Let Me Be Your Inspiration part.2 - Cerpen Cosmogirl! Januari 2013

07.52.00


“Jadi ini adiknya Kak Janis yang selama ini kakak ceritain ke aku? Dia kan satu sekolah sama aku kak.” Kata  Darren kepada Kak Janis.
“Loh kalian udah kenal? Bagus dong …” Omongan kak Janis saat itu terputus karena seseorang memanggilnya. “Eh, yaudah. Aku tinggal dulu ya. Seksi acara butuh bantuan. Selamat mendekor guys!” Kemudian Kak Janis pun meninggalkan mereka berdua. Dan Joan langsung merasa canggung saat itu juga.
"Jadi gimana giginya kemarin? Udah baikan?" Tanya Darren santai.
"Maksudnya?" Jawab Joan kaget.
"Kemaren, waktu lo balik itu. Gara-gara sakit gigi kan?"
"Ngga. Eh maksud gue, lo tau darimana?"
"Kemaren, pas kita tabrakan. Gue kira lo luka sampe nangis gitu. Makanya gue ngejer lo ke guru piket. Tapi katanya lo udah pulang gara-gara sakit gigi. Jangan-jangan lo kemaren cuma mau cabut aja ya?" Darren terlihat mencurigai Joan.
"Eggak… sepenuhnya bohong kok." Jawab joan sedikit ragu. Namun ia membenarkan alasan itu dalam hatinya karena memang ia merasa sakit kemarin. Sakit hati atas perlakuan Glamorous padanya.  Sedikit perasaan senang terselip karena ternyata kemarin Darren mengkawatirkannya.
Tiba-tiba kak Janis muncul di belakang mereka berdua." Jo, takutnya aku ada perlu apa-apa, jadi handphone kamu aktifin ya…” Setelah memberitahukan hal itu, Kak janis pun kembali ke pekerjaannya.

Joan dengan enggan mengambil ponsel dari dalam tas dan menyalakannya. seketika terdengar vibrate penanda banyaknya pesan dan telepon yang masuk. Joan membuka satu persatu kemudian menghela nafas panjang. Ia pun mengembalikan ponselnya ke dalam tas. Diam-diam Darren memperhatikan raut muka Joan yang mendadak murung.
"Jadi apa yang mesti kita kerjain?" Tanya joan sambil melirik sketsa dekor yang tengah dipegang darren.
"Jadi gini.." Belom mulai menjelaskan, omongannya sudah terputus oleh bunyi ponsel Joan.
"Sorry.." Joan pun segera mengambil ponselnya. Setelah melihat layar ponselnya. Mukanya mendadak kesal. Ia pun merejectnya, lalu meletakkan ponselnya di atas meja. "Jadi gimana?" Tanya Joan kepada Darren. Saat Darren belum mulai menjelaskan, kejadian yang serupa terulang lagi. Joan pun mereject kembali panggilan itu. Telepon itu masuk berulang kali dan berulang kali pula ia merejectnya.     
"Angkat dulu aja jo, gapapa kok."
"Ga penting kok."
"Glamorous ya? Kmrn waktu lo balik buru-buru, mereka juga ngejer lo Jo, sampe ke meja piket. Lo ada masalah ya sama mereka?"
Joan tiba-tiba merasa kaget dan terganggu dengan pertanyaan Darren. Cowok ini terlalu mau banyak tau. Tampang charming tapi KEPO! Rutuk Joan dalam hati. "Masalah yang terjadi antara Glamorous dan gue sebenarnya adalah…" Joan menghentikan sejenak ucapannya, dan menatap Darren dengan kesal. "Bukan urusan lo!"  
Kemudian setelah itu, Joan merubah mode ponselnya menjadi silent dan no vibrate. Dan meletakkannya kembali ke atas meja. Darren cukup kaget atas jawaban Joan tadi, rasa bersalah pun mulai menghinggapi dirinya. Joan pun mempersilakan Darren untuk melanjutkan penjelasannya tentang sketsa itu kembali. Keadaan seketika berubah menjadi canggung dan kaku. Telepon tak berhenti masuk saat Darren menjelaskan sketsa itu kepada Joan. Namun Joan mengacuhkannya. Sekilas Darren melihat layar ponsel Joan. Call from STRANGERS. Dengan foto Glamorous sebagai caller IDnya.
*****

