung. Jadi nggak perlu ketemu cocor bebek lagi :') Serem!

Oke, cukup sekian dulu postingan super panjang kali ini. Semoga bermanfaat dan berguna untuk ibu-ibu yang akan menggunakan KB. Kalo mau tanya-tanya boleh via comment box :) Insyaallah akan aku jawab secepatnya :)

Thank you for walking here Young Mother!
Wassalam :)

Custom Post Signature

Custom Post  Signature