Acara berlangsung sukses. Hari pun sudah hampir malam. Selesai membereskan panggung, Joan merasa lelah sekali. Tapi ia merasa gembira hari ini, rasanya seperti mencharge lagi semangatnya yang hilang. Setelah melihat tawa adik-adik panti dan merasakan indahnya berguna untuk sesama, Joan jadi merasa seperti terlahir kembali.
Ditengah lamunan dan senyumnya, Tiba-tiba Darren telah berada di belakangnya, menepuk pundaknya dan menyodorkan sebuah kaleng softdrink. Joan menyelidik tatapan Darren, apakah rasa keingin tahuan yang terlalu besar masih merajainya saat itu. Kemudian ia mengambil softdrink itu dari tangan Darren lalu membukanya dan meminumnya. "Thanks." Kata Joan.
"Never mind. Eh sebenernya.." Darren tampak bingung bagainmana ia harus melanjutkan kalimatnya.
"Soal tadi.." Kata-kata itu terlempar dari mulut mereka berdua bersamaan.
"Biar gue dulu Jo, gue minta maaf. Emang ngga seharusnya gue mau tau terlalu banyak. Gue cuma ngekhawatirin keadaan lo aja sebenernya. Sorry.."
Ngekhawatirin? Tanya joan dalam hati. "That's ok, gue juga mau bilang maaf soal tadi. Enggak seharusnya gue bentak-bentak lo. Sorry ya.." Joan menatap Darren yang berada di sampingnya.
"Eh gimana kalo gue traktir lo makan, sebagai permintaan maaf gue. Sekalian nanti gue anter lo balik.. Mau ya?" Tanya Darren dengan senyum termanisnya yang biasanya hanya Joan kagumi dari jauh saat berada di sekolah.
"I think... I can't. Sorry. Gue tadi kemari sepedaan sama kak Janis. Gue mesti balik bareng dia. So sorry dude.."
"Joan!" Kak janis muncul dari jauh, mendatangi joan sambil setengah berlari. "Kamu balik duluan aja ya. Kakak masi ada meeting. Nih kunci apartemen. Masih apal jalannya kan? Ati-ati ya Jo!" Kemudian kak Janis kembali lagi ke dalam panti sambil berlari. Meninggalkan Joan dan Darren yang saling berpandangan.
Darren langsung mengambil langkah cepat. Melipat sepeda yang tadi Joan bawa dan memasukannya ke mobilnya. Kemudian ia membukakan pintu mobil, mempersilakan Joan masuk. Dengan sedikit kikuk Joan pun akhirnya menaiki mobil Darren.

*****

"Gimana enak kan?" Tanya darren.
"Banget. Makasi ya traktirannya." Joan mengunyah roti bakar keju coklat susu miliknya. Harus diakui bahwa ini memang salah satu roti bakar terenak yang pernah ia coba. Gerimis kecil memang sudah turun di tempat itu sejak tadi, sebuah warung tenda roti bakar tak jauh dari apartemen kakaknya. Tempat, suasana dan makanannya membuat Joan merasa nyaman. Suasana itu mendadak terpecah oleh suara ponsel Joan yang berdering menandakan pesan masuk. Joan pun mengambil ponselnya dan membacanya. Sekilas ia membacanya, menghela nafas pelan dan melemparkan lagi ponselnya ke dalam tasnya.
"Eh, disini ada satu hal lagi yang ngga kalah asik. Bentar yah." Darren segera beranjak dari tempat duduknya meninggalkan Joan sendiri disana. Joan bingung, namun kemudian ia memilih untuk meneruskan  menghabiskan roti bakarnya dan meminum  susu jahenya. Hingga ia tak menyadari kedatangan Darren di depannya, bersama seorang pengamen bergitar yang sebaya dengannya.
"Hi jo, this is for you.." Pengamen itupun mulai memainkan gitarnya. Dan Darren pun mulai bernyanyi untuk Joan. Sebuah lagu dari Bob Marley. "Don't worry, 'bout a thing.. Cause every little thing. Is gonna be alright.." Suaranya bagus, tapi gayanya dalam menyanyikan itu terlalu berlebihan dan enggak banget menurut Joan. Semua orang di tempat itu memperhatikan Darren, dan menjadikannya sebagai sarana hiburan malam itu. Beberapa orang pun turut asik dalam lagunya dan ikut bertepuk tangan. Joan bingung, apakah ia harus senang atau malu. Tapi wajah Darren yang terlihat sangat PD itu, memunculkan tawanya. Pertunjukkan pun usai. Lagaknya seorang artis, Darren membungkukkan badannya di hadapan semua orang. Ia pun kembali duduk. Orang-orang dibelakangnya masih sedikit riuh atas penampilannya barusan. "Gimana? Oke gak?" Tanya Darren.
"I'm... Speechless.. Balik yuk, malu nih.." Sambil menahan tawa Joan pun mengambil tasnya dan segera menuju ke parkiran. Disana ia tertawa terbahak-bahak.
"Hei, segitu anehnya kah gue?" Darren yang terengah karena berlari mengejarnya, masih penasaran atas pendapat Joan tentang aksinya tadi. Darren pun segera membuka pintu dan mempersilakan Joan masuk. Di dalam mobil Joan masih belum bisa menghentikan tawanya. Dan Darren terus memperhatikannya dengan bingung.
"Thanks Darr thats mean so much for me." Joan mengucapkan itu sambil menghapus air mata yang sedikit merembes keluar dari ujung matanya.
"Hei, are you okay..?" Darren memegang pundak Joan.
"Yap, I think I'm just tired with yesterday. Dan lo dateng ngehibur gue dengan cara yang ngga biasa, and I really-really appreciate it. Thanks.."
"Gue seneng lo bisa merasa terhibur malem ini.. Tenang Jo. Semua pasti bakal baik-baik lagi kok.." Darren pun kemudian menjalankan mobilnya ke apartemen kak Janis, mengantarkan Joan pulang.
Joan tengah bersiap tidur ketika mendadak ponselnya berbunyi. Telepon dari Darren. Besok Darren akan menjemputnya untuk berangkat bersama. Sesudah mengucapkan selamat malam dan selamat tidur, saat Darren hendak mematikan teleponnya, mendadak Joan menghentikannya. Tiba-tiba ia merasa perlu meminta pendapat Darren atas apa yang terjadi antara dirinya dan Glamorous. Dan Joan pun menceritakan semuanya kepada Darren.

*****

Joan sudah rapi dengan seragam olahraganya dan telah berdiri selama 15 menit di lobby apartemen. Mendadak Darren datang, sambil berlari terengah-engah. "Jo, sorry banget, mobil gue mendadak mogok. Kita naik taksi aja yuk." Darren segera menarik Joan pergi dari situ.
Joan yang bingung, mendadak mendapatkan sebuah ide bagus. "Tunggu deh Darr, Mendingan lo ikut gue sekarang…” Tiba-tiba Joan menarik tangan Darren dan mengajaknya berlari menuju tempat peminjaman sepeda. "Kita naik ini aja.." Senyuman ceria mandadak menghiasi wajah Joan. Mengingat sebentar lagi bel masuk berbunyi, Darren merasa tak ada pilihan lain, ia pun mengikuti saran Joan tersebut.
Pintu gerbang sekolah hampir ditutup tepat ketika Joan dan Darren tiba di sana. "Pak tunggu pak, belom telat kan kita. Masih kurang 30 detik nih." Kata Joan yang terengah-engah sambil melirik jam di tangannya.
"Iya pak, bukain dong pak. Please pak, ntar rokok sebungkus deh pak." Sahut Darren merayu satpam sekolah itu.
"Ehem." Mendadak Pak Kepala Sekolah muncul dibelakang satpam sekolah itu. "Ayo cepat masuk, besok lebih pagi lagi ya." Sahut Pak Kepala Sekolah tegas.
Joan dan Darren buru-buru mengayuh sepedanya sambil tak lupa mengucapkan terima kasih kepada Bapak Kepala Sekolah itu.

*****

Istirahat siang, Joan baru saja akan melarikan diri ke perpustakaan sekolah. Sebelum sebuah suara yang begitu dikenalnya menghentikannya.
"Joan, gigi lo udah baikan? Ya ampun kenapa kemaren pergi gitu aja jo.. Kita kan khawatir.."
"Kemarin kita tuh sampe nyamperin ke rumah lo jo. Tapi kata si bibi, lo ga dirumah. Lo ngebuat kita bingung deh.."
"Yaudah gapapalah, yang penting lo udah baikan kan jo. Ke kantin bareng yuk.." Anne hendak menggenggam tangan Joan sebelum Joan memilih mundur selangkah dr mereka.
"Sorry guys, enough for fake friendshipnya. And thanks for everything ya.." Joan pun berbalik arah dan meninggalkan mereka.
Namun Bian dan yang lainnya segera mengejarnya dan menarik tangan Joan. "Maksud lo apa Jo?"
Sebelum Joan sempat berbicara mendadak Darren muncul dibelakang mereka. "Sorry girls, bisa minggir bentar. Gue mau nyulik my girl dulu, buat makan bereng.. Permisi ya.." Mendadak Darren menarik lengan Joan dan membawanya pergi dari situ. Meninggalkan Glamorous yang terkejut atas kedekatan Joan yang tiba-tiba dengan the most charming guy di sekolah itu.
"Thank you ya Darr. Untung lo lewat sana tadi. Yaudah gue mau ke kantin dulu ya.."
"Gue emang mau ngajak lo ke kantin bareng kok..." Darren pun menggengam tangan Joan dan menariknya untuk ke kantin bersamanya.
"Darren!" Seseorang tiba-tiba berlari menghampiri mereka saat itu.
"Eh Ky, kenapa?"
"Lo dipanggil ke ruang kepsek. Sama cewek disebelah lo juga. Sekarang ya.." Dan Eky sang ketua osis pun segera pergi dari sana. Meninggalkan Joan dan Darren yang saling berpandang-pandangan antara takut dan penasaran.
*****

Seminggu kemudian..
Darren dan Joan sedang berdiri di lantai 2 sekolah, memperhatikan anak-anak yang memasuki sekolah dengan sepedanya. Ya, sejak minggu ini Kepala Sekolah menetapkan bahwa setiap Senin adalah hari ramah lingkungan. Dimana hanya sepeda yang diperbolehkan masuk ke halaman sekolah, itu berarti para siswa tidak diperkenankan menaiki mobil atau motor pribadinya. Seminggu yg lalu juga, Pak Kepala Sekolah memanggil mereka berdua untuk meminta mereka menjadi duta ramah lingkungan disekolahnya. Pak Kepala Sekolah berkata bahwa mereka berdua telah menginspirasinya untuk membuat ide sehari ramah lingkungan di sekolahnya. Dan kini Darren dan Joan sedang memeperhatikan pemandangan itu dari lantai dua gedung sekolahnya.
Finally, you be the inspiration..” Kata Darren sambil menatap Joan.
“Iya.. Nggak nyangka yah. Ternyata menjadi inspirasi itu harus berawal dari hal yang positive terlebih dulu. Menjadi sebuah inspirasi gak melulu tentang melakukan sebuah hal yang beda, but you must do something positive first. Iya kan?” Joan menatap Darren dan tersenyum padanya.
And don’t forget just be yourself..” Darren pun tersenyum kepada Joan.
Of course..” Joan pun tersenyum kepada Darren dan kembali memperhatikan segerobol anak yang memasuki halaman sekolah menggunakan sepedanya.
Hei Jo, do you want to be my inspiration?”
How?” Joan bertanya kembali pada Darren, dengan wajah keheranan.
Just be my girlfriend…” Darren pun tersenyum dan menggenggam tangan joan perlahan. Dan Joan tidak menolak hal itu, tangan Darren begitu hangat hingga menjalar ke dalam hatinya. Hari ini memang penuh dengan ispirasi.. Joan tersenyum dalam diam, dan menggenggam tangan Darren semakin erat.

Selesai

You Might Also Like

0 komentar

Terima kasih sudah membaca Adriana Dian's Blog dan meninggalkan komentar disini. Silakan tinggalkan link blog lewat pilihan name/URL ya, jadi bisa aku kunjungi balik. Link hidup yang ada pada komentar akan langsung dihapus. Makaciiii❤︎❤︎❤︎